Stories and Sh*t

Tuesday, January 10, 2012

SEBUAH KISAH SEDERHANA part 2




Mati aku kesiangan! Kataku langsung mematikan alarm dan bergegas ke kamar mandi, uh.. aku lupa lagi. Dari hari pertama tidak seharipun aku tidak lupa bahwa aku ini sudah lulus SMA sejak minggu lalu. Kepalaku sedikit pusing dan Mbak Surti masuk ke kamarku mengantarkan sarapan, artinya orang tuaku masih belum di rumah.

Semalam aku bermimpi, mimpi yang sangat aneh. Sepertinya aku membeli seorang wanita. Hahaha.. mungkin akan kulakukan suatu saat nanti. Kumakan lahap roti isi keju buatan Mbak Surti ini. Bukan bermaksud menjadi anak durhaka tapi roti ini terlihat seperti wajah kedua orang tuaku, membuatku makin lahap  memakannya.

Ingin kuisi hari-hariku dengan mengambil bimbel atau semacamnya. Tapi aku sudah diterima di salah satu perguruan tinggi negri yang, sangat-sangat berkelas. Jadi aku tak diperbolehkan mengambil bimbel apapun. Sial. Mereka tak memikirkan faktor lain selain pelajaran. Mereka tak mengerti rasana jadi seorang remaja tanpa teman.

Kucoba melakukan beberapa hal melelahkan agar mengalahkan lelahnya perasaanku ini. Kurombak kamar yang besar ini menjadi bentuk yang berbeda, lemari yang besar itu kupindahkan kesana-kemari, meja yang hampir tak dapat kugeser ini akhirnya juga berpindah tempat, mungkin sekitar 5 cm dari tempat semula. Kubongkar rak buku dan kususun kembali seperti orang gila. Melelahkan memang, dan akupun tertidur. Pulas...

Hampir saja aku tertidur sampai pagi kalau saja Mbak Surti tidak membangunkanku untuk makan malam. Ternyata orang tuaku sudah pulang, dan itu artinya aku harus duduk di meja makan bersama mereka. Sesuatu yang saat ini sudah sangat jarang terjadi. Aku bergegas mandi dan duduk berhadapan bersama mereka. Kami makan dengan sangat tenang, selesai makanpun sangat tenang. Hampir tak dapat kupercaya bahwa kami sama sekali tak berbicara. Sedikitpun tidak.

Aku duduk diranjang dan berfikir hal yang macam-macam. Entah mengapa suasana sepertinya menjadi sangat sunyi. Jangkrikpun tak bersuara. Aku menatap langit-langit kamarku dan entah mengapa aku menjadi sangat sedih. Aku terus menoleh keatas menghalangi air mataku untuk mengalir tapi tetap megalir juga. Apa benar mereka pernah menggendongku waktu aku kecil. Apa benar mereka pernah menggantikan popokku. Apa yang salah dengan hidupku ini.

Malam ini aku tak bisa tidur sampai pagi, kupandangi mereka yang bersama menaiki mobil mereka meninggalkan rumah ini. Kenyataanya aku hampir tak mengenal mereka. Terus kupandangi jendela ini mengarah keluar, memperhatikan orang-orang yang lalu lalang dijalan depan rumahku. Kadang ada yang berpasangan lelaki-perempuan, kadang ada yang bersama sekeluarga, kadang ada yang bersama anjingnya,  tak ada yang sendiri.

Mungkin aku sudah sampai titik batas emosiku hari ini. Tangan dan seluruh tubuhku seolah bergerak sendiri menyiapkan peralatan. Peralatan untuk hidup diluar rumah ini. Dalam sebuah tas besar dan satu kantong kecil. Jaket dan sepatu pun sudah kukenakan walau dengan fikiran yang masih kosong. Lengkap dengan topi untuk melindungiku dari terik. Satu hal lagi, kartu ATM.

