Stories and Sh*t

Monday, January 14, 2019

APA IYA?


APA IYA?



Saya tinggal terpisah dari keluarga saya sudah sejak waktu yang lama dan untuk banyak alasan tertentu. Tahun 2013, keluarga saya pindah ke tempat dimana jangankan sinyal internet, sinyal untuk telfon saja harus mencari spot yang bagus supaya bisa bicara dengan nyaman dan tanpa terputus-putus. Lebaran tahun 2013 adalah pertama kalinya saya mudik kesana, dan saya benar-benar stress memikirkan bagaimana saya harus menjauh dari internet untuk sementara waktu. Apa yang harus saya lakukan disana nanti dan bagaimana saya bisa menghabiskan kebosanan jika hanya ada televisi dan… suara-suara nyamang (sejenis monyet).

Saya benar-benar stress dan mulai mencari bagaimana cara membuat hotspot portable dengan sebatang modem murah dan baskom plastik bekas. Iya. dan itu ada.

Padahal, saat saya stress dan memikirkan hal itu, saya masih menggenggam hp, berhadapan dengan laptop, dan memiliki koneksi internet. Kok ya saya sempet-sempetnya stress ya, buat apa? Apa iya hidup tanpa internet sementara waktu akan membuat saya stress? Lebih stress dari saat ini? saat saya memikirkan bahwa saya akan stress? Lucu.
 
You know what? Kalo Anda sudah terbiasa bermain medsos setiap hari dan mendapat begitu banyak informasi, lalu Anda beralih ke tempat jangankan untuk bermain media sosial, bermain tetris di hp pun tidak, maka Anda akan dilanda kebosanan yang luar biasa. Itu pasti. Saya juga demikian. Setidaknya untuk beberapa waktu.

Tapi poin pentingnya, saya tidak stress. It suck. Jelas. Bosan… jelas. Rindu kota? Iya. Tapi apakah saya stress? Tidak.

Ternyata hanya dengan mengakui bahwa sesuatu tidak menyenangkan dan tidak kita sukai, kita tidak akan dilanda pikiran yang macam-macam. Apa lagi stress. Dengan begini saya sedikitnya mengerti, bahwa bukan kesulitan yang banyak membunuh karakter saya atau mungkin juga Anda, tapi kecemasan akan kesulitan tersebut.

Selalu tanyakan pada diri Anda, apa iya?

Seorang pelajar mendatangi guru BK kesayangannya dan mengadu tentang bagaimana orang tuanya memiliki ambisi yang besar padanya, padahal dia sendiri tidak yakin pada dirinya. Pelajar itu, memiliki pandangan yang berbeda tentang masa depannya. Ia ingin menjadi ini dan itu, banyak sekali ceritanya, selayaknya remaja usia 17-an.

Kisah keluh kesahnya berlanjut hingga berminggu-minggu lamanya. Tentang ia yang merasa tertekan akan sikap orang tuanya, tentang teman-temannya yang sudah mulai mengejar mimpi mereka masing-masing, dan tentang dia yang masih terbelenggu belajar untuk sesuatu yang menurutnya tidak disukainya sama sekali.

Kemudian guru BK itu bertanya, dia ingin jadi apa?
Dia menjawab, ingin menjadi artis. Minimal, youtuber.

I know right?hmmmmmm…

Yang jadi masalah disini bukan cita-cita si pelajar, tapi bagaimana dia memandang keinginannya tersebut. Apa iya dia ingin jadi youtuber? Atau dia ingin jadi seperti seseorang yang sering ia tonton di youtube? Karna faktanya, sebenarnya nilai pelajar tersebut sangat baik dalam biang akademis. Akan sangat wajar jika orang tuanya berharap padanya. Sungguh. Dia bisa terbilang jenius.

Selidik punya selidik, ternyata sebenarnya si pelajar bukan ingin jadi youtuber atau yang lainnya. Ia hanya takut gagal. Setelah semua keberhasilan selama ini, ia takut jika suatu saat ada nilai jelek, atau ia tak masuk perguruan tinggi favorite, atau ia tak lulus Ujian Nasional dengan nilai memuaskan, ia takut melihat reaksi orang-orang di sekitarnya. Dia cemas.

Padahal dengan semua kemampuan dan pengetahuannya selama ini, jikapun dia gagal, kegagalan itu tidak akan melemahkan dia. Justru akan memperkuat. Bayangkan… jika seorang hanya memiliki sedikit kelemahan di bidang tertentu dan akhirnya dia mengetahui kelemahan itu dan memperbaikinya. Maka ia akan makin kuat dan sukses di bidang tersebut.

Tidak terbayangkan jika kecemasan itu semakin mengambil alih kesadaran dan membunuh karakternya. Ia bahkan sampai lupa, bahwa sebenarnya ia suka belajar. Suka mencari tau hal baru, suka menyelesaikan masalah. Kemudian ia mulai mendapat nilai jelek secara sengaja, hanya agar orang terbiasa melihat ia memiliki nilai jelek, dan suatu saat jika ia gagal, orang-orang tidak akan kaget lagi. padahal dia bisa sukses.

Harusnya, ia terima saja apapun yang akan ia dapat kelak. Pertama, ia harus mengakui bahwa memang benar ia suka belajar dan memang benar dia suka berkerja keras kemudian mendapatkan nilai yang baik. Kedua, jangan pikirkan tentang hasil. Toh… sebenarnya dari awal dia memang suka mengerjakan soal matematika atau fisika yang njelimet, kerjakan saja. Ketiga, jangan lakukan untuk orang lain. Jika memang suka akui, jika tidak, katakan saja… tidak akan apa-apa.

Nah… untuk kasus si pelajar di atas, ini masalah kecemasan yang membuat ia teralihkan. Ia mulai fokus pada hal lain selain hal yang ia sukai. Ia fokus tentang bagaimana penilaian orang lain terhadapnya. Kemudian ia mencari pelarian, suatu alasan yang membuat ia menghindari resiko jika saja ia gagal suatu hari nanti. Kalau ada yang bertanya, “kok tumben nilaimu kecil?” . maka ia sudah menyiapkan jawaban… “iya karna sebenarnya bukan passion aku disitu.” Dengan seluruh upaya repotnya tadi. Padahal sebenarnya ia bisa bilang… “sekali-sekali gapapalah.” Atau saat ia tak lulus PTN favorite, ia masih bisa mencoba tahun depan. Atau masuk lewat jalur lainnya, atau masuk PTS favorite, atau masuk sekolah kedinasan, untuk otaknya… ada banyak opsi. Dan itu tidak apa-apa. Namun ia takut kegagalan itu… padahal sebenarnya, ia menyukai jika saja memang sukses di jalan tersebut. Jangan takut! lakukan saja... Jika gagal, terima dan move on.

