Stories and Sh*t

Saturday, December 24, 2011

ASIN


*cerita ini hanya fiktif dan rekayasa. Buat pengunjung silahkan baca, tapi jangan terlalu dinikmatin nanti mati keracunan karna ceritanya terlalu ASIN.

ASIN
Siang ini saya libur karna nggak ada jadwal kuliah hari sabtu. Libur tidak selalu menyenangkan, karna saat libur berarti saya harus nyari makan siang diluar kampus. Nggak enaknya, Cuma dikampus yang saya tau jual nasi ayam Rp. 7.000,-. Maksi diluar kampus berarti ngeluarin duit lebih. Ahhh... mulai kerasa asin nih mulut.

Untuk menghemat uang dari saku saya yang miskin ini, saya memutuskan untuk tidak makan. *tidak makan batu... *tidak makan kayu... tapi tetep makan sesuatu yang lazim dimakan. (sama aja boong nggak sih?). saya bener-bener mutusin untuk ngirit kok, tapi tetep makan. Bedanya saya milih makan yang ringan-ringan aja. *ringan=murah. Makan model.

Saya berjalan menuju tempat pembelian model yang ada dideket kost. Sesampainya di tempat tersebut saya langsung disambut oleh seorang gadis manis yang tampanya sedikit asin. Dia bilang, “pesen apa kak?” aduh, saya jadi berasa tua nih, saya jadi ingin sadar kalau sekarang saya sudah beranjak dewasa. Baru ingin. Saya menjawab ‘model’ dengan singkat, sambil mengelap keringat di bagian atas bibir saya dengan tangan. Cuih, asin.

Hari ini saya banyak berurusan dengan hal yang asin- asin. Dari mulai pagi tadi yang keasinan dan nggak jadi kepasar, sampe asin ini yang harus makan model demi ngirit. (asin ama siang bedanya jauh nggak sih?) trus ketemu penjual model yang tampang imutnya jadi asin, mungkin belum mandi dari pagi (sama kayak saya dong). Dan....

Nahh, modelnya dateng nih... ssrrruuputtt..

Aaaarrrrrgghhhhh. Aaaassssiiinnnnn! Modelnya asin abis, mau minta ganti tapi nanti dimintain duit lebih. Perut udah keroncongan, tersepak dehhh saya makan ini benda asinnn. Sambil memejamkan mata dan mengucap seribu doa. Ini demi hidup. Glegg.

Sesampainya di rumah kost saya langsung minum air segalon buat ngilangin asin. Tapi seberapapun kok masi terasa asin yah? Hampir semua benda yang terlihat menjadi seperti garam. Bahkan runah kost ini terlihat bagai gumpalan garam yang besar. Mandi dengan air garam, duduk diatas garam, tidur berselimutkan garam, hujan! Garammm...
Sial! Apa ini? Trauma asinkah? Saya mencoba datang ke dokter tapi dia malah menyuruh saya mendorong hingga keluar. Setelah saya selidiki ternyata dokter tersebut adalah dokter kandungan. Saya mencoba beralih meminta saran pada mahasiswa psikiater, tapi dia menyuruh saya menghadapi semua masalah dan menuntaskan belenggu hidup. Nggak nyambung kaleeee..

Saya mencoba bermeditasi untuk menenangkan diri dan pikiran, namun ketika saya membuka mata bahkan tubuh saya pun terlihat bagai kristal garam. Saya mencoba berendam di air, mengingat kalau garam itu larut dalam air. Yapi apa yang terjadi? Air pun terlihat bagai garammm. Saya hampir menyerah dengan keadaan ini, namun sebuah kejadian ajaib menyelamatkan saya.

Saat saya sedang duduk meratapi nasib di teras, Sesosok wanita cantik berjalan tepat dihadapan saya. Dengan tanktop dan rok mini, mulus tanpa ada cacat barang secuil. Mata ini bahkan tak tega jika harus melihatnya sebagai garam. Dan kemudian semua berubah tanpa garam. Semuanya terlihat bagai..... tubuhnya.

#astagfirullahaladzim....
Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.

Contributors