Stories and Sh*t

Monday, December 26, 2011

SASTRA


*Cerita ini hanya fiktif dan rekayasa. Jika ada kesamaan nama dan tempat kejadian, dapat dijamin hanya merupakan kebetulan. Selamat menikmati.

SASTRA

Masih kupelototi baris demi baris tulisan kisah ini. Cukup sendu dan memukau saat benar dalam kuhayati. Kata-katanya bagai melompat menari dimataku, menceritakan setiap detil isi penyampaian penulis. Tak habis kagumku, sabab Ia yang menulis ini mampu menyelesaikan dengan semua kata indah dalam basis cerita dramatikal komplit satu buku. Luar biasa!

Dari itu muncul semua rasa keinginanku untuk lagi dan lagi membaca buku lain dan lain lagi. Bagai candu yang telah menyekapku, aku ingin baca lagi. Sebuah rasa yang dalam tercipta akan gabungan kata-kata yang bahkan sulit kubayangkan untuk membuatnya. Ini adalah seni, aku bahkan merasa terhormat untuk mengaguminya.

Kekaguman itu bisa tumbuh dan menjalar. Kini bukan hanya novel, aku mulai membaca cerpen, puisi, pantun, bahkan menonton film. Dalam diam kekaguman ini kupendam. Manakala sesuatu yang buruk akan terjadi jika seseorang mengetahuinya. Manakala aku harus melupakan ini kalau mereka sampai tau. Manakala aku akan merasa sendiri  jika aku harus hidup tanpa ini. Manakala aku akan menemukan pilihan yang sulit lalu berputus asa. Aku tak mau.

Tok.. tok.. tok.. terdengar pintu kamarku diketuk beberapa kali sampai aku tersadar dan segera mengalihkan pandanganku. Secepat kilat kututup buku ini dan kusimpan di dalam laci, dibawah buku yang lain. Segera aku memutar kursi dan menghadap kearah pintu, sambil memegang koran dan memasang muka manis plus senyum.

Seorang pembantu masuk dan meletakkan beberapa helai roti dan selai coklat diatas mejaku. Ijah namanya. Ijah ini sebenarnya hanya terpaut beberapa tahun dariku, tapi karena dia miskin dan tidak merawat dirinya dengan baik, maka ia terlihat sedikit tua. Tak seperti halnya aku yang terlihat bagai pengusaha congkak yang meluluri muka mereka dengan lumpur setiap harinya.

Namaku adalah Tomi. Anak pengusaha yang dulu pernah masuk sepuluh besar urutan orang terkaya di Indonesia.  Tidak demikian saat ini, semenjak ayahku sakit keras dan mengurangi perhatian terhadap perusahaan makanan kering miliknya itu. Namun hal itu tidak berarti baik bagiku, karna sejak setahun yang lalu dia mulai dengan sangat intensif mengurus proses regenerasi pimpinan perusahaannya. Aku.
Bukan menyombongkan diri, tapi aku benar-benar anak yang pintar. Tidak pernah mengulang dalam mata kuliah apapun. Memasuki Universitas Indonesia jurusan management pada umur 16 tahun, dan sekarang berumur 18 tahun. Aku berjanji untuk lulus sebelum berumur 20 tahun dan mendapat IPK diatas 3,8.

Hari libur memang terasa sangat cepat walau harus kuhabiskan seharian dirumah, maka tanpa terasa saat ini mentari telah menyusup kembali pada kegelapan. Lagi. Ada yang beda dari rutinitasku hari ini, entah mengapa papan catur yang seharian terletak diatas meja teras ini serasa memanggilku untuk dekat, duduk, dan menyentuhnya.

Sebentar saja kuutak-atik anak dan papan catir ini, sebelum ayahku datang dan mengajukan ajakan duel. Pembicaraan ayah dan anak remaja seharusnya adalah hal lucu atau beberapa dorongan motivas, tapi aku sama sekali bukan tipe anak yang membutuhkan hal itu. Pembicaraan kami adalah masalah.

Ayah   : bagaimana kuliahmu?
Aku     : baik.
Ayah   : jangan terpengaruh dunia luar, kita semua memiliki nasib yang berbeda-beda. (memindahkan anak catur)
Aku     : baiklah... (memakan anak caturnya)
Ayah   : ada ribuan orang yang menggantungkan hidupnya pada keputusan kita, dan ayah membutuhkan seorang jenius untuk menjaga agar keputusan yang keluar selalu tepat. Jadi jangan sampai salah mengambil keputusan.
Aku     : aku tau apa yang kulakukan. (memakan anak caturnya lagi)
Ayah   : benarkah? (menggeser sedikit anak caturnya). Skak mat!