Pernah dengar kisah katak tuli yang sukses mendaki? Kalau belum bacalah… di era kekejaman netizen seperti sekarang ini, kalian wajib membaca dongeng itu.

Tapi bagaimana jika ia benar bercita-cita menjadi youtuber?

Tentu itu tidak apa-apa. Ia harus mengatakanya. Tapi ingat sekali lagi, jika Anda berada pada posisi pelajar tersebut, selalu tanyakan pada diri Anda… Apa iya?

Karena semua jalan memiliki resikonya masing-masing. Jangan melihat hasil dan jangan menjadi orang lain. Jika memang ingin jadi youtuber, sudah siapkah jika Anda gagal di jalan tersebut? Membuat konten dengan budget jutaan rupiah dan hanya di tonton puluhan orang (misalnya). Jika Anda kembali memikirkan tentang bagaimana nanti pendapat orang lain jika saya tidak memiliki banyak view dan kapan saya bisa terkenal seperti bla… bla… bla… maka Anda perlu berhenti sejenak dan berfikir ulang tentang goal anda sebenarnya, apa iya ini jalan yang Anda inginkan? Atau hanya sekedar pelarian? Atau hanya ingin seperti si anu?

Gary Vay-Ner-Chuk, seorang entrepreneur, investor, dan salah satu influencer dengan jutaan follower pernah mengatakan yang artinya kurang-lebih begini… “sukses pada suatu hal berarti gagal jutaan kali dalam hal tersebut”. Artinya… kesuksesan itu bukan sebuah akhir, namun perjalanan panjang dari kegagalan satu ke kegagalan lainnya. Jika Anda takut gagal, cemas akan hal tersebut, itu sama saja Anda takut sukses.

Bukan berarti menerima kegagalan itu mudah… saya juga sama seperti Anda, dan si pelajar tadi. Malahan saya menulis ini karna saya memiliki keresahan pada suatu hal yang sama, bagaimana jika saya gagal?

Tapi toh… pada akhirnya kita harus belajar menyongsong kegagalan bersama-sama. Semakin sering kita menghindar dan mengindahkan rasa cemas tersebut secara berlebihan, semakin jauh kita dari tujuan dan keinginan kita semula. Kita akan semakin tersesat tentang cita-cita dan mulai bingung, sebenarnya apa yang kita sukai, apa yang kita ingin lakukan. Padahal jawabannya ada di depan mata, kita hanya tinggal belajar menerima, jika saja suatu saat kegagalan menghampiri.

Rasa cemas itu pasti akan selalu ada, tapi tidak akan apa-apa, jalani saja. Ayo… kita bersama-sama gagal, ayo kita bersama-sama mengakuinya dan tetap Semangaaattttt!!!!

Widiwww…..

Share:

Sunday, December 30, 2018

Namanya adalah... (9)


CHAPTER 9. EPILOG

Hai. Namaku Rio, penulis cerita ini. Aku adalah seorang lelaki yang ber-profesi sebagai nelayan di salah satu bibir pantai Provinsi Aceh. Aku tinggal disebuah rumah yang tak akan pernah selesai proses pembangunannya. Mungkin puluhan tahun lagi. Walaupun aku menyukai sebagian kisah hidupku yang lurus-lurus saja, tidak dapat dipungkiri, akhirnya petualangan itu datang juga.

Seorang gadis muncul di hadapanku membawa segelintir kisah hidupnya di masa lalu. Mengajakku pergi menuju masa depan tanpa kepastian. Dia adalah seorang yatim piatu yang sedari kecil dilatih untuk menjadi mata-mata oleh organisasi kriminal asal Jepang. Pada usia 16 tahun ia menjalankan tugas besarnya dari Jakarta menuju Palembang untuk proses ekspansi bisnis narkotika yang lebih besar.

Selama disana ia ditampung oleh dua orang bayaran yang memalsukan identitasnya menjadi anak mereka. Memulai hidup barunya menjadi anak SMA. Ia memberikan informasi apapun kepada organisasi kriminal tersebut untuk membantu melancarkan jalan bisnis mereka di kota itu. Semua berjalan lancar saja… hingga akhirnya masa tugasnya hampir usai.

Gadis muda itu merasakan juga yang namanya cinta, walau ia tak terlalu mengerti. Namun saat membayangkan dirinya akan kembali pulang ke Jakarta setelah tamat SMA, hatinya sakit. Ia tak akan pernah bertemu lagi dengan guru favoritnya. Yang walaupun selama ini hanya mengisi waktu bercakap ringan, tak pernah memberikan pandangan penghakiman. Kata-katanya selalu santai dan memberikan jalan keluar. Aku pun tak sadar, apa aku benar begitu? Tapi aku tak perduli, karna aku juga menyukainya.

Maka ia merencanakan malam itu, malam dimana ia harusnya mengantarkan “upah keamanan” berupa berlian besar bersinar berwarna merah muda, pada dua orang oknum polisi yang juga sudah ia kenal sebelumnya. Bima, yang menjadi pelindungnya di kalangan remaja saat itu ikut serta, karna rupanya, anak kecil itu juga menjadi salah satu pengedar di area sekolahnya.

Ia merencanakan semua. Kematian tiga orang itu, termasuk keputusanku untuk mengajaknya melarikan diripun sudah dia perkirakan. Sebegitu kenal dia padaku hingga mampu memprediksi keputusanku. Sebaliknya, aku tak mengenalnya sama sekali.

Setahun setelah rencananya sukses. Ternyata organisasi itu cukup besar dan mampu mencari kami hingga ke wilayah terpencil sekalipun. Semuanya akan menjadi fatal jika saja Tuhan tidak berbaik hati mempertemukan kami dengan dua orang yang baru saja aku kenal.

Adalah Ismail dan Aera, yang satu berbadan kecil dan super lincah serta mahir dengan pisaunya. Satu lagi berbadan besar dan amat kuat. Ismail berasal dar kota Jakarta, dan Aera adalah orang Korea. Bukan, bukan korea yang punya banyak produksi film drama itu.

