Stories and Sh*t

Monday, January 30, 2012

motif membuka profil FACEBOOK

Tak ada lagi manusia yang merasa asing dengan kata facebook...
Terutama dikalangan pelajar, mulai dri SD, SMP, SMA, juga mahasiswa dan umum... Bahkan TK! (mungkin).
Walaupun mengaku bukan pengguna, tapi minimal... Mereka mengenal 'fb' (facebook) dengan baik dan jelas...

Right.. Enough vo the opening... Now let's go to the major point of this note..
Yang menjadi pertanya'an adalah...
'APA YANG MENJADI ALASAN SEORANG MEMBUKA PROFIL fb ORANG LAIN'(teman di fb).??

Berdasarkan hasil Survei didapatkan 3 jawaban yang 'dduga scara absolut' tepat:

1. Penasaran...
2. Iseng2 brhdiah...
3. Perhatian...

Deskripsi:
1. Dsbutkan penasaran jika kita mungkin melihat statusny/phto/post lainny yg dianggap unik... Atw dia yg trknal...
Juga dpt dsbabkan karena mukanya yg tba2 nongol di layar fb anda eg: friend request, people you may know, org yg mencolek or mngrim pesan pda anda...

2. Iseng2 brhdiah... Biasany dilakukan oleh makhluk jomblo kurang krja'n, yg brhrap bisa mndpat cwek 'semi murahan'... Yg mau dirayu dgn kta2 najis.. eg: hai maniss... Thanx y da cnfirm.. BTW anag mana ne, bleh minta nope g? (lngsung sksd getho. jijay...)

3. Perhatian..
Biasanya dilakukan untk PDKT atw jga mngtahui keada'n org yg 'mungkin' disaiiangi.. eg: kluarga, saudara, org yg djadikan tauladan, atw pacar,..
Juga dpt dijadikan sarana menyimpan perasa'n pda org yg kita prhtikn, or saiiangi... eg: anda telah putus dgn pacar anda, tpi anda masih menyayangi dn ingin tw ke'ada'nny.. Krn gengsi scra lngsung.
Jdi anda mmbuka profilny (melhat sttuz atw post lainny) dn biasany mmkai tmbhan kecil dgn memberikn jmpol anda.. (like)..

Smoga ada yg membaca dn mnyukainy... (dn berhati,hatilah jika pasangan anda sering mmbuka profil mantan2ny...)

hhahaha

di copy dari note fb : Bocup D'lucky-boy
Share:

GALAU end



Saya perhatikan lagi photo dalam senyumnya yang sungguh menawan. Bukan candaan, kali  ini saya benar-benar berfikir akan rasa ini. Ingin melangkah namun hati teriring bimbang dalam senyum penuh kepalsuan. Sesaat saya sadari, perasaan saya belum beralih,  dari tempat dimana saya meletakkan sebelumnya.

GALAU sampai kiamat.
Share:

Tuesday, January 10, 2012

GALAU 4


Saya bener-bener nggak nyangka setelah sekian lama berlangsung, dan dengan memakai banyak bintang seperti para (maaf) lelaki boyband sm*sh, so nice memproduksi sebuah iklan yang cukup merarik. Dengan hanya memakai satu bintang dan dengan konsep yang tidak terlalu kreatif seperti biasanya, iklan ini dinyatakan layak tonton oleh, saya.

Bukan! Saya bukan mau cerita tentang iklan indonesia yang sudah mulai neko-neko dan sengaja buat iklan buat nunjukin kalo apa yang mereka tampilin di iklan itu boong, bukan. Hari ini saya galau lagi. Galau menn galau...

Mungkin ini disebut karma. Karna tiap hari, pasti ada waktu dimana saya ngejek seorang temen saya yang badannya sekarang hampir nyamain gajah, bukan... bukan ngejekin badannya. Tapi ngejekin kisah dramatisnya waktu SMA dulu. Mau tau ceritanya? Panjang menn, intinya dia pernah disakitin sama cewek. Katanya sakit banget sampe mau mati, dia bahkan nggak bisa lagi ngerasain rasa lain selain sakit. Sampe makanannya dicampur bulu ketek juga nggak kerasa, ketika makanannya diganti bulu ketek semua juga nggak kerasa. Gila! Ampuh bulu ketek saya udah ada yang makan.

Nahh, kali ini saya emang nggak sakit hati tapi mendapat fenomena perasaan yang lain namun pada tempat yang sama yaitu hati. Galau bukan sembarang fenomena perasaan yang harus ditanggapi dengan santai dan tidak serius. Galau itu bisa menjadi penyakit yang kronis jika tidak segera ditangani dengan keputusan hati yang tepat. Dan sampe sekarang saya belum bisa mengambil keputusan yang tepat itu. Apa yang harus saya lakukan? Kekamar, tidur... ngorokk..

Setiap kali saya melihat mata yang besar dan bersinar itu, saya jadi inget sesuatu. Sesuatu yang selalu dekat dengan keseharian saya dan sangat saya butuhkan, bola lampu. Atas dasar kemiripan itulah timbul sesuatu mirip lainnya, yitu sifat kebutuhan akan dirinya. Disisi saya, disini, saat ini. Ohhh malang nasib anak muda.

Galau demi galau sudah saya lalui dan hari-haripun serasa selalu mendung, terlihat dari pakean saya yang udah tiga hari dijemur dan belum kering. Namun mendung yang sesungguhnya ada dihati ini, hati ini membutuhkan bola lampu itu untuk membuatnya kembali cerah. Hati ini membutuhkan hati lainnya untuk saling mengisi, mungkin saling bertukar empedu atau apalah... hati ini benar-benar kesepian karna tubuh ini hanya mampu menampung satu hati, bukan dua.

Sedikit miris waktu saya liat temen-temen saya semuanya pada telponan di malam minggu, tapi saya segera baik kembali ketika saya tau ternyata mereka semua pada ditelponin sama bapaknya. Bahkan saya sampe kaget, karna semua permasalahan ini membuat saya kacau. Ketika saya menggenggam rambut mencoba sedikit menjambaknya, rontok! Semua rambut digenggaman saya rontok. Apa separah inikah? Dan kemudian seseorang berkata, “mas tangannya jangan dikepala dong, ntar ikut kegunting lo”. Oh ya ternyata saya emang lagi potong rambut.

