Stories and Sh*t

Thursday, April 18, 2019

Ini dan Itu part 1




Semua orang memiliki keraguan. Beberapa menyangkalnya, beberapa terlalu melebihkannya, namun… semua orang punya. Ada yang mengabaikannya, menjaga hatinya pada semua yang pasti. Ada yang menantangnya, memasuki pertempuran dalam sebuah pencarian kepastian. Memastikan ia hilang selamanya, dan menjadikan keyakinan itu lebih kuat dari sebelumnya.

Rio, ragu untuk saat ini. ia sudah berulang kali menahan sore dengan perut keroncongan. Tak tertahan pula bagaimana letihnya perjalanan pulang kampus dengan berjalan kaki. Rumah  kosnya cukup jauh, lokasi kampus sendiri sangat besar sehingga untuk keluar pelatarannya saja memakan waktu 10 hingga 15 menit. Belum lagi berjalan menuju kos dengan jalan berdebu tanpa trotoar, di saat terik.

Ia menggenggam uang receh. Seratus, dua ratus, dan lima ratus-an rupiah. Jumlahnya kira-kira tujuh ribu rupiah. Sudah ia rapikan dengan selotip, dan di atur per seribu rupiah. 3 ribu untuk uang seratusan rupiah, seribu untuk uang dua ratusan rupiah, dan tiga ribu untuk uang lima ratusan rupiah. Pas tujuh ribu. Namun ia ragu.

Share:

Sunday, February 24, 2019

MEI



MEI

Jarak antara kota Palembang dan Jambi adalah 275 km. Namun itu hanya antar perbatasannya saja. Untuk mencapai tujuan masing-masing tempat di dalam kota, setidaknya kita harus menempuh 290 km. Ya, 290 km.

Jika kita melaju dengan kendaraan berkecepatan rata-rata 60 km/ jam, kita setidaknya akan sampai dalam waktu 4,83 jam. Oke bulatkan saja 5 jam. Jika mengambil waktu istirahat sekiranya 1 jam, maka kita akan sampai dalam waktu 6 jam. Belum lagi hal lain.

Hal lain? Ya, hal lain. Seperti jalan yang rusak. Saat ini, jalan rusak pada rute lintas sumatera Palembang-Jambi mungkin sudah mencapai puncaknya. Membuat pengendara harus senantiasa berhati-hati karna nyawa taruhannya. Mau tidak mau, kecepatan rata-rata harus berkurang karena terkadang… bukan, bukan terkadang, namun sering kali kita memelankan laju kendaraan secara tiba-tiba karna lubang besar yang mengerikan. Belum lagi masalah lanjutan yang mengikuti jalan rusak ini. Macet, juga kecelakaan lalu lintas. Oke… kita minimalkan saja, anggaplah bertambah 2 jam karena semerawutnya masalah jalan rusak ini. Kini, waktu tempuh menjadi 8 jam.

Apakah ada hal lain lagi? ya… cuaca. Terkadang cerah memang… namun kasusnya dalam cerita ini begitu berbeda. Lebih dari 200 km harus ditempuh dengan hujan lebat, gemuruh, angin, dan petir menyambar. Jarak pandang berkurang… terkadang hanya 10 meter ke depan walau sudah menggunakan lampu tembak. Jalan yang tergenangpun membuat sulit menerka dimana letak lubang besar itu? sesekali roda harus tergoyah sedikit… termasuk kedalam lubang. kini dengan sangat terpaksa harus memelankan laju kendaraan lagi lebih dari sebelumnya, begitu pelan hingga tak sampai 40 km/ jam. Sepanjang perjalanan hanya Tuhan dan kata-kata baik yang kita ingat. Waktu tempuh? Sudah tak tau lagi. tidak usah dihitung… yang penting sampai tujuan dengan selamat, nanti dulu yang lain-lain.

