Stories and Sh*t

Monday, June 11, 2012

Sistem Perkuliahan

Sedikit miris, kalo kamu dapet nilai kecil sementara yang lain nggak. Itulah yang mendasari saya menulis artikel ini. mungkin bukan artikel, mungkin.... ini hanya beberapa keluhan yang dirangkai dengan kata-kata beradab. Saya adalah Bocup. B-o-c-u-p. Saya termasuk kedalam golongan mahasiswa yang mendapat IP rendah. Sangat rendah. Pertanyaannya, kenapa itu bisa terjadi?

Hal ini terjadi karena saya adalah mahasiswa yang malas. tapi dalam kasus ini, ada sangat amat banyak mahasiswa yang malas seperti saya. Malas yang saya maksudkan masih dalam kategori standar. Namun kendati demikian, perolehan nilai mahasiswa yang berbasis IP pada kebanyakan siswa malas di tingkat standar ini elatif berbeda. Bahkan ada yang ekstrim menuai jarak angka yang terlampau jauh. Mengapa demikian?

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut diatas, studi kasus dilapangan menunjukkan bahwa:

1. Asistensi yang tidak efektif.
     Anda pastinya sudah mengenal sistem asistensi, ini merupakan proses perkuliahan atau juga biasanya praktikum yang juga melibatkan mahasiswa sebagai jajaran pengajar, juga pemberian nilai. Sistem ini, terkadang melibatkan kesenangan hati si pemberi nilai, tanpa melihat nilai sebenarnya. dalam kata lain, mahasiswa mengajar mahasiswa itu rawan neputisme. Namun tidak semua asistensi tidak efektif, walaupun kebanyakan iya.

2. Dosen diluar sistem.
     Dosen adalah sang pemberi nilai yang mutlak. Mahasiswa tidak memiliki daya pada sistem pemberian nlai yang diberikan oleh dosen. Tentu saja hal ini sungguh menyulitkan mahasiswa. Dosen kebanyakan memiliki sistem sendiri diluar sistem yang kita miliki. Parahnya lagi, ada beberapa dosen yang memberikan nilai dengan sistem tembak. who have a better luck, win.

3. Proses pemberian tugas.
     Ada beberapa pemberian tugas yang tidak kena sasaran. tugas seharusnya membantu meningkatkan daya pemahaman mahasiswa, namun terkadang tugas yang diberikan dosen hanya membuat mahasiswa membenci mata kuliah tersebut, dan pada akhirnya mencontek, dan semakin malas mempelajarinya.

4. Pengawasan ujian akhir.
     Ujian akhir memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan nilai yang akan diperoleh mahasiswa, namun proses pengawasannya dianggap sangat tidak penting. Beberapa dosen malah meminta mahasiswa lain untuk mengawasi proses ujian akhir. mahasiswa mengawasi mahasiswa? siapa yang memiliki keahlian tertinggi, dia akan mendapatkan nilai besar tanpa membuka selembar bukupun sebelumnya.


Bagi kalian yang tidak mampu menjalankan beberapa kajian istimewa diatas (seperti saya), maka kalian pastilah orang ber IP kecil, atau orang orang ber IP besar yang sangat rajin/pintar.

Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.