Tak ada cara menemuinya, tak ada cara menghubunginya, dan kalaupun ada saya pasti nggak berani untuk mulai. Tapi saya tak mampu terus berada dalam kegalauan ini, saya nggak mau jadi galauers salamanya. Baiklah, saya memutuskan untuk bergerak. (sembari memaju-mundurkan jempolkaki) ya, saya rasa saya sudah bergerak.

Sedihh banget sambil dengerin lagu peterpan dikamar sendirian. Suasana kayak gini nggak baik buat saya, kenapa? Karna suasana sepi dengan lagu melow peterpan ini membuat saya mengingat kasus Ariel-Luna.

Saya coba tidur, mimpiin dia. Saya coba nyanyi, eh kesebut namanya. Saya coba nulis, eh ternyata yang saya tulis tentang dia semua. Saya boker di WC, nggak! Sumpah saya nggak mbayangin dia. Keluar dari WC timbul pemikiran untuk ngelupain dia, dengan cara mengingat semua hal buruk tentang dirinya. Kira-kira apa ya?

Saya bayangin idungnya, nggak bagus, tapi imut.. bikin pengen narik-rarik. Bayangin bibirnya, indah bro, dengan warna merah yang bikin  inget teruss.. bayangin matanya, wow, bersnar terang menerangi jiwa ini.. bayangin rambutnya, panjang dan tertata bikin... bikin... ah... bikin tambah galau! It doesn’t work. I gotta forget her to survive but I can’t. I don’t wanna run away but I can’t take it I don’t understand, if I’m not made for U than why does myheart tell me that I am. Is there any way that I can stay, in your heart... I become so numb!

Makin hari makin jauh, makin GALAU.
Share:

SEBUAH KISAH SEDERHANA part 2




Mati aku kesiangan! Kataku langsung mematikan alarm dan bergegas ke kamar mandi, uh.. aku lupa lagi. Dari hari pertama tidak seharipun aku tidak lupa bahwa aku ini sudah lulus SMA sejak minggu lalu. Kepalaku sedikit pusing dan Mbak Surti masuk ke kamarku mengantarkan sarapan, artinya orang tuaku masih belum di rumah.

Semalam aku bermimpi, mimpi yang sangat aneh. Sepertinya aku membeli seorang wanita. Hahaha.. mungkin akan kulakukan suatu saat nanti. Kumakan lahap roti isi keju buatan Mbak Surti ini. Bukan bermaksud menjadi anak durhaka tapi roti ini terlihat seperti wajah kedua orang tuaku, membuatku makin lahap  memakannya.

Ingin kuisi hari-hariku dengan mengambil bimbel atau semacamnya. Tapi aku sudah diterima di salah satu perguruan tinggi negri yang, sangat-sangat berkelas. Jadi aku tak diperbolehkan mengambil bimbel apapun. Sial. Mereka tak memikirkan faktor lain selain pelajaran. Mereka tak mengerti rasana jadi seorang remaja tanpa teman.

Kucoba melakukan beberapa hal melelahkan agar mengalahkan lelahnya perasaanku ini. Kurombak kamar yang besar ini menjadi bentuk yang berbeda, lemari yang besar itu kupindahkan kesana-kemari, meja yang hampir tak dapat kugeser ini akhirnya juga berpindah tempat, mungkin sekitar 5 cm dari tempat semula. Kubongkar rak buku dan kususun kembali seperti orang gila. Melelahkan memang, dan akupun tertidur. Pulas...

Hampir saja aku tertidur sampai pagi kalau saja Mbak Surti tidak membangunkanku untuk makan malam. Ternyata orang tuaku sudah pulang, dan itu artinya aku harus duduk di meja makan bersama mereka. Sesuatu yang saat ini sudah sangat jarang terjadi. Aku bergegas mandi dan duduk berhadapan bersama mereka. Kami makan dengan sangat tenang, selesai makanpun sangat tenang. Hampir tak dapat kupercaya bahwa kami sama sekali tak berbicara. Sedikitpun tidak.

Aku duduk diranjang dan berfikir hal yang macam-macam. Entah mengapa suasana sepertinya menjadi sangat sunyi. Jangkrikpun tak bersuara. Aku menatap langit-langit kamarku dan entah mengapa aku menjadi sangat sedih. Aku terus menoleh keatas menghalangi air mataku untuk mengalir tapi tetap megalir juga. Apa benar mereka pernah menggendongku waktu aku kecil. Apa benar mereka pernah menggantikan popokku. Apa yang salah dengan hidupku ini.

Malam ini aku tak bisa tidur sampai pagi, kupandangi mereka yang bersama menaiki mobil mereka meninggalkan rumah ini. Kenyataanya aku hampir tak mengenal mereka. Terus kupandangi jendela ini mengarah keluar, memperhatikan orang-orang yang lalu lalang dijalan depan rumahku. Kadang ada yang berpasangan lelaki-perempuan, kadang ada yang bersama sekeluarga, kadang ada yang bersama anjingnya,  tak ada yang sendiri.

Mungkin aku sudah sampai titik batas emosiku hari ini. Tangan dan seluruh tubuhku seolah bergerak sendiri menyiapkan peralatan. Peralatan untuk hidup diluar rumah ini. Dalam sebuah tas besar dan satu kantong kecil. Jaket dan sepatu pun sudah kukenakan walau dengan fikiran yang masih kosong. Lengkap dengan topi untuk melindungiku dari terik. Satu hal lagi, kartu ATM.

Aku mengeluarkan kepalaku dari balik pintu kamar memastikan tak ada Mbak Surti di sekitar sini. Kutengok pos satam dari jendela juga sepi, sepertinya mereka sedang tidak di depan. Setengah menunduk kususuri dapur dan ruang tengah serta ruang tamu untuk menjaga agar Mbak Surti tidak melihat aku pergi. Setelah itu aku berlari sekuat-kuatnya menyusuri taman dan segera keluar pagar rumah itu. Maksudku, penjara itu. Mau kemana aku?

Kakiku melangkah saja tak tau mau kemana dan akhirnya berhenti di salah satu terminal kota ini. Setelah berfikir sejenak, kubeli satu tiket menuju, Jakarta. Siang dan terik panas membuatku begitu kepanasan. Tas besar inipun ikut membuatku lelah, lelah sekali. Aku mencari tempat duduk yang rindang dibawah pohon didekat seorang nenek yang berjualan bakwan. Ahhh, segar sekali. Bis masih berangkat 2 jam lagi dan suasana sejuk ini membuatku, tertidur...