Lalu, ada apa dengan Mei? Yang menjadi judul pada tulisan satu ini. Yang mengaku bahwa dirinya adalah sebuah “cerpen romansa”. Ya… ini adalah cerpen romansa, jika kau bisa melihat isinya. Jika tidak, ya sudahlah… biar aku terangkan saja.

Begini, ini adalah Februari, sudah di penghujungnya. Dan ini, adalah cerita tentangnya. Tentang dia yang bergerak menuju Mei. Mei… adalah tujuannya. Jauh memang, ada jarak antara mereka. Bukan hanya jarak karena bumi ini memiliki batasannya dalam satuan matematis, namun juga jarak-jarak lainnya.

Ada juga waktu yang mengekang untuk sampai dengan harus, dan benar-benar harus… tidak dapat dipungkiri, dihindari, atau dikecualikan, harus melewati Maret dan April. Bukan main… bukan satu atau dua, tapi 61 hari. Dengan waktu dalam hitungan jam yang bisa kau hitung sendiri. Kau pikir itu singkat? Sebentar? Maka kau belum mengerti romansa. Karena dalam cerita tentang cinta, satu detik… bisa selamanya.

Ada juga rintangan diantaranya, diantara jarak dan waktu… ada jalan berlobang, ada macet yang menghadang dan kecelakaan yang semoga saja bukan kita korbannya. Belum lagi panas atau hujan yang dua-duanya bisa sama-sama menorehkan keterlambatan, dan penundaan. Membuat kita yang lambat terkadang menyerah untuk bertanding. Ambil jalan pintas saja… naik pesawat kan bisa? Mahal… dan tanpa perjuangan. Hanya mengadu pada nasib, jika di ridhoi Tuhan maka sampailah. Jika tidak, maka sampai juga, tapi ke alam baka. Dan tidak, itu tidak akan menyelesaikan masalah… karna hanya memangkas jarak, bukan waktu. Hanya jarak bentuk fisik pula, bukan jarak-jarak lainnya yang mungkin lebih penting.

Apalah daya Februari, yang bahkan tak pernah kenal hari ke 30. Apa daya?

Namun begitu, seberapapun jarak yang harus ditempuh… Seberapapun lama waktu yang dibutuhkan… dan seberat apapun rintangan yang ada diantara keduanya. Toh… pada akhirnya, Februari akan sampai pada Mei juga.

Share:

Monday, January 14, 2019

APA IYA?


APA IYA?



Saya tinggal terpisah dari keluarga saya sudah sejak waktu yang lama dan untuk banyak alasan tertentu. Tahun 2013, keluarga saya pindah ke tempat dimana jangankan sinyal internet, sinyal untuk telfon saja harus mencari spot yang bagus supaya bisa bicara dengan nyaman dan tanpa terputus-putus. Lebaran tahun 2013 adalah pertama kalinya saya mudik kesana, dan saya benar-benar stress memikirkan bagaimana saya harus menjauh dari internet untuk sementara waktu. Apa yang harus saya lakukan disana nanti dan bagaimana saya bisa menghabiskan kebosanan jika hanya ada televisi dan… suara-suara nyamang (sejenis monyet).

Saya benar-benar stress dan mulai mencari bagaimana cara membuat hotspot portable dengan sebatang modem murah dan baskom plastik bekas. Iya. dan itu ada.

Padahal, saat saya stress dan memikirkan hal itu, saya masih menggenggam hp, berhadapan dengan laptop, dan memiliki koneksi internet. Kok ya saya sempet-sempetnya stress ya, buat apa? Apa iya hidup tanpa internet sementara waktu akan membuat saya stress? Lebih stress dari saat ini? saat saya memikirkan bahwa saya akan stress? Lucu.
 
You know what? Kalo Anda sudah terbiasa bermain medsos setiap hari dan mendapat begitu banyak informasi, lalu Anda beralih ke tempat jangankan untuk bermain media sosial, bermain tetris di hp pun tidak, maka Anda akan dilanda kebosanan yang luar biasa. Itu pasti. Saya juga demikian. Setidaknya untuk beberapa waktu.