Ia berlalu dengan angkuhnya. Entah aku atau dia yang angkuh, aku selalu memandangnya sebagai ‘police line’. Hal yang jelas tidak aku sukai. Beberapa kali kucoba untuk tersenyum atau bahkan mengajukan beberapa kata candaan, tapi ia membuatku sangat campah dengan mengatakan bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dilalui tanpa berfikir. Mana ada orang yang berfikir saat mereka tertawa.

*****

Aku berjalan menyusuri trotoar, mempercepat langkahku. Tak kupercaya orang tuaku tak seorangpun datang untuk menyaksikan anaknya dilantik sebagai sarjana lulusan terbaik taun ini. Seberapa besarpun rasa angkuh dalam diriku, aku tetap menginginkannya. Bukan, tapi aku sangat-sangat menginginkan mereka ada disana dan memberikan sekali saja, senyuman mahal itu padaku.

Bruk... aku menabrak seorang wanita yang sepertinya juga sedang terburu-buru. Maaf katanya sambil berlalu. Aku menundukkan kepala dan juga akan berlalu. Kejadiannya terjadi begitu cepat, dan menimbulkan beberapa prasangka. Aku merogoh kantong celana bagian belakangku yang ‘telah’ kosong.

Langsung aku berbalik dan berlari mengekar wanita itu. Tas ini berat sekali hingga aku begitu sulit mengejar seorang wanita. Rasanya ingin aku berteriak, tapi tak mungkin aku setega itu melihat seorang wanita dikeroyok massa karna mencopet sedikit uang dari dompetku, yang hanya menurutku saja berharga.

Hilang, dia hilang.. sial. Bukan hanya uang, tapi surat kendaraan dan alamat suatu penerbit yang tak akan bisa kau temukan diinternet. Ada di dompet itu. Juga beberapa judul buku yang akan kupesan dari lur negri. Beberapa judul film yang akan kutonton. Dan secarik puisi.

Diambang kekesalan, aku masih saja berjalan diareal yang aku tak tau jelas tempat apa ini. Sambil menghela nafas panjang dan mengucap sedikit doa, aku melihat wanita tadi berjalan keluar dari sebuah warteg dengan membawa bungkusan. Baru saja aku berencana menangkapnya diam-diam, dia malah menoleh kearahku.

Lagi, lagi dan lagi kami berlari. Entah letih atau tidak wanita itu, aku merasa sangat letih. Hampir saja aku memutuskan untuk berhenti sebelum kulihat dia memasuki sebuah kotak di tempat perumahan kumuh. Tidak, aku tak berhenti. Kupercepat langkahku menuju tempat itu.

Aku menerobos masuk dan menunjukkan wajah bagai ingin membunuh siapa saja. Namun segera pudar saat kulihat wanita tadi terduduk bersama dua orang anak laki-laki kecil dekil kurus yang sedang menikmati hidangan nasi bungkus mereka. Tempat ini terlihat seperti hunian, ada banyak buku dimana-mana. Dan.. aku tau jenis buku apa saja itu. Sesuatu yang sepertinya aku suka. Sangat suka.

Wanita itu menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Gurat- gurat letih terlihat di wajahnya. Bukann letih karena adegan kejar-kejaran denganku, seprtinya sudah terpatri begitu lama. Ia cukup cantik untuk ukuran seorang gadis. Wajahnya benar- benar memelas padaku, seperti memohon untuk tak mengatakan apa-apa dihadapan kedua bocah yang sedang lahap ini.

Aku mulai berjalan mendekat pada mereka bertiga dan bersiap mengatakan sesuatu, wanita itu tampak panik dan menggeleng-gelengkan kepalanya padaku. Mungkin dia takut aku mengatakan dia mencopet dihadapan adik-adiknya. Ya, ungkin itu adik-adiknya. Kemudian aku berada sangat dengat dengannya.

Aku tersenyum dan mengulurkan tanganku. Kami berkenalan. Namanya Rika, dan kedua anak kecil itu Riki, dan Riko. Tanpa harus bertanya, tentu saja mereka bersaudara. Aku mengambil dompetku diluar tempat itu, diluar penglihatan Riki dan Riko. Terjadi percakapan singkat yang cukup menyenangkan antara aku dan Rika.

Aku     : kau suka sastra? Sejak kapan?
Rika     : ya, sejak kecil.. (tersenyum)
Aku     : ambillah... (memberikan sejumlah uang dan alamat)
Rika     : apa ini?
Aku     : jangan mencuri lagi, tulislah sesuatu dan kirimkan.
Rika     : kau punya alamat ini, apa kau juga suka sastra?
Aku     : ya, tapi aku akan melanjutkan usaha ayahku. Kau tau, cita-cita yang wajib menurun.
Rika     : sayang sekali, aku akan sangat senang untuk memilih jika jadi kau. Kau tau, segala sesuatu akan berjalan baik dengan komunikasi yang baik.