Bagaimana mereka  bertemu dan apa yang terjadi pada mereka, itu akan menjadi kisah tersendiri. Namun yang pasti mereka memang sudah mengincar organisasi yang sama yang sedang mengejar kami saat ini. betapa sebuah kebetulan yang terencanakan oleh tangan Tuhan ketika mereka mengikuti tiga orang yang mengejar kami hingga ke pelosok hutan. Mereka menunggu hingga Akihiro, salah satu orang yang cukup berpengaruh menampakkan batang hidungnya, dan mendadak memberikan serangan mematikan. Menyelamatkan nyawaku yang sudah tiga kali hampir melayang jauh, malam itu.

Aku bebaring terlentang menatap langit-langit rumah kami yang tak memiliki pelafon. Rangka bangunan terlihat jelas hingga ke bagian atap yang terbuat dari nyiur. Kupegang, kemudian ku pandangi berlian sebesar ibu jari di tanganku. Indah.. kamudian kuletakkan di meja samping ranjang. Namun tidak seindah gadisku yang sedang terbaring menyamping melihat ke arahku, di ranjang dengan kasur busa yang sama.

Aku pun ikut berbaring menyamping menghadap padanya. Ku ulurkan tanganku pelan mengusap pipinya. Ibu jariku mengusap pelan menuju bibirnya yang merah. Wajahnya terlihat cerah dengan senyum manis yang indah. Tidak lagi datar seperti dulu. Perlahan aku mendekat. Lalu memberikan kecupan hangat. Lama sekali.

Namaku Rio, dan nama gadisku adalah Lisa, kami tinggal di salah satu bibir pantai Provinsi Aceh. Setidaknya untuk saat ini. Mungkin esok namaku adalah Abdullah dan namanya Maimunah, kemudian kami tinggal di Tokyo dengan hiruk-pikuk yang menyesakkan. Siapa yang tau.

Kisah ini berakhir disini. Atau setidaknya untuk saat ini. Entahlah… seperti yang kukatakan. Siapa yang tau.

Sampai jumpa.

Share:

Namanya adalah... (8)


CHAPTER 8. DUO

“DOR!” suara tembakan terdengar dari luar tenda. “DOR!” “DOR!” terdengar lagi dua suara tembakan secara beruntun. “aaaaaahhhhh…! Tolooooong!” suara jeritan mengiringi. Kemudian sunyi.

Pria jepang itu melotot pada kedua anak buahnya dan mengisyaratkan mereka untuk keluar memastikan situasi. Sementara ia sudah berpindah posisi ke belakangku dan mengacungkan moncong pistolnya pada kepalaku. Bukan yang pertama kalinya, aku tak terlalu terkejut.

Sebelum dua pengawalnya itu keluar tenda. Seorang wanita dengan postur sangat tinggi lebih dulu memasuki tenda dengan sedikit menundukan kepalanya di bagian pintu. Oh my… akupun terkejut dengan posturnya. Wajahnya putih dengan mata tanpa kelopak ganda, oriental. Rambutnya hitam panjang di ikat ke belakang. Badannya sedikit berotot, cukup berotot untuk ukuran seorang wanita. Dan yang paling membuat takjub, tingginya. Lebih tinggi dari si berewok dan si botak. Kepalanya bahkan menyentuh kain bagian atas tenda. Mungkin sampai dua meter?

Akihilo?” wanita itu berkata dan mendongakkan kepalanya padaku.

Aku melihatnya tanpa ekspresi. Si berewok dan si botak  melihat kebelakang pada pria jepang yang masih berlindung jongkok di belakangku.

the fuck you see dumbass, get rid of that bloody women!”26 katanya menjerit.

Wanita berpostur besar itu sedikit memiringkan kepalanya gantian melihat pria jepang di belakangku. “anta… akihilo?”27 katanya santai tidak memperhatikan si berewok dan si botak yang siaga dengan kuda-kuda tempur mereka.

fuck I don’t have time for this shit!”28 kata pria jepang di belakangku sambil berdiri dan mengalihkan arah pistolnya. Tangannya menjulur kedepan tepat di atas kepalaku mengarahkan pistol pada wanita itu.

“Sretttt..” sebilah pisau kecil menembus tenda dan melaju keluar lagi, memotong pergelangan tangan si pria jepang.“ouch!” Pistol itu terjatuh tepat di depanku. Kakiku cepat menyeretnya kearahku mengamankan dari si berewok dan si botak. Aku menoleh ke atas sedikit ke bagian belakang memastikan apa yang terjadi pada pria jepang itu. Tangan kanannya memegangi pergelangan tangan kiri yang berlumur darah.

“aaaaaaarrrrrhhh” dia menjerit hebat seolah baru merasakan kesakitan yang tertunda.

Sementara wanita besar itu sudah mencekik si berewok sampai kakinya terangkat dari tanah. Persis seperti yang dilakukan si berewok itu padaku sebelumnya. Si botak mencoba menendang kaki wanita itu. Tidak ada hasil. Kemudian ia berbalik mengambil kursi lipat yang tadi menjadi tempat duduk pria jepang yang kini masih mengerang kesakitan.

Diayunkan kursi itu sekuat tenaga oleh si botak. Namun wanita itu bergerak cepat dan menangkap ayunan kursi. Kini gantian wanita itu yang mengayunkannya… si pria botak tadi ikut terayun dan terhempas keluar tenda.

Belum sempat berdiri, seorang pria dengan postur kecil dan gerakan lincah melompat menaiki si botak dan menancapkan sebilah pisau ke bagian samping kepalanya. Begitu cepat dan kuat tekanan pisaunya hingga mampu menembus tengkorak si botak. Ditariknya lagi kemudian di tancapkan ke lehernya. Kemudian ia melompat turun. Meninggalkan si botak yang yang masih kejang-kejang berjalan golang-galing bagai ayam yang baru saja disembelih. Pria berpostur kecil itu ikut masuk ke dalam tenda.

Si berewok terjatuh saat wanita tadi selesai mencekik dan melepaskan cengkraman di lehernya. Mati. Lehernya membiru dan sekujur mukanya sangat merah. Lidahnya terjulur dan matanya melotot melihat ke atas. Pemandangan yang sangat mengejutkan. Tinggallah aku dengan pria Jepang ini. yang mencoba mendekat padaku untuk mengambil pistolnya kembali.

“swussh” “crout” sebilah pisau kecil melayang dan menancap tepat di paha pria jepang itu. Didikuti jeritan dan makiannya yang keras sekali…”kuso!”29 katanya. Ia terjatuh dan terduduk dengan kaki menjulur kedepan “Anta wa  dare!”30 lanjutnya masih sambil memegangi pergelangan tangan kirinya yang belum berhenti berdarah.