Tapi poin pentingnya, saya tidak stress. It suck. Jelas. Bosan… jelas. Rindu kota? Iya. Tapi apakah saya stress? Tidak.

Ternyata hanya dengan mengakui bahwa sesuatu tidak menyenangkan dan tidak kita sukai, kita tidak akan dilanda pikiran yang macam-macam. Apa lagi stress. Dengan begini saya sedikitnya mengerti, bahwa bukan kesulitan yang banyak membunuh karakter saya atau mungkin juga Anda, tapi kecemasan akan kesulitan tersebut.

Selalu tanyakan pada diri Anda, apa iya?

Seorang pelajar mendatangi guru BK kesayangannya dan mengadu tentang bagaimana orang tuanya memiliki ambisi yang besar padanya, padahal dia sendiri tidak yakin pada dirinya. Pelajar itu, memiliki pandangan yang berbeda tentang masa depannya. Ia ingin menjadi ini dan itu, banyak sekali ceritanya, selayaknya remaja usia 17-an.

Kisah keluh kesahnya berlanjut hingga berminggu-minggu lamanya. Tentang ia yang merasa tertekan akan sikap orang tuanya, tentang teman-temannya yang sudah mulai mengejar mimpi mereka masing-masing, dan tentang dia yang masih terbelenggu belajar untuk sesuatu yang menurutnya tidak disukainya sama sekali.

Kemudian guru BK itu bertanya, dia ingin jadi apa?
Dia menjawab, ingin menjadi artis. Minimal, youtuber.

I know right?hmmmmmm…

Yang jadi masalah disini bukan cita-cita si pelajar, tapi bagaimana dia memandang keinginannya tersebut. Apa iya dia ingin jadi youtuber? Atau dia ingin jadi seperti seseorang yang sering ia tonton di youtube? Karna faktanya, sebenarnya nilai pelajar tersebut sangat baik dalam biang akademis. Akan sangat wajar jika orang tuanya berharap padanya. Sungguh. Dia bisa terbilang jenius.

Selidik punya selidik, ternyata sebenarnya si pelajar bukan ingin jadi youtuber atau yang lainnya. Ia hanya takut gagal. Setelah semua keberhasilan selama ini, ia takut jika suatu saat ada nilai jelek, atau ia tak masuk perguruan tinggi favorite, atau ia tak lulus Ujian Nasional dengan nilai memuaskan, ia takut melihat reaksi orang-orang di sekitarnya. Dia cemas.

Padahal dengan semua kemampuan dan pengetahuannya selama ini, jikapun dia gagal, kegagalan itu tidak akan melemahkan dia. Justru akan memperkuat. Bayangkan… jika seorang hanya memiliki sedikit kelemahan di bidang tertentu dan akhirnya dia mengetahui kelemahan itu dan memperbaikinya. Maka ia akan makin kuat dan sukses di bidang tersebut.

Tidak terbayangkan jika kecemasan itu semakin mengambil alih kesadaran dan membunuh karakternya. Ia bahkan sampai lupa, bahwa sebenarnya ia suka belajar. Suka mencari tau hal baru, suka menyelesaikan masalah. Kemudian ia mulai mendapat nilai jelek secara sengaja, hanya agar orang terbiasa melihat ia memiliki nilai jelek, dan suatu saat jika ia gagal, orang-orang tidak akan kaget lagi. padahal dia bisa sukses.

Harusnya, ia terima saja apapun yang akan ia dapat kelak. Pertama, ia harus mengakui bahwa memang benar ia suka belajar dan memang benar dia suka berkerja keras kemudian mendapatkan nilai yang baik. Kedua, jangan pikirkan tentang hasil. Toh… sebenarnya dari awal dia memang suka mengerjakan soal matematika atau fisika yang njelimet, kerjakan saja. Ketiga, jangan lakukan untuk orang lain. Jika memang suka akui, jika tidak, katakan saja… tidak akan apa-apa.