Sial! Aku bangun dan bergegas menuju loket yang sudah sepi. Kuperhatikan sekeliling dan jumlah orang sudah berkurang drastis menjadi hampir dapat kuhitung dengan jari tangan ini. Aku terperanjat sejenak dan melihat kearah arloji dengan ragu. 18.00. hhahahaha aku tertidur selama 4 jam dan tertinggal bis. Hhahahaha sembari menyobek tiket dan menendang nendang batu dengan kesal.

Kubuka handphone dan terlihat 13 missed calls. 10 kali dari supir bis tampaknya, dan 3 kali, dari Ibuku. Ada beberapa sms juga dari Ibu dan ayahku yang menanyakan dimana aku sekarang, katanya mereka khawatir. Ingin muntah aku membacanya, khawatir tapi hanya mencoba menghubungiku selama tiga kali? Bahkan supir bis itu lebih khawatir padakau.

Sekarang harus kemana aku? Bingung akan kemana dan tak ada tempat menginap. Hari mendung, mungkin sebentar lagi akan hujan. Ingin rasanya aku menyewa sebuah kamar hotel, tapi itu akan menghabiskan uangku dengan cepat. Semakin cepat uang habis, semakin cepat aku kembali kerumah itu. Aku tidak mau.

Beberapa kali Hpku berdering lagi, kumatikan saja. Berisik. Kemudian aku mulai berfikir dimana tempat inap yang tak akan menyedot kantongku, sebelum aku mendengar suara adzan maghrib. Kusempatkan shalat berjamaah di masjid dengan beberapa orang yang nampaknya beriman. Bahkan kesempatkan sampai shalat isya, sebab tak ada tempat lain untung bernaung. Ingin bermalam dimasjid ini tapi aku merasa tak sopan, aku bahkan jarang menghadap-Nya.

Hari sudah benar-benar malam dan aku lapar. Tas ini berat sekali, dan kakiku hampir patah berjalan kesana-kemari tak tentu arah. Tak berapa lama setelah keluhan-keluahanku, hujan pun turun dengan santainya. Hampir saja membasahi seluruh tubuh ini beserta tas yang kubawa kalau saja aku tak cepat masuk kedalam taxi yang kebetulan melintas.

Saat masuk kedalam taxi aku memang tak memikirkan mau kemana, jadi sekarang aku bingung menjawab pertanyaan supir taxi ini. Karna tampangku yang mungkin kurang meyakinkan supir ini terus menanyai tujuan kami. Dengan sembarang jawab pun memberikan alamat rumah lamaku yang masih bertempat di kota ini.

Dalam perjalanan yang macet aku menyaksikan kota Surabaya ini yang ternyata cukup gemerlap di malam hari. Ada beberapa pasangan yang lalu-lalang dengan motor mereka, beberapa anak sekolah yang masih berseragam, sepertinya mereka keluyuran sebelum pulang. Ada juga segerombolan orang berkaos hijau dalam sebuah bak truk yang ramai. Truk itu bertuliskan bonex. Apa itu bonex?

Aku berhenti didepan rumah yang dulu pernah kutempati, sekarang rumah ini terlihat sangat kecil. Aku memiliki kunci cadangan rumah ini, mungkin ini tempat yang tepat untuk menginap malam ini. Orang tuaku pasti tak menduga hal ini. Kalau ada tempat yang mereka datangi untuk mencariku pastilah itu hotel.

Perlahan kubuka pagar tanpa suara. Tak boleh ada tetangga yang tau aku menginap disini sendirian, siapa tau mereka masih memiliki kontak orang tuaku. Atau mereka masih berhubungan dengan tetangga lama, segala sesuatunya harus berjalan dengan tenang.

Aku berjalan dengan sangat perlahan menuju pintu belakang rumah dan mencoba memasukkan kunci lalu kreeeek.... tiba-tiba pintu terbuka tanpa menggunakan kunci. Siapa? Orang tuaku kah? Atau pencurikah? Seketika itu jantungku hampir berhenti karna kaget. Ini tidak mungkin orang tuaku. Pagar depan masih dikunci dan lampu teras serta ruang tamu juga dimatikan. Hening sekali membuatku semakin takut untuk bergerak. Dengan sedikit keberanian yang tersisa aku mesuk lewat belakang dengan sangat pelan dan nyaris tanpa suara. Kulihat arlojiku dan waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. dalam hatiku berdoa agar setiap langkahku dipenuhi keberuntungn, kabulkanlah doa hamba-Mu yang lapar ini.

Kulihat dapur dengan tatanan yang sedikit berantakan. Ada bekas seakan seorang baru saja memasak mie instan, semakin mengherankan dengan hanya menghidupkan lampu ruang tengah dan dapur saja. Tapi dimana orang itu? Ku periksa 3 pintu kamar yang ada tapi masih terkunci rapat. Mungkinkah ada seorang yang menginap disini selama ini secara diam-diam? Atau mungkin simpanan ayahku? Atau ibuku? Ahhh... berfikir kemana aku ini.

Kucari ia disetiap sudut rumah tapi tak ada orang. Hampir lega hati ini sebelum akhirnya terdengar suara air mengalir di kamar mandi. Ya ampun aku belum memeriksa kamar-kamar mandi. Jantungku berdebar kencang sekali, ini lebih mirip seperti film horror untukku. Manusiakah? Cepat kuambil payung yang ada didapur dan merapatkan tubuhku di dinding sebelah pintu kamar mandi.

Lagi kudengar air itu dengan suara yang lebih keras seperti orang yang mengayunkan dayung sedang mandi. Tak terasa keringat dingin mengalir disekujur tubuhku. Mataku begitu tajam sampai lupa untuk berkedip, begitu menunggu apa yang sebentar lagi keluar dari balik pintu itu. Mulutku komat-kamin tak karuan dan terdengar seperti mantra.

Sepuluh menit sudah aku berdiri kaku menunggu sesuatu itu keluar namun belum juga keluar. Apakah benar ada sesuatu dikamar mandi? Bagaimana kalau ternyata kamar mandi ini kosong, lalu suara apa barusan? Haruskah kudobrak saja, atau aku teriak saja agar banyak orang yang datang kemari dan mengeroyok bersama-sama, tapi dengan begitu mereka akan mengetahui kalau aku disini. Lama aku berfikir, kulihat arloji menunjukkan pukul 22.20. kemudian tiba-tiba pintunya terbuka!