Pria kecil itu mendekat padanya dan menancapkan pisau kecil lain pada paha satunya lagi… “aaaarrrrrrhhhhhh” pria jepang itu kembali menjerit keras.

“pake bahasa Indonesia aja makanya bangsat! Gua ga ngerti!” kata pria kecil itu.

“tolong… siapapun kalian. Akan kuberikan apapun… jangan bunuh aku. Tolong…” kata pria Jepang itu memohon. Dua pisau masih tertancap di pahanya. Sedikit saja bergerak pasti akan terasa nyeri sekali, belum lagi tangannya yang masih mengeluarkan darah segar. Mukanya berubah drastis dibandingkan saat ia mengintrogasiku beberapa saat lalu. Kini, usianya terlihat bagai 60 tahun.

“kau, akihiro bukan?” kata pria kecil itu menanyai si jepang. Pria kecil itu mengecek  kantong blazer yang di kenakan oleh si pria jepang, kemudian mengambil sebuah handphone dari sana. “iya bukan?” tanyanya sekali lagi.
“ya. Iya..” kata pria jepang itu. “siapapun kalian. Mungkin aku pernah melakukan hal buruk pada kalian. Tapi aku hanya menjalankan perintah. Aku hanya bawahan. Tolong… tolong ampuni nyawaku.” Katanya masih memelas.

“aku tau.” kata pria kecil itu santai sambil mengantongi hp yang diambilnya dari si pria jepang. Ia kemudian berdiri dan mendekatiku. Tanganku yang masih terikat pada tiang tenda mengambil pistol yang ada di bawah kakiku dan mengarahkan padanya.

“jangan mendekat!” kataku.

“santai bro.” kata pria kecil itu. Ia mengeluarkan sebatang rokok dan kemulian menyulutnya. Menghisapnya sebentar… kemudian dia berjongkok di hadapanku tanpa memperhatikan aku yang masih mengacungkan pistol padanya. Ia mengeluarkan sebilah pisau kecil lain dari banyak kantong pisau di pinggangnya. Kemudian melepaskan ikatan pada tanganku. “kau Rio kan?” katanya.

“bagaimana kau tau namaku?” tanyaku.

“ntar aja cerinya, ada mobil van di jalan setapak yang jaraknya setengah jam perjalanan dari sini” kemudian ia membantuku berdiri dan mengambil pistol yang ada di tanganku. Aku yang sudah lemas pun hanya melepaskannya saja. “masih kuat jalan ?” katanya lagi. aku hanya mengangguk.

Ia kembali menoleh ke arah pria jepang tadi. Wajah pria jepang itu masih memohon untuk nyawanya. Ketakutan.

“pak tua.. kau tau kan, aku tak mungkin membiarkanmu hidup. Pilihanmu hanya dua, mati memalukan atau mati terhormat.” Kata si pria kecil sambil melemparkan sebilah pisau yang agak besar kali ini.

Pria jepang itu tertegun dan melihat ke arah pisau yang di ada di hadapannya. Kemudian ia menangis perlahan.. “nooo..” “noooo…31 katanya. Namun ia masih mengambil pisau itu dan terus memandanginya. Memegangnya dengan kedua tangannya.

Tak berapa saat, pria jepang itu menjerit “Die bitch!”32 dan malah melemparkan pisaunya ke arah si pria kecil, namun pria kecil ini terlalu sigap dan lincah. Ia menangkapnya dengan satu tangan.  Rokok di mulutnya bahkan tidak terjatuh.

Ia mengambil rokok dari mulutnya dengan tangan yang lain. “ kau ingin membunuhku dengan pisauku sendiri? Hahaha” kata pria kecil itu tertawa. “lo pikir lo siapa, bangsat!” Ia kemudian berjalan keluar tenda sambil memberiku isyarat untuk mengikutinya.

Tak berapa lama setelah itu, kami mulai berjalan menyusuri pinggiran hutan menuju mobil van mereka, dua orang penyelamatku yang bahkan belum aku tau namanya. Meninggalkan sebuah tenda yang terbakar dengan dua mayat dan satu orang calon mayat di dalamnya.

Hari hampir pagi saat kami sampai di depan mobil van yang ternyata cukup besar. Gurat-gurat sinar matahari sudah muncul di kaki langit bagian timur. Gemuruh kokok ayam kate menggema mendominasi mengalahkan cuitan burung-burung dan suara jangkrik mulai menghilang. Embun pagi terasa menyegarkan menyentuh kulitku yang sudah hampir mati rasa.

Aku membuka pintu geser bagian samping van tersebut, disitu kulihat seorang gadis tergeletak menyamping terkulai lemas. Bajunya masih sama dengan banyak bercak darah di sana sini. Rambutnya terurai kumal dan tangannya memiliki banyak goresan kecil. Kakinya benar-benar membengkak dan penuh luka di bagian telapaknya.

Ia tersadar dan menoleh ke arahku. Matanya nanar, ber-air. Bibirnya yang merah bagai ingin mengucapkan banyak hal namun tak mampu.  Kemudian ia dengan payah mendorong tubuhnya untuk bangkit dan mendekat ke arahku.. lalu memelukku erat. Menangis. Tanpa mengatakan apapun.

Untuk pertama kalinya aku melihat gadis di pelukanku ini menangis. Empat tahun sejak aku pertama bertemu gadis ini, setahun penuh aku hidup berdua dengannya. dan aku masih belum mengetahui apa-apa.


Bersambung...
Share:

Namanya adalah... (7)


CHAPTER 7. NAMANYA ADALAH…

Present day…16

Aku gemetar memegang tangan gadis belia yang tertidur pulas di pelukanku. Kami berada di belantaran hutan Aceh. Dengan api unggun kecil di depanku. Entah tepatnya di mana akupun tak tau. Untunglah tiga hari ini tak mendung apalagi hujan. Pakaian yang kami kenakan sudah lusuh dan bekal air hampir habis. Seharian ini bahkan kami sudah tidak makan lagi kecuali buah apapun yang bisa kami temui disepanjang rimbunnya pepohonan.

Setahun lalu, setelah kejadian nahas yang disebabkan gadis yang aku peluk sekarang. Kami berlari ke arah utara. Terus hingga ujung jalan dan tak ada daratan lagi. hingga akhirnya kami sampai pada sebuah titik dengan pantai dan barisan pohon yang indah. Kosong… pantai indah itu hampir tak memiliki pengunjung.