Nah… untuk kasus si pelajar di atas, ini masalah kecemasan yang membuat ia teralihkan. Ia mulai fokus pada hal lain selain hal yang ia sukai. Ia fokus tentang bagaimana penilaian orang lain terhadapnya. Kemudian ia mencari pelarian, suatu alasan yang membuat ia menghindari resiko jika saja ia gagal suatu hari nanti. Kalau ada yang bertanya, “kok tumben nilaimu kecil?” . maka ia sudah menyiapkan jawaban… “iya karna sebenarnya bukan passion aku disitu.” Dengan seluruh upaya repotnya tadi. Padahal sebenarnya ia bisa bilang… “sekali-sekali gapapalah.” Atau saat ia tak lulus PTN favorite, ia masih bisa mencoba tahun depan. Atau masuk lewat jalur lainnya, atau masuk PTS favorite, atau masuk sekolah kedinasan, untuk otaknya… ada banyak opsi. Dan itu tidak apa-apa. Namun ia takut kegagalan itu… padahal sebenarnya, ia menyukai jika saja memang sukses di jalan tersebut. Jangan takut! lakukan saja... Jika gagal, terima dan move on.

Pernah dengar kisah katak tuli yang sukses mendaki? Kalau belum bacalah… di era kekejaman netizen seperti sekarang ini, kalian wajib membaca dongeng itu.

Tapi bagaimana jika ia benar bercita-cita menjadi youtuber?

Tentu itu tidak apa-apa. Ia harus mengatakanya. Tapi ingat sekali lagi, jika Anda berada pada posisi pelajar tersebut, selalu tanyakan pada diri Anda… Apa iya?

Karena semua jalan memiliki resikonya masing-masing. Jangan melihat hasil dan jangan menjadi orang lain. Jika memang ingin jadi youtuber, sudah siapkah jika Anda gagal di jalan tersebut? Membuat konten dengan budget jutaan rupiah dan hanya di tonton puluhan orang (misalnya). Jika Anda kembali memikirkan tentang bagaimana nanti pendapat orang lain jika saya tidak memiliki banyak view dan kapan saya bisa terkenal seperti bla… bla… bla… maka Anda perlu berhenti sejenak dan berfikir ulang tentang goal anda sebenarnya, apa iya ini jalan yang Anda inginkan? Atau hanya sekedar pelarian? Atau hanya ingin seperti si anu?

Gary Vay-Ner-Chuk, seorang entrepreneur, investor, dan salah satu influencer dengan jutaan follower pernah mengatakan yang artinya kurang-lebih begini… “sukses pada suatu hal berarti gagal jutaan kali dalam hal tersebut”. Artinya… kesuksesan itu bukan sebuah akhir, namun perjalanan panjang dari kegagalan satu ke kegagalan lainnya. Jika Anda takut gagal, cemas akan hal tersebut, itu sama saja Anda takut sukses.

Bukan berarti menerima kegagalan itu mudah… saya juga sama seperti Anda, dan si pelajar tadi. Malahan saya menulis ini karna saya memiliki keresahan pada suatu hal yang sama, bagaimana jika saya gagal?

Tapi toh… pada akhirnya kita harus belajar menyongsong kegagalan bersama-sama. Semakin sering kita menghindar dan mengindahkan rasa cemas tersebut secara berlebihan, semakin jauh kita dari tujuan dan keinginan kita semula. Kita akan semakin tersesat tentang cita-cita dan mulai bingung, sebenarnya apa yang kita sukai, apa yang kita ingin lakukan. Padahal jawabannya ada di depan mata, kita hanya tinggal belajar menerima, jika saja suatu saat kegagalan menghampiri.

Rasa cemas itu pasti akan selalu ada, tapi tidak akan apa-apa, jalani saja. Ayo… kita bersama-sama gagal, ayo kita bersama-sama mengakuinya dan tetap Semangaaattttt!!!!

Widiwww…..