Aku mengeluarkan kepalaku dari balik pintu kamar memastikan tak ada Mbak Surti di sekitar sini. Kutengok pos satam dari jendela juga sepi, sepertinya mereka sedang tidak di depan. Setengah menunduk kususuri dapur dan ruang tengah serta ruang tamu untuk menjaga agar Mbak Surti tidak melihat aku pergi. Setelah itu aku berlari sekuat-kuatnya menyusuri taman dan segera keluar pagar rumah itu. Maksudku, penjara itu. Mau kemana aku?

Kakiku melangkah saja tak tau mau kemana dan akhirnya berhenti di salah satu terminal kota ini. Setelah berfikir sejenak, kubeli satu tiket menuju, Jakarta. Siang dan terik panas membuatku begitu kepanasan. Tas besar inipun ikut membuatku lelah, lelah sekali. Aku mencari tempat duduk yang rindang dibawah pohon didekat seorang nenek yang berjualan bakwan. Ahhh, segar sekali. Bis masih berangkat 2 jam lagi dan suasana sejuk ini membuatku, tertidur...

Sial! Aku bangun dan bergegas menuju loket yang sudah sepi. Kuperhatikan sekeliling dan jumlah orang sudah berkurang drastis menjadi hampir dapat kuhitung dengan jari tangan ini. Aku terperanjat sejenak dan melihat kearah arloji dengan ragu. 18.00. hhahahaha aku tertidur selama 4 jam dan tertinggal bis. Hhahahaha sembari menyobek tiket dan menendang nendang batu dengan kesal.

Kubuka handphone dan terlihat 13 missed calls. 10 kali dari supir bis tampaknya, dan 3 kali, dari Ibuku. Ada beberapa sms juga dari Ibu dan ayahku yang menanyakan dimana aku sekarang, katanya mereka khawatir. Ingin muntah aku membacanya, khawatir tapi hanya mencoba menghubungiku selama tiga kali? Bahkan supir bis itu lebih khawatir padakau.

Sekarang harus kemana aku? Bingung akan kemana dan tak ada tempat menginap. Hari mendung, mungkin sebentar lagi akan hujan. Ingin rasanya aku menyewa sebuah kamar hotel, tapi itu akan menghabiskan uangku dengan cepat. Semakin cepat uang habis, semakin cepat aku kembali kerumah itu. Aku tidak mau.

Beberapa kali Hpku berdering lagi, kumatikan saja. Berisik. Kemudian aku mulai berfikir dimana tempat inap yang tak akan menyedot kantongku, sebelum aku mendengar suara adzan maghrib. Kusempatkan shalat berjamaah di masjid dengan beberapa orang yang nampaknya beriman. Bahkan kesempatkan sampai shalat isya, sebab tak ada tempat lain untung bernaung. Ingin bermalam dimasjid ini tapi aku merasa tak sopan, aku bahkan jarang menghadap-Nya.

Hari sudah benar-benar malam dan aku lapar. Tas ini berat sekali, dan kakiku hampir patah berjalan kesana-kemari tak tentu arah. Tak berapa lama setelah keluhan-keluahanku, hujan pun turun dengan santainya. Hampir saja membasahi seluruh tubuh ini beserta tas yang kubawa kalau saja aku tak cepat masuk kedalam taxi yang kebetulan melintas.

Saat masuk kedalam taxi aku memang tak memikirkan mau kemana, jadi sekarang aku bingung menjawab pertanyaan supir taxi ini. Karna tampangku yang mungkin kurang meyakinkan supir ini terus menanyai tujuan kami. Dengan sembarang jawab pun memberikan alamat rumah lamaku yang masih bertempat di kota ini.

Dalam perjalanan yang macet aku menyaksikan kota Surabaya ini yang ternyata cukup gemerlap di malam hari. Ada beberapa pasangan yang lalu-lalang dengan motor mereka, beberapa anak sekolah yang masih berseragam, sepertinya mereka keluyuran sebelum pulang. Ada juga segerombolan orang berkaos hijau dalam sebuah bak truk yang ramai. Truk itu bertuliskan bonex. Apa itu bonex?