 Kami mampir ke sebuah Desa kecil di kecamatan Peureulak, Aceh Utara. Daerahnya masih asri dan orang-orangnya… cukup ramah. Tidak ada turis dengan kutang dan g-string di sepanjang bibir pantai. Malahan banyak berdiri Dayah atau sering kita sebut pesantren di sekitaran pantai dan pedesaan. Daerah ini jauh sekali dari hiruk pikuk kota.

Dengan sedikit susah payah dan kebohongan, kami mulai menetap dan membangun hidup disana. Kami menjual mobil dengan surat sebelah, dan mendirikan rumah. Memakai nama lain, dan hidup bertetangga dengan baik. Aku sempat menjadi nelayang untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya menemukan pekerjaan lain yang sesuai kemampuanku, mengajar. Untuk setahun penuh, kami masih menjadi sepasang suami istri dan merasakan surga.

Sampai seminggu lalu. Tiga orang bersenjata akhirnya menemukan kami. Bukan polisi sepertinya. Aku tak tau mengapa mereka bisa mencari kami segetol ini. Apakah ada sesuatu yang mereka cari? Entahlah, karna aku tak bisa mencari tau atau bernegosisasi. Mereka telah membunuh pak Fauzi, tetangga terdekat kami dan sekalian keluarganya. Semua, tak ada yang bersisa.

Kami kabur dengan sepeda motor hingga kehabisan bensin dan harus mencacah belantara hutan. Sampai saat inipun, sepertinya mereka masih mengejar.

Aku susun nafas dengan tenang. Aku memperhatikan sekeliling dengan seksama. Hari mulai gelap dan nyamuk mulai merajalela. Kau tak akan tahan dengan puluhan bahkan ratusan nyamuk yang menyedot darahmu sekaligus, maka api unggun adalah sebuah keharusan. Namun api unggun sangat beresiko. Seseorang bisa saja menemukan kami dari jauh.

Aku perhatikan gadis belia yang seminggu lalu masih kusebut sebagai istri. Wajahnya kotor. Namun tetap cantik. Ia mengenakan kemeja motif garis, kemejaku.. yang tampak kebesaran namun membuatnya tampak seksi. Bawahannya celana cinos panjang. di desa itu, wanita tak diperkenankan memakai jeans. pakaianya kumal dan kakinya terlihat bengkak. Sudah berhari-hari kami menjajaki hutan tanpa alas kaki. Rambut panjangnya terurai menutupi dahinya. Berantakan. Tapi tetap saja, cantik. Kurasa aku sudah mulai kehilangan akal sehatku.

Aku melamun, apa yang akan kami lakukan jika kami bisa lolos dari situasi ini. Mungkin, aku ingin hidup benar-benar terpisah dari dunia. Bagaimana jika hidup di pesisir pantai lain yang benar-benar tidak berpenghuni. Atau mungkin, hidup di tengah kota membangun keluarga. Toh terkadang keramaian adalah tempat persembunyian paling sempurna. Kemana kami akan pergi, Jakarta? Surabaya? Makassar? Tidak… jika ingin keramaian, mungkin kami harus pergi ke belahan dunia lain. New york? Tokyo? Hahaha… aku mulai tertawa sendiri. Aku benar-benar kehilangan akal sehat.

Gadisku terbangun.

“aku ingin buang air kecil” katanya.

Kemudian ia berdiri dan mengambil mandau atau parang panjang yang kami gunakan untuk membuka jalan beberapa hari ini menyusur hutan. Menghilang di tengah rerimbunan gelap. Hari mulai malam. Dan aku menambahkan beberapa kayu bakar pada api di depanku. Semilir angin malam terasa dingin. Berada di bawah pepohonan serindang ini membuat kami harus memakai pakaian ekstra berlapis saat tidur. Untunglah kami sempat membawanya.

Beberapa menit berlalu, dia masih belum juga kembali. Apa yang terjadi? Aku mulai berpikir yang tidak-tidak.

Benar saja. Tak lama setelah itu aku mendengar suara keributan obrolan gerombolan laki-laki yang pelan tapi pasti, mendekat ke arahku. Cepat kuambil sisa air pada wadah minum kami dan menyiramkannya pada api. Padam. Kakiku mengacak-acak bekas perapian agar asapnya tidak menggumpal dan memberikan tanda. Aku menundukkan badan dan memosisikan diri tiarap di tanah.

Kupeluk tas ransel kami dan kubenamkan tubuhku diantara semak-semak di bawah pohon besar yang tadi kami jadikan sandaran tidur. Langkah-langkah kaki mulai terdengar berjalan mendekat. Tiga orang lelaki berbadan besar di atas rata-rata. Mungkin tingginya berkisar 185 sampai 190 cm. mereka semua sepantar dan berbadan kekar. Apa ini, perawakan mereka seperti pasukan khusus. Bukan polisi, apalagi preman.

Mereka menyisir area sekitar api unggun menggunakan senter. Posisiku masih aman, sepertinya mereka tak memperhatikan arahku. Salah seorang dari mereka memegang bekas api unggun dan mengusap-usapnya menggunakan telapak tangan. Kemudian memperhatikan sekitar. Aku manahan nafas, lalu mengeluarkannya selambat mungkin. Menariknya lagi perlahan, lalu menahannya lagi.

Mengapa hutan sepertinya berpihak pada mereka. Saat mereka mulai melihat-lihat area sekeliling dengan seksama, suara jangkrik spontan berhenti seolah mereka pun takut pada gerombolan orang ini.

Tiba-tiba aku merasakan tengkuk leherku di cengkeram dari belakang. Mereka mendapatkanku… salah seorang dari mereka mengangkat tubuhku ke udara bak mencekikku dari belakang. Aku hanya terdiam walau agak terkejut. Mau apa lagi, apa yang bisa kulakukan.

Diangkatnya aku dengan posisi membelakanginya. Kakiku melayang di udara. Ransel di pelukanku terlepas dan aku memegangi tangan yang menarik leherku, berusaha mengurangi tegangan yang di rasakan tengkuk leher. Dua orang yang lain menoleh dan melihat ke arahku. Mereka mengarahkan senter ke wajahku seperti mencari tau. Tidak satupun dari mereka bicara.

Ceklek. Aku merasakan sesuatu yang keras menekan bagian belakang kepalaku. Sepertinya ia menekankan senjata api.

“dimana perempuan itu anak muda?”  akhirnya salah seorang bicara, orang  yang sedang menodongkan pistolnya padaku.