Share:

Sunday, December 30, 2018

Namanya adalah... (9)


CHAPTER 9. EPILOG

Hai. Namaku Rio, penulis cerita ini. Aku adalah seorang lelaki yang ber-profesi sebagai nelayan di salah satu bibir pantai Provinsi Aceh. Aku tinggal disebuah rumah yang tak akan pernah selesai proses pembangunannya. Mungkin puluhan tahun lagi. Walaupun aku menyukai sebagian kisah hidupku yang lurus-lurus saja, tidak dapat dipungkiri, akhirnya petualangan itu datang juga.

Seorang gadis muncul di hadapanku membawa segelintir kisah hidupnya di masa lalu. Mengajakku pergi menuju masa depan tanpa kepastian. Dia adalah seorang yatim piatu yang sedari kecil dilatih untuk menjadi mata-mata oleh organisasi kriminal asal Jepang. Pada usia 16 tahun ia menjalankan tugas besarnya dari Jakarta menuju Palembang untuk proses ekspansi bisnis narkotika yang lebih besar.

Selama disana ia ditampung oleh dua orang bayaran yang memalsukan identitasnya menjadi anak mereka. Memulai hidup barunya menjadi anak SMA. Ia memberikan informasi apapun kepada organisasi kriminal tersebut untuk membantu melancarkan jalan bisnis mereka di kota itu. Semua berjalan lancar saja… hingga akhirnya masa tugasnya hampir usai.

Gadis muda itu merasakan juga yang namanya cinta, walau ia tak terlalu mengerti. Namun saat membayangkan dirinya akan kembali pulang ke Jakarta setelah tamat SMA, hatinya sakit. Ia tak akan pernah bertemu lagi dengan guru favoritnya. Yang walaupun selama ini hanya mengisi waktu bercakap ringan, tak pernah memberikan pandangan penghakiman. Kata-katanya selalu santai dan memberikan jalan keluar. Aku pun tak sadar, apa aku benar begitu? Tapi aku tak perduli, karna aku juga menyukainya.

Maka ia merencanakan malam itu, malam dimana ia harusnya mengantarkan “upah keamanan” berupa berlian besar bersinar berwarna merah muda, pada dua orang oknum polisi yang juga sudah ia kenal sebelumnya. Bima, yang menjadi pelindungnya di kalangan remaja saat itu ikut serta, karna rupanya, anak kecil itu juga menjadi salah satu pengedar di area sekolahnya.

Ia merencanakan semua. Kematian tiga orang itu, termasuk keputusanku untuk mengajaknya melarikan diripun sudah dia perkirakan. Sebegitu kenal dia padaku hingga mampu memprediksi keputusanku. Sebaliknya, aku tak mengenalnya sama sekali.

Setahun setelah rencananya sukses. Ternyata organisasi itu cukup besar dan mampu mencari kami hingga ke wilayah terpencil sekalipun. Semuanya akan menjadi fatal jika saja Tuhan tidak berbaik hati mempertemukan kami dengan dua orang yang baru saja aku kenal.

Adalah Ismail dan Aera, yang satu berbadan kecil dan super lincah serta mahir dengan pisaunya. Satu lagi berbadan besar dan amat kuat. Ismail berasal dar kota Jakarta, dan Aera adalah orang Korea. Bukan, bukan korea yang punya banyak produksi film drama itu.

Bagaimana mereka  bertemu dan apa yang terjadi pada mereka, itu akan menjadi kisah tersendiri. Namun yang pasti mereka memang sudah mengincar organisasi yang sama yang sedang mengejar kami saat ini. betapa sebuah kebetulan yang terencanakan oleh tangan Tuhan ketika mereka mengikuti tiga orang yang mengejar kami hingga ke pelosok hutan. Mereka menunggu hingga Akihiro, salah satu orang yang cukup berpengaruh menampakkan batang hidungnya, dan mendadak memberikan serangan mematikan. Menyelamatkan nyawaku yang sudah tiga kali hampir melayang jauh, malam itu.