Dengan cepat aku berbalik kedepan pintu dan mengayunkan payung kearah seorang... lemas sekali lenganku yang kaget menghentikan ayunan tangan ini. Seorang wanita yang sangat-sangat cantik dengan perawakan yang putih menggunakan handuk saja berada didepanku saat ini. Sedikit lebih rendah dariku dan rambutnya basah berwarna hitam. Tangannya menutupi mulut yang seakan menjerit dan wajahnya berekspresi sangat takut. Aku bengong antara perasaan bertemu bidadari seperti mimpi, dan kaget setengah mati. Kami saling berhadapan dengan waktu yang sepertinya berhenti. 

Bersambung....

Share:

Sunday, January 8, 2012

GALAU 3


Biarlah tangan ini mengetik mengalir bagai perasaan yang telah dipenuhi air, air mata. Sampai detik terakhirpun saya mengakhiri diri sebagai pecundang yang takut memulai cinta karna alasan klasik, ekonomi. Ekonomi bro! Ini membuktikan saya belum mampu melewati batasan ranjau kehidupan. (perang dorr dorr ambil pistol, tembak mati.) jangankan mau nembak ngomong aja susah.

Hari ini kayaknya bener-bener hari terakhir buat saya liat muka dia yang super imut, kaya badak. Tapi apa? Bahkan saya tidak memberi suatu momen positiv yang bikin dia bisa inget sama saya gitu, mungkin dia inget bibir saya karna bau jengkol tapi nggak! Ibarat nilai pertemuan saya tadi adalah mines. Yang malah menghapus sebagian ingetan dia tentang saya, mungkin semuanya.

Atas dasar perasaan yang masih membara, saya buat satu puisi untuk dia tentang dia yang berjudul, DIA (iringan musik orkestra bergemuruh). Bukan Cuma itu, saya juga berharap suatu yang nggak mungkin dengan memasang photo dia diatas puisi tersebut. Berharap dia liat, terus sadar dan tumbuh perasaan ke saya. Setelah dia baca, ada malah perasaan benci yang tumbuh.

Saya galau, bukan lagi tingkat polisi tidur tapi tingkat polisi bangun (permisi dek, tolong SIM dan STNKnya) nah lo? Saya mau jawab apa? Saya belum punya SIM. Saya juga nggak punya motor atau mobil jadi gimana mau punya STNK. Emang sepeda harus punya STNK? Gimana kalo polisinya bangun? Apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya bilang kalau saya galau? Ahhh jangkrik-pun tak mengerti apa yang kurasa dan apa yang kukata. Lagi pula, saya juga nggak punya sepeda!

Saya sesak dan nulis agak gemeteran, pengennya ngomong kalo saya suka sama dia. Tapi begitu saling hadap muka langsung lupa. Bahkan lupa kalo saya belum ngisi satu nomerpun pada kertas ulangan. Hari ini semesteran mamen, jadi nggak bakal ada pertemuan dia sama saya setelah ini. Kecuali semester depan kami sama-sama ngulang. Mahhhaaap bae.

Galau memang jadi hal yang biasa saat ini, dikit-dikit galau. Diputusin galau, nggak punya pacar galau, nggak punya duit galau, nggak suka lawan jenis.. gila coyy. Tapi galau ini adalah galau yang tingkatannya tinggi. Saya tau kalau dia pasti nggak bakal nerima saya kalau, saya tembak. Tapi saya masih punya keinginan untuk sekedar nyoba, nyoba bilang kalau saya nggak bisa sehari saja menahan otak untuk nggak ngebayangin tentang dia. Mungkin rambutnya, bibirbya, idungnya, bulu idungnya, upilnya, apalah...

  Saya ingin dia tau, sekedar tau kalu saya nulis tentang dia bahkan sampai GALAU 3. Udah berapa kalimat itu? Ini lebih dari puisi, dan kalau bahkan dari puisi saya juga udah buat puisi tentang dia, bukan tentang upilnya. Dan kalo dia mau minta buatin tentang upilnya juga pasti saya buat kok. Mungkin upil yang besar, upil yang bundar, upil yang tegar, upil yang terbuat dari perak atau apa aja bakal saya tulis. Apapun kecuali disuruh liat upil aslinya.

Ngomong-ngomong soal galau tadi saya ketemu lagi sama dia, nggak terlalu bersapa tapi cukup dengan lirik mata. Cuma saya yang ngelirik, dia nggak. Sakitttttt. Tapi hasrat walau tinggal hasrat tetap menarik mata untuk selalu memperhatikan dia. Sekali lagi memperhatikan dia, bukan upilnya. Walau jauh dari kategori cantik tapi dia memang menarik, saya rasa bajunya dilapisi magnet. Tapi satu hal yang saya percaya adalah setiap manusia memiliki kesempatan. Semenarik apapun dia, dan sepantas apapun saya untuk ditolak, saya tetap bebas mengeluarkan pendapat. Hal itu jelas tercantum dalam peraturan perundang-undangan saya lupa pasal berapa.

Tapi walau sudah dijamin kebebasanya, saya tetep bersikukuh memendam ungkapan yang mengandung begitu besar perasaan ini. Gimana kalau ditolak? Gimana kalau dia nggak suka? Dan gimana kalau upilnya bener-bener BESAR?

AKUUUU GAAALLAAAAUUUUU

Share:

SEBUAH KISAH SEDERHANA


*Ini merupakan cerita fiktif dan rekayasa. Semua bahasa dalam cerita ini telah dibahasa Indonesiakan.


SEBUAH KISAH SEDERHANA...

Hari ini aku sendiri lagi dirumah. Tak ada Ibu, tak ada Ayah. Bercermin sendiri di depan kaca yang cukup meriah dengan tempelan-tempelan gambar aneh. Dengan seragam yang cukup rapi walau aku baru saja pulang sekolah. Tak seperti pelajar-pelajar lain yang pasti sudah bertampang kudel saat ini. Aku benar-benar tak memiliki alasan untuk menjadi kudel.

Namaku Rio. Rio Anjasmara lengkapnya. Saat ini mungkin masih berstatus pelajar SMA. Seorang  yang sangat kesepian, hal ini kualami sejak Ayahku menjadi bagian dari Parpol ternama dan menjabat sebagai badan anggota legislatif . Ibuku? Entah apa yang Ia kerjakan, yang pasti aku hampir tak pernah melihatnya berada dirumah jika Ayah juga tidak dirumah.