Aku sedikit terdiam, gadis ini seperti mengerti  dalam kondisi apa aku sekarang. Aku dan ayahku memang terlihat seprti pasangan anak-ayah yang harmonis, tak pernah bertengkar sekalipun. Namun tak sedetikpun aku berhenti waspada akan apa yang ingin diucapkan oleh ayahku. Ini semakin terasa seperti perang dingin.

Hari ini, hari dimana aku menjadi orang terbaik dimana aku berada. Ia benar-benar membuatku merasa kalah. Aku menghadapi semua ucapan selamat itu sendiri. Dan tak ada suka cita dalam sebuah keberhasilan yang seharusya terlihat sangat besar. Percakapan dengan Rika ini, membuatku makin merasa bahwa aku mempunyai pilihan yang seharusnya mudah.

*****

Sudah satu jam aku duduk di halte pemberhentian busway, tapi tak kunjung naik. Apa yang harus kulakukan sesampainya di rumah nanti? Mungkin ini adalah hari terakhir aku bisa bersuara. Kulihat lagi dua buku yang ada dalam tas besarku. Bukan buku ilmiah atau pelajaran, ini hanya sebuah novel dan majalah sastra. Ayo tomi! Fikirkan sesuatu yang bisa menghentakkan ayah dan menyadarkannya. Menyadarkannya bahwa aku adalah anaknya yang seharusnya juga memiliki pilihan seperti anak-anak lain. Aku juga punya hal yang ku suka dan tidak. Aku juga memiliki cita-cita.

Kali ini aku benar-benar menyiapkan diri  untuk memulai perang terbuka dengan ayah. Hari ini atau tidak sama sekali. Kubulatkan tekat dan mulai melangkah masuk ke dalam busway. Segala sesak dan bising tak terasa lagi. Fikiranku saat ini sudah berada dirumah, dihadapan ayahku menatap matanya. Ingat Tomi, komunikasikan dengan baik.

Aku berjalan dengan penuh kepastian menuju rumah itu, rumahku. Agaknya terlihat sedikit ramai, ada setidaknya 10 mobil yang di parkir dihalaman depan. Ada apa ini, pesta penyambutankah? Tidak mungkin. Satu yang aku rasakan saat ini. Sangat-sangat tidak nyaman.

Aku berlari masuk dan semua orang melihat kearahku, mereka semua bertampang sedih. Ini tidak baik. Aku berjalan lebih kedalam dan mendapat banyak pelukan, dari Ibu, adik-adik, hingga semua sanak saudara. Mereka semua disini. Ada apa ini?

Hampir lepas jantungku. Menangispun aku tak mampu, kulihat wajah angkuh itu dibalut kain putih. Lubang hidungnya disumbat kapas, dan benar-benar pucat. Kenapa? Kenapa ia terlihat tak berdaya? Dimana police line itu. Aku ingin memutuskannya. Jangan menjadi tak berdaya dihadapanku. Kau yang membuatku berjuang dijalan yang tak kusuka sampai saat ini. Sekarang aku siap melawanmu ayo bangun! Bangun! Banguuuuuuuuuunnn!!!

Suasana sudah sepi. Semua sunyi setelah seminggu berlalu. Aku masih merasa hampa, bagaimana bisa sebuah cerita berjalan tanpa seorang antagonis didalamnya? Aku bahkan tak merasa menjadi bagian dari cerita apapun saat ini. Hey.. aku bebas saat ini, bukankah seharusnya aku senang. Mari menulis sesuatu, atau membuat film. Ayo lakukan sesuatu yang aku suka, yang sangat aku sukai. Semua ini menjadi tidak menyenangkan.

Aku melihat beberapa kertas tunggakan tagihan bank diatas meja. Para investor mulai menarik modal mereka. Perusahaan ini akan segera pailit jika tak segera menunjukan peningkatan keuntungan yang signifikan. Ini bukan masalah kesenangan lagi, ini bukan masalah meyakinkan, atau mengalahkan pendapat ayah. Sebenarnya dari awal aku bebas memilih apapun. Semua ini memang sudah hidup dalam diriku sejak lama.

Aku bisa saja mengejar mimpiku sekarang, tapi untuk apa kemudian? Ada berapa mimpi yang kuhancurkan jika perusahaan ini bangkrut? Akan bertambah berapa banyak Rika, Riki, dan Riko di dunia ini karna keegoisanku. Masih bisakah aku bahagia sesudahnya? Akankah mereka bahagia jika hanya melihat orang sepertiku tersenyum nanti? Tapi, bisakah aku bahagia dengan melihat ribuan orang tersenyum untukku, nantinya?

*****

Baiklah Ayah. Mari berbisnis!
Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.

Contributors

Blog Archive