Aku bebaring terlentang menatap langit-langit rumah kami yang tak memiliki pelafon. Rangka bangunan terlihat jelas hingga ke bagian atap yang terbuat dari nyiur. Kupegang, kemudian ku pandangi berlian sebesar ibu jari di tanganku. Indah.. kamudian kuletakkan di meja samping ranjang. Namun tidak seindah gadisku yang sedang terbaring menyamping melihat ke arahku, di ranjang dengan kasur busa yang sama.

Aku pun ikut berbaring menyamping menghadap padanya. Ku ulurkan tanganku pelan mengusap pipinya. Ibu jariku mengusap pelan menuju bibirnya yang merah. Wajahnya terlihat cerah dengan senyum manis yang indah. Tidak lagi datar seperti dulu. Perlahan aku mendekat. Lalu memberikan kecupan hangat. Lama sekali.

Namaku Rio, dan nama gadisku adalah Lisa, kami tinggal di salah satu bibir pantai Provinsi Aceh. Setidaknya untuk saat ini. Mungkin esok namaku adalah Abdullah dan namanya Maimunah, kemudian kami tinggal di Tokyo dengan hiruk-pikuk yang menyesakkan. Siapa yang tau.

Kisah ini berakhir disini. Atau setidaknya untuk saat ini. Entahlah… seperti yang kukatakan. Siapa yang tau.

Sampai jumpa.

Share:

Namanya adalah... (8)


CHAPTER 8. DUO

“DOR!” suara tembakan terdengar dari luar tenda. “DOR!” “DOR!” terdengar lagi dua suara tembakan secara beruntun. “aaaaaahhhhh…! Tolooooong!” suara jeritan mengiringi. Kemudian sunyi.

Pria jepang itu melotot pada kedua anak buahnya dan mengisyaratkan mereka untuk keluar memastikan situasi. Sementara ia sudah berpindah posisi ke belakangku dan mengacungkan moncong pistolnya pada kepalaku. Bukan yang pertama kalinya, aku tak terlalu terkejut.

Sebelum dua pengawalnya itu keluar tenda. Seorang wanita dengan postur sangat tinggi lebih dulu memasuki tenda dengan sedikit menundukan kepalanya di bagian pintu. Oh my… akupun terkejut dengan posturnya. Wajahnya putih dengan mata tanpa kelopak ganda, oriental. Rambutnya hitam panjang di ikat ke belakang. Badannya sedikit berotot, cukup berotot untuk ukuran seorang wanita. Dan yang paling membuat takjub, tingginya. Lebih tinggi dari si berewok dan si botak. Kepalanya bahkan menyentuh kain bagian atas tenda. Mungkin sampai dua meter?

Akihilo?” wanita itu berkata dan mendongakkan kepalanya padaku.

Aku melihatnya tanpa ekspresi. Si berewok dan si botak  melihat kebelakang pada pria jepang yang masih berlindung jongkok di belakangku.

the fuck you see dumbass, get rid of that bloody women!”26 katanya menjerit.

Wanita berpostur besar itu sedikit memiringkan kepalanya gantian melihat pria jepang di belakangku. “anta… akihilo?”27 katanya santai tidak memperhatikan si berewok dan si botak yang siaga dengan kuda-kuda tempur mereka.

fuck I don’t have time for this shit!”28 kata pria jepang di belakangku sambil berdiri dan mengalihkan arah pistolnya. Tangannya menjulur kedepan tepat di atas kepalaku mengarahkan pistol pada wanita itu.

“Sretttt..” sebilah pisau kecil menembus tenda dan melaju keluar lagi, memotong pergelangan tangan si pria jepang.“ouch!” Pistol itu terjatuh tepat di depanku. Kakiku cepat menyeretnya kearahku mengamankan dari si berewok dan si botak. Aku menoleh ke atas sedikit ke bagian belakang memastikan apa yang terjadi pada pria jepang itu. Tangan kanannya memegangi pergelangan tangan kiri yang berlumur darah.