Bahkan kapan terakhir kali aku mencium tangan kedua orang tuaku pun aku lupa. Terkadang terfikir untuk mencari kesibukan diluar rumah, namun aku adalah orang yang cukup pemalu. Semua temankupun memiliki sifat yang nyaris sama, kami tak mempunyai seorang temanpun dari kelompok yang berbeda. Jadi tak ada harapan untuk hang out bersama mereka.

Asal tau saja, bahwa aku adalah orang yang cukup kaya. Mungkin bisa disebut kaya raya, namun percayalah uang tak bisa membeli kebahagiaan, mungkin bisa kesenangan, mungkin bisa kemenangan, tapi tidak kebahagiaan. Disini aku terpuruk, bercermin sendiri memelototi seragam sekolah yang hari ini terakhir kali kupakai. Masih bersih tanpa coretan. Akupun pulang lebih awal tanpa pawai keliling kota seperti yang lain.

Masa libur sekolah berakhir dan masa kuliah baru akan dimulai 4 bulan lagi. Seumur hidup, ini akan menjadi kekosongan yang paling berat diantara yang lain. Apa yang harus kulakukan? Aku bisa menggambar, hal yang sangat aku sukai. Tapi sangat tidak mungkin aku melakukan hal yang sama setiap harinya selama 4 bulan. Itu namanya mengisi kekosongan dengan kebosanan.

Hari berganti dan aku terlarut dalam rasa penat yang dalam. Kucoba mencari teman ngobrol di facebo*k tapi aku terlalu malu untuk membuka percakapan. Aku juga tak punya account situs jejaring sosial yang lain selain ini. Menonton televisi sampai mataku sakit, atau bermain vidoe game sampai level tertinggi selesai, hanya itu yang kurasa selama -yang rasanya- setahun ini. Kenyataannya, waktu baru berjalan satu minggu.

Kubuka laptop dan memulai petualangan dunia maya. Membaca beberapa berita dan melihat beberapa video lucu atau unik di Internet. Sesaat setelah kesalahan pengetikan ternyata aku salah memasuki alamat yang berujung pada situs penjualan on line. Tidak langsung keluar aku malah memperhatikan beberapa jenis barang yang ditawarkan dalam situs tersebut. Ada karpet, alat masak, sepeda, kendaraan bermotor, dan barang-barang elektronik serta wanita. Hey! Wanita.

Tok..tok..tok... Mbak Surti masuk kekamarku, secepat mungkin kututup laptop yang sekarang ada dihadapan. Mbak Surti hanya mengantar makan malam, karna Ayah dan Ibu tidak pulang jadi makan malamku diantar kekamar saja. Sesaat setelah ia menaruh makanan, Mbak Surti langsung beranjak keluar. Ingin rasanya kupanggil ia untuk diajak sekedar ngobrol, tapi aku tak berani. Kalau saja Ia mau kubeli waktunya sejam untuk diajak ngorol, jadi aku tak sungkan lagi. Tapi itu kemungkinan dipandangnya sebagai sesuatu yang tidak sopan. Membelinya? Tentu saja itu tidak sopan.

Sesaat setelah Mbak Surti pergi, kubuka lagi laptopku sembari memakan sedikit demi sedikit nasi. Kuperhatikan beberapa iklan penawaran dengan seksama, ada beberapa comand permintaan pembelian dengan harga yang telah ditetapkan oleh website tersebut. Kulihat bagian penjualan wanita, menarik dengan pajangan beberapa photo wanita hampir bugil. Tidak ada harga atau contoh gambar barang pada laman penjualan ini, hanya ada beberapa gambar pajangan wanita dan sebuah tulisan. Pemesanan dapat dilakukan melalui e-mail : laman-wanita@toko___online.us , harga dapat didiskusikan sesuai jenis dan lama waktu pemesanan. Gila! kataku.

Malam makin larut dan aku tak bisa tidur, semakin mempersulit karna aku tak memiliki tugas yang harus dikerjakan. Apa yang harus kulakukan? Tidak bisakah aku membeli seorang teman, jadi dia bisa menemaniku kemana saja tanpa harus kumintai persetujuan, jadi aku tak perlu repot-repot menjaga perasaannya karna aku tak tau bagaimana membuat seorang merasa nyaman bersamakau, jika bisa akan kubeli.

Berfikir tentang sebuah pembelian, aku ingat toko online itu. Setelah melalui beberapa pemikiran aku membuka laptop dan memulai sebuah percakapan via e-mail yang kurasa cukup mendebarkan. Begini percakapannya...

Aku                  : saya ingin memesan seorang wanita.

Toko online      : selamat datang di toko___online.us , silahkan masukan kategori umur wanita yang anda pilih, berkisar antara 14-35 tahun. (gila, mereka menjual gadis 14 tahun?)

Aku                  : 17.

Toko online      : silahkan masukkan kategori wanita yang anda inginkan berdasarkan relatifitas sturktur wajah dengan pilihan: sangat cantik, cantik, lumayan cantik, cukup cantik.

Aku                  : sangat cantik.

Toko online      : silahkan masukkan kategori bentuk tubuh wanita yang anda inginkan dengan pilihan: ideal, proporsional, kurus, berisi.

Aku                  : proporsional.

Toko online      : silahkan masukkan kategori wanita yang anda inginkan berdasarkan pengalaman kerja dengan pilihan: pornstar, profesional, regular, amatir.

Aku                  : amatir.

Toko online      : silahkan pilih               : a. Anda memesan wanita dengan kontrak kami sehingga untuk menghubunginya lebih lanjut harus melalui kami terlebih dahulu.
 b. anda meminta kami mencarikan wanita bebas yang         sewaktu-waktu bisa anda hubungi tanpa melalui jasa kami.

Aku                  : b.

Toko online      : pesanan sedang diproses. Berdasarkan karakteristik wanita pilihan anda, kami menawarkan harga Rp. 6.000.000,- termasuk biaya trasnportasi.

Aku                  : gila! 6 juta untuk satu wanita?

Toko online      : apakah anda ingin mengajukan penawaran harga tuan roi? ( Roi dari nama e-mail yang barusan kubuat roi-maranjas@ya*oo.com).

Aku                  : tidak, tapi saja mengajukan kenaikan kualitas dengan, Rp. 6.000.000,- untuk yang masih perawan.

Toko online      : maaf kami tidak menyediakan wanita dengan ciri tersebut. Namun jika anda begitu berantusias, kami bisa mendapatkannya dengan tenggat waktu sedikit lama.

Aku                  : berapa lama?

Toko online      : maksimal 5 hari.

Aku                  : deal!