Aku diam saja. Entah apa yang bisa kulakukan di saat seperti itu. Dua orang lain di hadapanku mulai mendekat dan berdiri berkecak pinggang memperhatikan. Salah seorang dari mereka tersenyum geli. Dengan situasi yang mungkin di ujung ajalku, anehnya bahkan jantungku pun tak berdegup terlalu kencang.

Orang itu menekankan pistolnya lebih kencang, memintaku segera mengeluarkan suara. Aku bisa merasakan mereka bertiga melihat ke arahku memperhatikan dengan seksama. Lalu gerakan pelan di belakang kepalaku mengisyaratkan dia siap menarik pelatuk senjata apinya. Perlahan… aku bisa mendengar suara gesekan tangannya yang sebentar lagi akan meledakkan tengkorak kepalaku. Atau paling tidak memberikan lubang yang cukup besar. Aku menarik nafas dalam-dalam.

Saat aku mulai memejamkan mata dan siap merasakan kematian itu datang…

Crootttt.. hempasan keras terasa mengalir di belakangku. Aku terjatuh secara tiba-tiba terlungkup di tanah. Baru saja ku buka wajahku menoleh ke arah dua orang di hadapanku. Suara tembakan peluru menghujam ke pundak salah satu dari mereka. “aaarrrrrhhhh” katanya menjerit memegang pundaknya yang sedikit terserempet peluru.

“Jangan bergerak!” suara lantang seorang perempuan dari belakang. Dua lelaki besar di hadapanku mematung dan melihat penuh benci kepada perempuan itu. Gadisku. Disana dia berdiri tegak, kemejanya yang kebesaran kembali di nodai bercak darah, begitu juga punggungku. Aku melihat seorang yang mati seketika di sebelahku, sebilah parang masih melekat di kepalanya, membelah sebagian otaknya yang nyaris terlihat jelas.

“eeerrmmmmmhhhh” salah seorang laki-laki menggeram kesakitan memegang pundaknya. Darah mengalir menyelip melalui jari-jari besarnya.

Aku cepat-cepat berdiri dan mengepakkan sisa tanah dan rumput di pakaianku. Mendekati mayat di sebelahku dan mencabut parang yang melekat di kepalanya, ku gesek kanan kiri sisi parang pada pakaian mayat itu dan membuatnya bersih kembali dari bekas darah serta sebagian cairan yang mungkin saja otaknya.

Kami berdiri berhadap-hadapan di tengah remang kegelapan rimba. Cahaya bulan yang lumayan terang menerobos dahan-dahan dan menyajikan pemandangan yang indah. Beberapa kunang-kunang juga beterbangan mengelilingi tempat kami berdiri. Perlahan tapi pasti, area ini menjadi terang dengan wajah-wajah kami yang terlihat jelas. Momen ini akan menjadi sangat romantis jika saja tak ada darah disana-sini, juga mayat, juga senjata, juga empat orang yang berdiri bersitegang satu sama lain.

calm down, ok..”17 kata salah seorang dari mereka. “we can talk about this.”18 Lelaki itu maju mendekat dan tangannya mengarah ke depan menandakan agar kami tenang. Wajahnya terlihat jelas kini, bejanggut tebal. Warnanya kekuningan. Kulitnya putih seperti keturunan bule, tapi aku tau dia masih warga pribumi. Aksennya.

Pria yang satu lagi berdiri dengan masih mengikat bahunya dengan seuntai kain. dia merobek  lengan bajunya sendiri. Kulitnya coklat menuju hitam, wajahnya mulus tanpa bulu dan rambutnya juga botak.

“jangan bergerak!” sekali lagi gadis di sebelahku berteriak. “DOR!!!” Kemudian ia menembakkan senjata ke udara. Dan mengacungkannya pada dua lelaki itu lagi. aku pun mulai mengacungkan parang di genggamanku pada mereka.

Bukannya takut, mereka berdua malah saling melihat satu sama lain dan tertawa.
Kemudian mereka mengalihkan pandangan pada kami dan berkata… “matilah kalian sekarang.” Secara perlahan dan mulai mendekat pada kami.

Gadis di sebelahku mengecek sejata yang di pegangnya, dan kemudian mencoba menembak ke arah mereka. “Cklek.. cklek” pelurunya sudah habis. Dia melotot dan melihat ke arahku.

“Lari!” kataku berteriak.

Ia pun melemparkan senjata tadi dan berlari secepatnya menerobos remang rimba. Menghilang di balik semak belukar.

Dua lelaki berbadan besar tadi mencoba mengejarnya, namun belum sempat melewatiku parang panjang melesat di hadapan mereka, salah langkah maka dada mereka robek cukup dalam. Seorang yang botak dan bahunya terluka sudah berdiri tegak dan mengambil sebilah pisau dari tas kecil di bagian paha celananya. Seorang yang berjanggut tebal di hadapanku melihat ke arah gadis tadi berlari. Dan memundurkan langkahnya sedikit.

knock it off dude19 kata seorang yang botak sambil maju memainkan pisau miliknya. Cukup besar, pisau itu bisa menyayat kulit babi sekalipun. “menyingkir atau ma…”

“swousssshhh” aku ayunkan lagi parangku ke hadapannya. Jika ia bersikeras maju maka akan aku kerahkan serangan tak beraturan yang sering aku tonton di televisi. Apapun  itu. Aku hanya mengulur waktu selama mungkin. Mungkin saat ini juga adalah saat terakhirku. Aku tak peduli.

Si lelaki berjanggut menghembuskan nafas dan menggaruk dagunya yang penuh rambut. Kemudian ia melihat kearah lelaki botak dan menggunakan isyarat mata. Aku masih memperhatikan setiap gerak mereka untuk berjaga-jaga jika saja mereka melakukan serangan dadakan.

Benar saja, sepersekian detik setelahnya lelaki botak itu melemparkan pisaunya padaku. Aku yang sangat fokus memperhatikan mereka bisa menghindarinya dengan melompat ke samping. Pisaunya merancau saja dengan arah tak beraturan menuju semak belukar, hilang.

Namun ternyata pisau itu memang tak pernah dimaksudkan untuk mengenaiku.