“aaaaaaarrrrrhhh” dia menjerit hebat seolah baru merasakan kesakitan yang tertunda.

Sementara wanita besar itu sudah mencekik si berewok sampai kakinya terangkat dari tanah. Persis seperti yang dilakukan si berewok itu padaku sebelumnya. Si botak mencoba menendang kaki wanita itu. Tidak ada hasil. Kemudian ia berbalik mengambil kursi lipat yang tadi menjadi tempat duduk pria jepang yang kini masih mengerang kesakitan.

Diayunkan kursi itu sekuat tenaga oleh si botak. Namun wanita itu bergerak cepat dan menangkap ayunan kursi. Kini gantian wanita itu yang mengayunkannya… si pria botak tadi ikut terayun dan terhempas keluar tenda.

Belum sempat berdiri, seorang pria dengan postur kecil dan gerakan lincah melompat menaiki si botak dan menancapkan sebilah pisau ke bagian samping kepalanya. Begitu cepat dan kuat tekanan pisaunya hingga mampu menembus tengkorak si botak. Ditariknya lagi kemudian di tancapkan ke lehernya. Kemudian ia melompat turun. Meninggalkan si botak yang yang masih kejang-kejang berjalan golang-galing bagai ayam yang baru saja disembelih. Pria berpostur kecil itu ikut masuk ke dalam tenda.

Si berewok terjatuh saat wanita tadi selesai mencekik dan melepaskan cengkraman di lehernya. Mati. Lehernya membiru dan sekujur mukanya sangat merah. Lidahnya terjulur dan matanya melotot melihat ke atas. Pemandangan yang sangat mengejutkan. Tinggallah aku dengan pria Jepang ini. yang mencoba mendekat padaku untuk mengambil pistolnya kembali.

“swussh” “crout” sebilah pisau kecil melayang dan menancap tepat di paha pria jepang itu. Didikuti jeritan dan makiannya yang keras sekali…”kuso!”29 katanya. Ia terjatuh dan terduduk dengan kaki menjulur kedepan “Anta wa  dare!”30 lanjutnya masih sambil memegangi pergelangan tangan kirinya yang belum berhenti berdarah.

Pria kecil itu mendekat padanya dan menancapkan pisau kecil lain pada paha satunya lagi… “aaaarrrrrrhhhhhh” pria jepang itu kembali menjerit keras.

“pake bahasa Indonesia aja makanya bangsat! Gua ga ngerti!” kata pria kecil itu.

“tolong… siapapun kalian. Akan kuberikan apapun… jangan bunuh aku. Tolong…” kata pria Jepang itu memohon. Dua pisau masih tertancap di pahanya. Sedikit saja bergerak pasti akan terasa nyeri sekali, belum lagi tangannya yang masih mengeluarkan darah segar. Mukanya berubah drastis dibandingkan saat ia mengintrogasiku beberapa saat lalu. Kini, usianya terlihat bagai 60 tahun.

“kau, akihiro bukan?” kata pria kecil itu menanyai si jepang. Pria kecil itu mengecek  kantong blazer yang di kenakan oleh si pria jepang, kemudian mengambil sebuah handphone dari sana. “iya bukan?” tanyanya sekali lagi.
“ya. Iya..” kata pria jepang itu. “siapapun kalian. Mungkin aku pernah melakukan hal buruk pada kalian. Tapi aku hanya menjalankan perintah. Aku hanya bawahan. Tolong… tolong ampuni nyawaku.” Katanya masih memelas.

“aku tau.” kata pria kecil itu santai sambil mengantongi hp yang diambilnya dari si pria jepang. Ia kemudian berdiri dan mendekatiku. Tanganku yang masih terikat pada tiang tenda mengambil pistol yang ada di bawah kakiku dan mengarahkan padanya.

“jangan mendekat!” kataku.