Toko online      : silahkan masukkan alamat pengiriman dan kirimkan biaya transaksi ke nomer rekening man*iri : 309-22-2375867-2. Proses pencarian akan dilakukan sesaat setelah pembayaran dilunasi.

Aku                  : komplek mekar sari jalan nusantara 3 nomer 13, Surabaya. (rumah lamaku yang kosong dan akan dijual, tapi belum laku.)

Toko online      : terimakasih atas kunjungan anda ke toko___online.us . semoga hari anda menyenangkan.

Aku sedikit gemetar sesaat setelah itu, antara lega dan ragu... apa yang aku lakukan sebenarnya? Harus beginikah? Ayolah 6 juta itu bukan jumlah yang sedikit walau untuk ukuran orang sepertiku. Tapi aku hampir mati disini, semua sunyi. Dan kurasa orang tuaku tak akan mempermasalahkan. Tidak, mereka bahkan tidak tau sekarang aku masih bernafas atau tidak. Mereka tidak mungkin peduli. TIDAK MUNGKIN.

Dengan kata lain aku menghabil HP-ku dan melakukan mobile transaction. Selesai. Sudah selesai Rio, tak perlu ragu, kau akan melakukannya. Ya! Aku akan melakukannya. Lalu aku tertidur.. tidur dengan nyenyak sekali, sembari membanyangkan apa yang akan terjadi pada lima hari kedepan. Bukan, dia berkata maksimal 5 hari yang artinya ini bisa saja berlangsung kuramg dari 5 hari. Aku akan mengatasi ini sebentar lagi. Tak akan bosan lagi. Sebentar lagi....

Zzzzz.... bersambung..


Share:

Friday, January 6, 2012

DIA

Aku merasa gemeter seperti menggigil..
atau tersengat sedikit listrik...
mataku berayun kesana-kemari dantetap berhenti padanya
jantungku berdegup seperti ketika aku berlari dari herder
dan jari tanganku, dan meja menderik seperti jangkrik saat sunyi
berada didekatmu memang sebuah siksaan.
yang aku sukai...
Share:

Tuesday, January 3, 2012

photo-photo galauers











Share:

Road to 2012 part 2


Hari terakhir tahun ini pengen muas muasin diri buat berekspresi. Mulai dari ngeden nyanyi rock di karaokean, sanpe ngeden di wc.

Kami pulang kerumah dengan wajah yang lesu dan baju yang lumayan lembab. Tambah murung lagi liat air di kost sebelumnya ternyata belum terisi juga. Setelah dicek ternyata ibu kost lagi nggak bersarang dirumah. Pantesan aernya nggak nyala-nyala.

Dengan tampang kusut saya mengambil inisiatip untuk membeli tisu. Serbu! Abis sekali pake tanpa bisa membersihkan apapun kecuali belek. Bingung mau kemana hari ini dengan tampang yang begini? Bingung serba bingung dalam suasana hampir taun baru. Karna bingung sangat, kami berlima mutusin untuk mampir kerumah temen yang nagadain acara selamatan, slamatan karna udah masuk IPDN.

Sesampainya disana tanpa membawa urat malu langsung nyerbu makanan. Dapet makan gratis, plus info gratis. Ternyata eh ternyata, mahasiswa IPDN itu nggak boleh emana-kemana kalo nggak make baju yang punya inisial IPDN. Kalo jalan-jalan pake kaos, berarti harus pake training. Kocak abis. Satu hal lagi yang baru saya tau dan bikin ketawa sampe hampir gila. Mahasiswa IPDN itu kalo photo nggak boleh senyum.


 Nah lo, saya ketawa sepuas puasnya waktu ngajakin dia photo.

Kami-kami emang calon orang sukses, ada yang masuk STAN Jakarta, STAN Palembang, FASILKOM dan Hukum UNSRI, UGM, IPDN, dan saya.... plis jangan ketawa, Pertanian UNSRI. Dengan bangga gubernur mahasiswa kami menyatakan bahwa pertanian itu adalah kebutuhan kedua setelah bernafas. Jadi kita lebih hebat dari mahasiswa kedokteran. *nyengir dikit.

Menjelang sore kami dan kakaknya tuh temen saya yang masuk IPDN, jalan-jalan buat karaokean. Temen saya itu sengaja nggak ikut karna ternyata mahasiswa IPDN juga nggak boleh ke tempat karaoke. Besar amat perjuangan, saya doain sukses bener dah. Tapi memang sial menanti kami, parkir mobil macet abis. Nunggu buat markir aja sejam. Saat ditempat karaoke salah satu mike rusak! Tempat tidak nyaman dan WTF, Rp. 115.000,- di siang hari!

Menjelang taun baru kami nggak tau mau pergi kemana. Mondar mandir sana sini belum bandi, lontang lantung belima ditengah jalan dimalam hari sambil photo-photo dibawah jembatan layang udah kayak boyband.

Boyband lagi ngemis... bau amis muka dekil belum mandi. Krisiss abiss.

Tersiksa batin, akhirnya kami memutuskan kembali kerumah temen kami yang masuk IPDN tadi. Dan disini drama mulai terjadi, begini ceritanya....

Saya, dan Imam salah seorang teman kami berencana ngambil duit di ATM sekalian beli cemilan nungguin malem pergantian tahun. Kami berangkat pake motor temen saya yang lain yang bernama pascal. Sesudah ngambil duit, si Imam ngajakin makan dulu. Yaudah saya turutin ikutan makan juga sama dia.

Sesaat setelah makanan dipesan, Pascal menelfon Imam meminta motornya kembali karna ternyata orang tuanya datang ke kost. Dengan sangat terpaksa saya merelakan Imam meninggalkan saya sendiri yang sedang menunggu pesanan. Sejam berlalu dan waktu menunjukkan pukul 22.30. saya masih bengong nungguin si Imam. Sendiri.

Beberapa menit kemudian Imam pun datang dengan cahaya tapi nggak pake sayap dipunggung. Ternyata eh ternyata si Pascal udah terlanjur pergi tanpa motor tersebut, karna udah kelamaan ditungguin sama ortunya. Tapi dia tetep minta jemput. Bonceng tiga asoy geboy ditengah kota. Marilahh rela aja Cuma malem ini.

Sesampainya dikost Pascal ternyata kosong dan dikunci. Badan yang capek ini mulai lunglai tapi masih deh saya kuat-kuatin buat liat sms di hp. Dan ternyata ommmeGod. Ini sms dari Pascal yang isinya, pemberitahuan bahwa dia ketemuan sama ortunya di PakJo, bukan plaju. Hampir merah ini muka berlapis antara capek, debu, dan keputusasaan.