Saat aku fokus untuk menghindari lemparan pisau, lelaki berjanggut tadi juga langsung melompat ke arahku. Tangan kirinya yang cukup panjang mampu menggapai pergelangan tangan kananku yang memegang parang, tanganku sudah terkunci. Tangan kirinya mencekik leherku dan sekali lagi, kakiku melayang tak menapak tanah. Kali ini, jantungku berdegup amat kecang dan tubuhku kejang-kejang.
Tangan kiriku mencoba memukul wajahnya sekuat tenaga. “bukkk!” keras sekali bunyinya. Tapi hanya mampu menolehkan wajahnya ke samping. Yang ada dia makin garang dan beringas. Di ayunkannya aku ke bawah, tanganku di hempaskan dengan tekukan lututnya yang melayang ke atas. “ kreteekkk” aku bisa merasakan sedikit bagian tulang lengan kananku patah.

“arrrrrrrrgggggghhhhhh” kataku menjerit tertahan. Tangan kananku lemas dan melepaskan parang yang ku pegang. Tak lama kemudian di ayunkan tubuhku sangat kencang, terpental dan menghempas secara horizontal ke arah batang pohon besar tempat ku bersandar beberapa saat lalu. Terjatuh kebawah meninggalkan suara keras ranting-ranting kecil yang patah tertimpa badanku.

Kemudian ia datang lagi dengan cepat, kaki besarnya menendang perutku. Sampai aku memuntahkan air dengan jumlah yang sangat banyak. Aku tebatuk terbata-bata merungkuk melingkarkan badanku menahan sakit di perut dan lengan kananku. Belum habis aku membuang satu tarikan nafas, tangannya mencengkeram kerah bajuku, mengangkatku sedikit menjadi posisi  berdiri beralaskan lutut. Aku masih mampu melihat ke arahnya.

Sesaat kemudian dia berjongkok dengan tangan kirinya masih mencengkeram kerah bajuku, tangan kanannya melayangkan tinju ke arah wajahku, aku berusaha menepis dengan tangan kiri. Bukan tertepis, tangan kiriku kalah kuat dan ikut menghantam membuat wajahku bonyok. Pelipis kiri di atas mataku sudah berlinang darah segar. Tanganku lemas di kanan maupun di kiri. Mata kiriku bengkak tak dapat melihat dengan jelas. Penglihatanku mulai kabur.. aku hampir jatuh pingsan.

Namun sekali lagi hantaman kepal tinjunya yang besar menerpa wajahku, tanpa perlindungan apapun. Tersentak ke belakang. Hidungku remuk. Darah mengalir keluar dari balik kulit hidungku. Ditariknya lagi kerah bajuku ke depan, di tinjunya lagi. dan sekali lagi..

Aku terkulai lemas menghadap tanah. Tangan kiri lelaki berjenggot tebal itu masih menahanku agar tidak jatuh ke tanah. Meremas daguku dan menatapku yang sudah hampir hilang kesadaran.
now what?”20 katanya. Sekali lagi tinjunya menghantam. Kali ini perutku, lebih keras dari tendangannya yang tadi. Aku bisa merasa bagai isi perutku ingin keluar semua. Darah segar muncrat dari mulutku.

Aku terkulai lemah. Tak mampu lagi melihat ke arah mereka. Terlungkup di tanah lembab dan daun-daun kering. Wajahku mengarah ke samping. Pandanganku samar melihat dedaunan yang kering… beberapa semut kecil melintas di hadapanku. Cahaya kunang mulai memudar seperti melihat cahaya di tempat jauh. Pandanganku perlahan menjadi gelap.

Aku masih bisa merasakan nyeri pada perut, tangan, punggung, mata, dan hidungku. Saat udara masuk melalui lubang hidungpun membuat nyerinya terasa. Bau rerumputan dan daun kering perlahan memenuhi hidung, merasuk ke otakku. Lembabnya tanah dan dinginya malam menjalar lewat kulitku. Semilir angin menerpa rambutku. Perlahan… bunyi jangkrik terdengar kembali memenuhi malam. Aneh… dalam keadaan yang sudah setengah sadar. Aku bisa mendengar suara-suara nun jauh di sana. Tupai yang baru pulang ke rumah pohonnya. Burung Hantu yang baru membuka matanya. Kadal yang berlari seliweran melintas kesana-kemari. Ular yang melata pelan tapi pasti, melintas pohon melalui dahan, ranting demi ranting. Kemudian suara itu. Suara derap kaki yang walaupun lelah dan membengkak, tetap berlari, berlari sejauh mungkin menerpa dedaunan dan duri-duri, menerpa dinginnya malam. Berkilo meter dari sini. Pergilah jauh… larilah sejauh mungkin. Gadisku.

***

Saat aku merasa nyawaku sudah di ujung tenggorokan.

“pyarrr” aku terbangun!

Sakit dan nyeri di hidung serta mata kiriku tearasa lagi. makin nyeri diterpa air dingin di malam hari. Aku bernafas tersengal. Terbatuk-batuk. Sesaat lalu aku berpikir telah mati. Darah segar di hidungku yang mengering mulai keluar lagi. Bau anyir menjalar diterpa angin. Anyir darahku sendiri. Aku merasakan perutku yang masih sakit, juga sekujur tubuhku yang lain.

Lengan kananku sudah menunjukkan gejala bengkak dan membiru. Kedua tanganku diikat seuntai tali dan dilingkarkan pada tiang kecil yang menjadi penyanggah tenda tempat aku berada sekarang.

Dihadapanku, terdapat seorang pria berkisar 40-an, yang duduk dikursi lipat dan sedikit membungkuk ke arahku. Matanya sipit, tapi bukan cina, karna kulitnya sawo matang sepertiku. Lebih seperti orang jepang. Rambutnya cepak dan sudah beruban sebagian di daerah samping, atau entah itu hanya sebagai style saja.

“hey.. hey..” katanya menjentikkan jarinya di hadapanku. Aku memandangnya dengan bingung.

boy.. oh boy… apa yang sudah kau lakukan anak muda. Kau pikir kau seorang pahlawan?” katanya lagi berkata santai sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dekat sekali hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya.

Aku mundur sedikit bersiap kalau-kalau dia akan melayangkan pukulan seperti yang barusaja kurasakan sebelum pingsan.

Kemudian dia mundur lagi dengan posisi duduk normal.

“oke, kita langsung saja. Dimana perempuan jalang itu” katanya mendekat lagi. kali ini tangannya menjambak rambutku. Dijambakknya ke belakang sehingga memposisikan aku yang mendongak ke atas. Diterpa silaunya lampu emergency berbaterai yang di gantungkan di bagian atas tenda. Aku mengatur nafasku dan sedikit menyipitkan mata.

look man21, apapun yang kau cari dari si Bima itu. Kami tak mengambilnya.” Kataku lirih. Tidak, aku tidak selemas itu. Tapi aku harus mengirit tenaga yang ku pakai seminimal mungkin. Kalau-kalau saja tuhan bebaik hati mengirimkan salah satu malaikatnya padaku malam ini. aku masih bisa lolos dari situasi terburuk yang pernah ku alami seumur hidupku.