“santai bro.” kata pria kecil itu. Ia mengeluarkan sebatang rokok dan kemulian menyulutnya. Menghisapnya sebentar… kemudian dia berjongkok di hadapanku tanpa memperhatikan aku yang masih mengacungkan pistol padanya. Ia mengeluarkan sebilah pisau kecil lain dari banyak kantong pisau di pinggangnya. Kemudian melepaskan ikatan pada tanganku. “kau Rio kan?” katanya.

“bagaimana kau tau namaku?” tanyaku.

“ntar aja cerinya, ada mobil van di jalan setapak yang jaraknya setengah jam perjalanan dari sini” kemudian ia membantuku berdiri dan mengambil pistol yang ada di tanganku. Aku yang sudah lemas pun hanya melepaskannya saja. “masih kuat jalan ?” katanya lagi. aku hanya mengangguk.

Ia kembali menoleh ke arah pria jepang tadi. Wajah pria jepang itu masih memohon untuk nyawanya. Ketakutan.

“pak tua.. kau tau kan, aku tak mungkin membiarkanmu hidup. Pilihanmu hanya dua, mati memalukan atau mati terhormat.” Kata si pria kecil sambil melemparkan sebilah pisau yang agak besar kali ini.

Pria jepang itu tertegun dan melihat ke arah pisau yang di ada di hadapannya. Kemudian ia menangis perlahan.. “nooo..” “noooo…31 katanya. Namun ia masih mengambil pisau itu dan terus memandanginya. Memegangnya dengan kedua tangannya.

Tak berapa saat, pria jepang itu menjerit “Die bitch!”32 dan malah melemparkan pisaunya ke arah si pria kecil, namun pria kecil ini terlalu sigap dan lincah. Ia menangkapnya dengan satu tangan.  Rokok di mulutnya bahkan tidak terjatuh.

Ia mengambil rokok dari mulutnya dengan tangan yang lain. “ kau ingin membunuhku dengan pisauku sendiri? Hahaha” kata pria kecil itu tertawa. “lo pikir lo siapa, bangsat!” Ia kemudian berjalan keluar tenda sambil memberiku isyarat untuk mengikutinya.

Tak berapa lama setelah itu, kami mulai berjalan menyusuri pinggiran hutan menuju mobil van mereka, dua orang penyelamatku yang bahkan belum aku tau namanya. Meninggalkan sebuah tenda yang terbakar dengan dua mayat dan satu orang calon mayat di dalamnya.

Hari hampir pagi saat kami sampai di depan mobil van yang ternyata cukup besar. Gurat-gurat sinar matahari sudah muncul di kaki langit bagian timur. Gemuruh kokok ayam kate menggema mendominasi mengalahkan cuitan burung-burung dan suara jangkrik mulai menghilang. Embun pagi terasa menyegarkan menyentuh kulitku yang sudah hampir mati rasa.

Aku membuka pintu geser bagian samping van tersebut, disitu kulihat seorang gadis tergeletak menyamping terkulai lemas. Bajunya masih sama dengan banyak bercak darah di sana sini. Rambutnya terurai kumal dan tangannya memiliki banyak goresan kecil. Kakinya benar-benar membengkak dan penuh luka di bagian telapaknya.

Ia tersadar dan menoleh ke arahku. Matanya nanar, ber-air. Bibirnya yang merah bagai ingin mengucapkan banyak hal namun tak mampu.  Kemudian ia dengan payah mendorong tubuhnya untuk bangkit dan mendekat ke arahku.. lalu memelukku erat. Menangis. Tanpa mengatakan apapun.

Untuk pertama kalinya aku melihat gadis di pelukanku ini menangis. Empat tahun sejak aku pertama bertemu gadis ini, setahun penuh aku hidup berdua dengannya. dan aku masih belum mengetahui apa-apa.


Bersambung...
Share:
Powered by Blogger.

Featured Post

Ini dan Itu part 1

Semua orang memiliki keraguan. Beberapa menyangkalnya, beberapa terlalu melebihkannya, namun… semua orang punya. Ada yang mengabaika...

Contributors