Pukul 23.30 kami sampai di tempat dimana Pascal berdiri dengan senyum polosnya. Dimana saya duduk diboncengan motor dengan muka super HOT (nggak cool ). Akhirnya kami beertiga menaiki motor yang mati pajak dan tanpa STNK ini melalui jalan pelosok-pelosok jauh biar nggak kena Razia Polisi.

Terbebas dari polisi namun terjerat nasib yang sampai saat ini konsisten BURUK. Pukul 00.00 taun baru kami dihiasi dengan kembang api dilangit jalan Palimo. Kenapa masih dijalan? Motornya mogok. Nggak ada bengkel buka dan tak satupun diantara kami yang ngerti. Ini motor mau apa. Kurang apa. *ndorong 5 KM dengan track naik turun secara bergantian.

Sampe dirumah yang dituju mengharap kesialan habis ternyata TIDAK. Makanan mayoritas udah abis dan jagung bakar tersisa Cuma 2 untuk 3 manusia. Sialnya lagi karna masalah ledeng yang rusak ternyata disinipun tak memiliki cukup air untuk BAB. *nahan bokong sambil nahan nangis.

Dalam segala kepenatan dan daki yang makin lengket, saya Cuma mau ngucapin.

01.30 à wellcome to 2012.

Share:

Road to 2012 part 1


*ini cerita nyata yang amat dramatis. Silakan hayatin tapi pliss jangan nangis. Karna kamu jelek kalo senyum dan ketawa. Apa lagi nangis. Maaf kalo bumbu boongnya kebanyakan karna yang nulis humoris, apapun yang penting baca artikel ini gratis.

2 hari lagi taun baru 2012, hari ini masih belum ada tempat dan rencana. Hari menunjukkan hampir pukul empat sore jadi saya beserta rombongan memutuskan untuk jalan-jalan ke mall sambil mikir besok mau kerumah siapa, ngapain. Sebelum berangkat ke mall mau mandi dan kesialan pertama pun yerjadi. Nggak ada air. Ohhh ibu kos temen saya pelit seperempat idup nih. Emang PDAM di Palembang mahal ya? Mahal mana sama bayaran kosan ini?

Tersepak saya dan beberapa temen lain pergi ke mall dengan menahan sedikit rasa gatal dan banyak beban, M-A-L-U.  Walau ada salah seorang dari kami yang tidak ikut dan memilih berkunjung ke rumah temen yang cukup jauh. Males banget mau kesana jadi jalan-jalan di PS aja. Di PS sempet milih baju tapi. Tapi, tapi tapi kesialan kedua pun muncul. Dompet saya ketinggalan di kost temen yang tadi.

Atas dasar kebersamaan kami ber empat pun sama-sama kembali ke kost tersebut yang terletak di plaju. Cukup jauh dari PS. Pukul sudah menunjukkan setengah sembilan perutpun lapar. Karna duit dikantong Cuma lima ribuan terpaksa Cuma makan pempek panggang. Bersama temen-temen lain yang juga bokek.

Sesampainya di kost tersebut, kesialan ke sekian pun muncul. Ternyata oh ternyata tanpa disadari tak seorangpun diantara kami berempat yang memegang kunci. Yang sekarang sedang tergolek santai di tas teman kami yang ada di KM 11. Lesu mulai muncul dan semua anggota yang ketimpa sial mulai mengorek hidung mereka. Ngupil.

Dengan segenap kekuatan hati kami berjalan menuju jalan besar, ayo susul ke KM 11. Belum habis tampang buras ditunjukkan kesialan muncul lagi. Tak ada bis! Tinggal angkot yang paling banter mau nganter sampe KM 5. Raga ini mulai tersiksa, ingin rasanya saya ngeteh sambil buang air kecil saat ini. Yang lain mulai nunjukin mata kayak squidward.

Jreng-jreng-jreng musik kemenangan hampir terdengar saat kami berhasil brjalan kaki malam sepanjang 6 KM mencapai komplek perumahan yang dituju. Kulit lengket dan harapan yang hampir pupuspun segar kembali kala melihat pagar rumah teman kami itu. Segenap tenaga yang tersisa saya gunakan untuk membuka kunci pagar dan Astagfirullahaladzim, kesialan lagi dan lagi MUNCUL.

Pagar dikunci gembok segede kepala. Beberapa kali memanggil namun tak ada jawaban. Ingin rasanya saya nelpon tapi tak ada pulsa. Semua batery HP temen drop. Pas saya mau masang kartu mereka, HP saya ikutan drop. S-I-A-L. Oh yoga dimana kau? Kami diluar sini menanti kenhangatan rumahmu. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.

Stressfull...

Sampai tengah malam kami menunggu, belum ada tanda kemunculan si Yoga. Yaudah kami putusin jalan ke palimo lagi, kerumah temen yang disana. Dari pada bengong didepan rumah orang tengah malem gini, kalo nggak kesurupan dikirain maling. Tapi entah ada apa lagi belum selangkah berjalan hujan turun deras sekali. Pengen rasanya saya garuk bokong buat nahan nangis.

Habis gelap tetaplah gelap, namanya aja malem. Walau gelap akhirnya Yoga datang dan kami bisa masuk kedalam rumahnya yang hangat. Tapi... apa lagi? Kami kan nggak bawa baju ganti, baju yang ini basah. #tidurpakeunderwarebersamateman-teman.

Udah ni kaki mau lepas dengan perut pusing dan kepala laper. Kami tidur dengan pulass.... selamat tinggal hari ini!!!
Share:

Lempar Batu Sembunyi Jempol


Sesuatu yang saya sadari baru ternyata sudah berlangsung lama. Ini hanya masalah sifat lalai manusia dan waktu yng bejalan tanpa henti. Saya bener-bener nyesel atas kejadian ini, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Sesuatu itu terdapat di bak kamar mandi sudah sejak minggu lalu, serapat-rapatnya menyimpan bangkai pasti akan tercium jua. Dan salah seorang teman sayapun menyadari aroma bau itu.

Saya lupa ngerendem pakean dari minggu kemaren. -__-

Ada panik tan perasaan putus asa bagaimana mengatasi pakean ini, namun dengan segala daya dan upaya, saya rasa semuanya beres. walau mendapat protes dari beberapa pihak pengguna kamar mandi yang lain, saya anggap itu pujian atas parfum gratis di kamar mandi.