“he?” katanya heran. Wajahnya menunjukkan mimik bingung dan menoleh ke belakang. Melihat kepada dua orang yang hampir menghabisi nyawaku tadi, si berewok dan si botak. Mereka juga mengangkat bahunya dan menggelengkan kepala. Pertanda mereka tak mengerti.

“gadis itu…” lanjutku lagi “hanya berada di tempat dan waktu yang salah. Aku tak tau apa yang kalian cari… dan apa hubungan kalian dengan Bima dan dua orang polisi yang mati itu, tapi dia tidak berada disana untuk ikut campur. Dia hanya korban.” Kataku meyakinkan mereka.

Pria itu melihat ke arahku dengan tatapan curiga kemudian berkata… “oke, lanjutkan.” Katanya.

“dia di culik oleh Bima, mereka memang cukup dekat. Dia tidak tau bahwa Bima memiliki urusan dengan polisi di sana. Yang dia lakukan hanyalah melarikan diri, dan saat dia melarikan diri, dia tanpa sengaja membunuh Bima. Oh ya, dan dua orang polisi itu… Bima yang membunuh mereka, dia tak melakukan apapun. Dia bahkan tak mengetahui soal transaksi apapun yang sebenarnya kalian lakukan. Dia hanya seorang gadis yang ketakutan dan melarikan diri.” Kataku sambil terengah-engah.

Aku tak mengharapkan mereka percaya dan begitusaja melepaskanku. Walau bagaimanapun, tampaknya nyawaku sudah tekunci mati di tenda ini. atau di luar sekitar tenda ini. Namun setidaknya, gadisku bisa terbebas dari kejaran mereka. Karna yang kukatakan memang benar adanya.

Pria itu kemudian berdiri sebentar dan memakai sarung tangan hitam. Lalu mengambil sebilah pistol dari bagian belakang celananya. Kemudian duduk lagi, sambil menggarukkan moncong pistol itu di area sekitar hidungnya. Dia, bersiap menembakku.

say boy…” katanya ringan. “who’s that girl’s name?” 22

“eh?” Aku menoleh bingung…

that girl you protect with your life.23 Katanya mendekat lagi padaku. “what. Is. Her. Name?”24

Aku makin bingung dan berkata lirih.. “Li…”

“kau pikir namanya Lisa?” katanya. “hahahahaha” dia tertawa terbahak-bahak “kalau begini jelas kau tak berhuga buat kami”. Kemudian menoleh ke arah si berewok dan si botak. Mereka juga ikut tertawa. Meninggalkan aku yang kebingungan sendiri di antara mereka.

“aku kasihan padamu nak. Kau tau… paling tidak kau akan mengetahui kebenaran sebelum kau mati.” Dia menyilangkan kakinya dan membuat pose duduk santai. Meletakkan dua tangannya yang masih memegang pistol di pangkuan. Dan mulai bercerita.

“gadis yang kau lindungi itu, namanya bukan Lisa. Bukan juga Afifah… nama yang kalian buat untuk dia gunakan setahun terakhir bukan?” dia tersenyum tipis.”kami tak kenal siapa itu Bima. Kami tak punya urusan dengannya. Entah apa yang di ceritakan jalang itu kepadamu. cuiihhhh” Katanya merasa sangat tidak senang dan membuang liurnya dengan keras.

“dia… adalah bagian dari kami. Dia adalah salah satu anggota organisasi kami yang aktif beroperasi sejak dia masuk SMA tempatmu mengajar dulu. Ku beri tahu, orang tuanya yang mati itu… bahkan bukan orang tua aslinya. Mereka hanya orang bayaran yang tidak akur. Hahahaha…” dia membuang nafas sebentar. “tapi akhirnya kami membunuh mereka karna mereka selalu membuat kebisingan dan membuat kami riskan untuk di perhatikan.”

“dalam kasus si Bumi atau siapalah anak yang kau sebutkan tadi… kau tau, harusnya dua polisi itu menemui dia disana. Bukan anak yang mati itu, tapi menemui gadis jalang itu disana untuk mengambil barang yang sudah kami titipkan padanya. Sesuatu yang sangat berharga, untuk melancarkan bisnis kami di Palembang. Tapi tebak apa… mereka semua mati.

“hahahaha… menggelikan sekali, saat kau bilang dia hanya korban yang berada di empat dan waktu yang salah. Lihatlah keadaanmu saat ini… aku rasa deskripsi itu lebih tepat untukmu. Hahahaha” dia masih tertawa lantang.

Namun aku sudah tidak memperhatikan. Bodohnya aku. Sejak awal aku mengenalnya di perpustakaan waktu itu, aku sudah menyadari dia tampak jauh lebih dewasa untuk ukuran gadis seusianya. Bukan… aku tak meragukan usianya. Tapi ketenangannya, cara dia bertingkah… dia jelas seseorang yang memiliki pengalaman hidup jauh di atas mereka yang biasanya seusia itu.

Aku terlalu acuh… aku juga terlalu senang saat kisahnya bercampur dengan kisahku. Merasakan petualangan yang mendebarkan. Memberikan kesan yang tak pernah bisa aku lupakan, aku tidak memikirkan sedetikpun… kamungkinan bahwa mungkin semua itu hanya sebuah kisah buatan. Suatu kebohongan yang di karang olehnya, dan menjadi fantasi nyata untukku.

Bahkan nama aslinyapun aku tak tau. kosong… aku benar-benar tak mengetahui apapun.

Pria itu berdiri dan mengarahkan senjatanya kepadaku. Mengokangnya sekali dan bersiap menarik pelatuk. Ia memandang kasihan kepadaku.

say… old man.”25 Kataku dengan tampang nanar. “what is her name?”

Dia tersenyum tipis sambil meletakkan mocong pistolnya di jidatku.

“Namanya adalah…”

“DOR!”


Bersambung...
Share:
Powered by Blogger.

Featured Post

SEBUAH KISAH SEDERHANA

*Ini merupakan cerita fiktif dan rekayasa. Semua bahasa dalam cerita ini telah dibahasa Indonesiakan. SEBUAH KISAH SEDERHANA... ...