Stories and Sh*t

Sunday, January 8, 2012

GALAU 3


Biarlah tangan ini mengetik mengalir bagai perasaan yang telah dipenuhi air, air mata. Sampai detik terakhirpun saya mengakhiri diri sebagai pecundang yang takut memulai cinta karna alasan klasik, ekonomi. Ekonomi bro! Ini membuktikan saya belum mampu melewati batasan ranjau kehidupan. (perang dorr dorr ambil pistol, tembak mati.) jangankan mau nembak ngomong aja susah.

Hari ini kayaknya bener-bener hari terakhir buat saya liat muka dia yang super imut, kaya badak. Tapi apa? Bahkan saya tidak memberi suatu momen positiv yang bikin dia bisa inget sama saya gitu, mungkin dia inget bibir saya karna bau jengkol tapi nggak! Ibarat nilai pertemuan saya tadi adalah mines. Yang malah menghapus sebagian ingetan dia tentang saya, mungkin semuanya.

Atas dasar perasaan yang masih membara, saya buat satu puisi untuk dia tentang dia yang berjudul, DIA (iringan musik orkestra bergemuruh). Bukan Cuma itu, saya juga berharap suatu yang nggak mungkin dengan memasang photo dia diatas puisi tersebut. Berharap dia liat, terus sadar dan tumbuh perasaan ke saya. Setelah dia baca, ada malah perasaan benci yang tumbuh.

Saya galau, bukan lagi tingkat polisi tidur tapi tingkat polisi bangun (permisi dek, tolong SIM dan STNKnya) nah lo? Saya mau jawab apa? Saya belum punya SIM. Saya juga nggak punya motor atau mobil jadi gimana mau punya STNK. Emang sepeda harus punya STNK? Gimana kalo polisinya bangun? Apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya bilang kalau saya galau? Ahhh jangkrik-pun tak mengerti apa yang kurasa dan apa yang kukata. Lagi pula, saya juga nggak punya sepeda!

Saya sesak dan nulis agak gemeteran, pengennya ngomong kalo saya suka sama dia. Tapi begitu saling hadap muka langsung lupa. Bahkan lupa kalo saya belum ngisi satu nomerpun pada kertas ulangan. Hari ini semesteran mamen, jadi nggak bakal ada pertemuan dia sama saya setelah ini. Kecuali semester depan kami sama-sama ngulang. Mahhhaaap bae.

Galau memang jadi hal yang biasa saat ini, dikit-dikit galau. Diputusin galau, nggak punya pacar galau, nggak punya duit galau, nggak suka lawan jenis.. gila coyy. Tapi galau ini adalah galau yang tingkatannya tinggi. Saya tau kalau dia pasti nggak bakal nerima saya kalau, saya tembak. Tapi saya masih punya keinginan untuk sekedar nyoba, nyoba bilang kalau saya nggak bisa sehari saja menahan otak untuk nggak ngebayangin tentang dia. Mungkin rambutnya, bibirbya, idungnya, bulu idungnya, upilnya, apalah...

  Saya ingin dia tau, sekedar tau kalu saya nulis tentang dia bahkan sampai GALAU 3. Udah berapa kalimat itu? Ini lebih dari puisi, dan kalau bahkan dari puisi saya juga udah buat puisi tentang dia, bukan tentang upilnya. Dan kalo dia mau minta buatin tentang upilnya juga pasti saya buat kok. Mungkin upil yang besar, upil yang bundar, upil yang tegar, upil yang terbuat dari perak atau apa aja bakal saya tulis. Apapun kecuali disuruh liat upil aslinya.

Ngomong-ngomong soal galau tadi saya ketemu lagi sama dia, nggak terlalu bersapa tapi cukup dengan lirik mata. Cuma saya yang ngelirik, dia nggak. Sakitttttt. Tapi hasrat walau tinggal hasrat tetap menarik mata untuk selalu memperhatikan dia. Sekali lagi memperhatikan dia, bukan upilnya. Walau jauh dari kategori cantik tapi dia memang menarik, saya rasa bajunya dilapisi magnet. Tapi satu hal yang saya percaya adalah setiap manusia memiliki kesempatan. Semenarik apapun dia, dan sepantas apapun saya untuk ditolak, saya tetap bebas mengeluarkan pendapat. Hal itu jelas tercantum dalam peraturan perundang-undangan saya lupa pasal berapa.

Tapi walau sudah dijamin kebebasanya, saya tetep bersikukuh memendam ungkapan yang mengandung begitu besar perasaan ini. Gimana kalau ditolak? Gimana kalau dia nggak suka? Dan gimana kalau upilnya bener-bener BESAR?

AKUUUU GAAALLAAAAUUUUU

Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.

Blog Archive