Kenapa di awal artikel saya membahas tentang pakaian? Karena artikel kali ini akan membahas tentang pakaian. Pakaian dan bangsa Indonesia. Apa hubungan pakaian dan bangsa saya juga belum terlalu mengerti. Perlu diketahui bahwa artikel ini murni hasil pemikiran seorang penulis gila dan tidak perlu terlalu dipercaya atau dihayatin bacanya. Kenapa? Karna artikel ini tidak bersumber dari tulisan atau buku manapun, murni isi otak saya.

Kalo liat anak gahol jalan di mall pernah liat ada yang pake batik? Kebaya? Katanya ciri khas bangsa, kok nggak make sih? Sebenernya bukan malu atau gengsi, cuman kurang pas penempatannya. Tapi salahkah kalo ada orang out of style yang make batik ke mall? Nggak juga. Kenapa? Pikirin aja sendiri, batik kan nggak selamanya tanpa kombinasi mode. Mari buat kombinasinya dan bangga mengenakannya. Silahkannn...

Gimana dengan mode baju yang sering dipake kaum hawa? Yang hampir keliatan tanpa pakean, karena persentase yang ditunjukin lebih besar dari yang ditutupin. Sesuai nggak sama identitas bangsa dan ciri khas orang timur. Apa bener kalo nggak gitu nggak dibilang maju? Kalo saya sih santai aja, enak kok liatnya. Secara saya cowok normal. Tapi asal para kaum hawa tau, dalam fikiran saya. Semua cewek yang kayak gitu asik dijadiin pacar, BUKAN istri. So? Pikir sendiri lagi.

Saya sering sekali jalan jalan ke mall, nyobain baju-baju kemeja ke kamar pass trus dipoto. Beli? Nggak -__-... masa juga saya mau beli itu pake hampir setengah bulan duit jatah makan saya. Rp. 399.000,- alamak... andai duit tinggak nyaruk. Walau begitupun takkan mau kubeli pakean itu. Kecuai diskon minimal 60 %. Masa iya baju dengan model banyak yang nyamain gitu harganya sampe segitu, parahnya lagi. ADA YANG BELI. Ckckck...

Masalah pakean emang nggak bakal abis kalo mau dibahas tuntas, dari mode jeans gobor ala rapper, ampe stoking ketat yang lagi mode dijadiin celana oleh para ibu-ibu. Tambah nggak napsu. Tapi untuk penampilan sudah jelas dapat terlihat dari cermin. Baju jelek asal bersih dan rapi enak liatnya kok. Nggak harus yang up to date atau ngurangin bahan sekurang-kurangnya biar keliatan menarik. Karna ingat, walau penampilan yang pertama dilihat, bukan penampilan yang dijadikan patokan sebagai penilaian utama.

Saya bukan orang yang modis, rapi, atau suka beli pakean yang harganya hampir setengah juta. Mungkin karna itu sampe sekarang saya nggak laku-laku. Walaupun menurut saya bukan karena itu. Seenggaknya saya udah jujur untuk semua sudut tentang pakaian. Dan seya mengenakan yang saya katakan baik dan saya suka.

Karna marak beberapa pihak yang sok jaim dan berekspresi marah kalo saya plototin bagian (maaf) tubuh mereka yang sengaja di tunjukin (nggak mungkin kan dipakein baju sama mama ). Tentunya cewe. Saya jadi bingung, lha yang nunjukin siapa? Kalo nggak mau diliatin ngapain ditunjukin? Dunia memang sudah gila. Trus kalo yang liatin salah, berarti yang nunjukin pembuat masalah kan. Iya kan? Bener nggak? Bener dong...

Beda kalo yang melototin baru keluar dari (minimal) honda jazz, ini yang buat saya tambah bingung.  Cewe-cewe itu nggak marah! Malah ketawa ketiwi sama temennya yang juga 2/3 bugil.  Rasanya pengen saya sobek sobek itu pakean yang mereka pake. Biar adil, semua bisa nengok tanpa perbedaan antara jazz yang dinaikin cowok otu sama angkot yang saya tunggangin.

Terlepas dari cara berpakaian yang baik dari masing masing versi, saya rasa semua harus jujur deh. Kalo suka nggak usah sok jaim, dan kalo mau beli pakean dipikirin dulu. Jangn lempar batu nyembunyiin jempol/ nyalahin segala macem desainer, tempat jual dll. Kan mereka yang make. Tentuin dong pilihan dari diri sendiri. Berpakaian dengan berdasar pada filosofi bangsa. Agar kemurnian fikiran terjaga. Dan jangan terlalu mempersulit diri untuk berpakaian dengan jelek atau terlalu alay. Kita juga perlu paham  pepatah jawa yang mengatakan... “aji neng rupo seko busono”. Artinya? Pikirrrr sendiri.
Share:

Happy Indonesian 2


Waw..! jaman sekarang dikalangan menapun di Indonesia, lawakan yang paling lucu adalah ejekan terhadap negara ini sendiri. Bukan bermaksud menjadi munafik karna saya juga menyukai sebagai besar lawakan tersebut, tapi dapat saya tegaskan hal itu adalah sesuatu yang tidak baik. Sudah jangan tanya kenapa? Kita semua tau bahwa untuk menjadi bangsa yang besar dalam sebuah negara modal awal yang harus dimiliki tentu saja mencintai negaranya. Kalau negaranya saja sudah tidak dicintai, bagaimana bisa mencintai soudara sebangsa yang memiliki karakter yang berbeda? Dengan dasar apa?

Saya memang bukan wara negara yang saik yang menaati semua aturan yang sudah ditetapkan para negarawan. Tapi setidaknya saya memiliki modal untuk mencintai negara ini. Siapapun pemimpinya, siapapun rakyatnya, bagaimanapun kondisinya, apapun yang dimilikinya. Saya benar-benar mencoba dengan sangat keras untuk tidak ikut mengejek sejarah atau perjalanan negara ini sampai sekarang.

Menjadi warga negara indonesia memang tak seburuk yang sering dibayangkan. Ada banyak hal yang bisa kita banggakan. Dan tidak satupun negara yang memiliki ribuan kebudayaan seperti Indonesia. Maka dari sekarang mulailah mencintai segala aspek Indonesia. Agar kita  menjadi warga negara yang baik .
Share:
Powered by Blogger.

Contributors

Blog Archive