Aku berhenti didepan rumah yang dulu pernah kutempati, sekarang rumah ini terlihat sangat kecil. Aku memiliki kunci cadangan rumah ini, mungkin ini tempat yang tepat untuk menginap malam ini. Orang tuaku pasti tak menduga hal ini. Kalau ada tempat yang mereka datangi untuk mencariku pastilah itu hotel.

Perlahan kubuka pagar tanpa suara. Tak boleh ada tetangga yang tau aku menginap disini sendirian, siapa tau mereka masih memiliki kontak orang tuaku. Atau mereka masih berhubungan dengan tetangga lama, segala sesuatunya harus berjalan dengan tenang.

Aku berjalan dengan sangat perlahan menuju pintu belakang rumah dan mencoba memasukkan kunci lalu kreeeek.... tiba-tiba pintu terbuka tanpa menggunakan kunci. Siapa? Orang tuaku kah? Atau pencurikah? Seketika itu jantungku hampir berhenti karna kaget. Ini tidak mungkin orang tuaku. Pagar depan masih dikunci dan lampu teras serta ruang tamu juga dimatikan. Hening sekali membuatku semakin takut untuk bergerak. Dengan sedikit keberanian yang tersisa aku mesuk lewat belakang dengan sangat pelan dan nyaris tanpa suara. Kulihat arlojiku dan waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. dalam hatiku berdoa agar setiap langkahku dipenuhi keberuntungn, kabulkanlah doa hamba-Mu yang lapar ini.

Kulihat dapur dengan tatanan yang sedikit berantakan. Ada bekas seakan seorang baru saja memasak mie instan, semakin mengherankan dengan hanya menghidupkan lampu ruang tengah dan dapur saja. Tapi dimana orang itu? Ku periksa 3 pintu kamar yang ada tapi masih terkunci rapat. Mungkinkah ada seorang yang menginap disini selama ini secara diam-diam? Atau mungkin simpanan ayahku? Atau ibuku? Ahhh... berfikir kemana aku ini.

Kucari ia disetiap sudut rumah tapi tak ada orang. Hampir lega hati ini sebelum akhirnya terdengar suara air mengalir di kamar mandi. Ya ampun aku belum memeriksa kamar-kamar mandi. Jantungku berdebar kencang sekali, ini lebih mirip seperti film horror untukku. Manusiakah? Cepat kuambil payung yang ada didapur dan merapatkan tubuhku di dinding sebelah pintu kamar mandi.

Lagi kudengar air itu dengan suara yang lebih keras seperti orang yang mengayunkan dayung sedang mandi. Tak terasa keringat dingin mengalir disekujur tubuhku. Mataku begitu tajam sampai lupa untuk berkedip, begitu menunggu apa yang sebentar lagi keluar dari balik pintu itu. Mulutku komat-kamin tak karuan dan terdengar seperti mantra.

Sepuluh menit sudah aku berdiri kaku menunggu sesuatu itu keluar namun belum juga keluar. Apakah benar ada sesuatu dikamar mandi? Bagaimana kalau ternyata kamar mandi ini kosong, lalu suara apa barusan? Haruskah kudobrak saja, atau aku teriak saja agar banyak orang yang datang kemari dan mengeroyok bersama-sama, tapi dengan begitu mereka akan mengetahui kalau aku disini. Lama aku berfikir, kulihat arloji menunjukkan pukul 22.20. kemudian tiba-tiba pintunya terbuka!

Dengan cepat aku berbalik kedepan pintu dan mengayunkan payung kearah seorang... lemas sekali lenganku yang kaget menghentikan ayunan tangan ini. Seorang wanita yang sangat-sangat cantik dengan perawakan yang putih menggunakan handuk saja berada didepanku saat ini. Sedikit lebih rendah dariku dan rambutnya basah berwarna hitam. Tangannya menutupi mulut yang seakan menjerit dan wajahnya berekspresi sangat takut. Aku bengong antara perasaan bertemu bidadari seperti mimpi, dan kaget setengah mati. Kami saling berhadapan dengan waktu yang sepertinya berhenti. 

Bersambung....

Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.

Blog Archive