Stories and Sh*t

Wednesday, September 12, 2012

SEBUAH KISAH SEDERHANA part 3

*ketika sebuah kisah dalam cerita dipertanyakan, maka ia akan berlanjut...





Aku benar-benar terkejut, dan gadis (sepertinya masih gadis) itu mulai memejamkan matanya ketika kudekatkan tangan ini ke wajahnya. Aku menyentuh sedikit pipinya dengan jari telunjukku, dan ternyata dia adalah manusia. Hufff.... kupandang ia yang masih terpejam dengan ekspresi takut, aku juga memandangnya dengan ekspresi yang tak kalah aneh antara bengong dan lega.

Karna bingung apa yang harus kulakukan ataupun kukatakan, aku terdiam dan memandangnya terus, mulutku seakan bisu. Siapa gadis ini, pencurikah? Lalu tiba-tiba ia mundur dan menutup pintu kamar mandi lagi, masih belum hilang rasa penasaranku dan ia memulai hal konyol lainnya dengan bertanya menggunakan nada yang sedikit keras, “siapa kau? Apa kau pencuri? Apa yang kau lakukan disini?”.

“wanita gila! Apa kau gila? Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan disini? Ini rumahku!”

“benarkah?” Ia memunculkan kepalanya yang mungil.

Langsung kumasukkan lagi kepalanya dengan kelima jari dan telapak tanganku. Gila, wanita ini bisa membuatku jatuh cinta. Matanya begitu berbinar, dan hidungnya yang tak terlalu mancung itu seperti memaksaku untuk selalu mengingat itu. Bibirnya mungil dan berwarna merah muda alami, tanpa listik. Alisnya tak terlalu tipis dan terlihat serasi dengan matanya. Rambutnya hitam panjang sebahu, dan kulitnya putih.

Lama aku menahan degupan jantungku yang hampir meledak, kemudian ia bersuara lagi dari kamar mandi. “kalau ini rumahmu kenapa tak tau aku? Lalu kenapa masuk diam-diam? Tapi dilihat dari penampilanmu, sepertinya kau juga bukan pencuri. Jadi kau ini siapa?”

“apa yang kau bicarakan, aku tak mengerti! Tentu saja aku tak tau kau ini siapa? Apa yang kau lakukan dirumahku? Dan dengar, jangan coba-coba berisik. Karna aku sedang minggat dari rumah dan aku tak mau ada orang yang tau aku disini, bersama wanita pula! Sekarang katakan kau ini siapa? Bagaimana kau bisa masuk?” kataku dengan sedikit tidak lancar.

“katanya ini rumahmu, lalu kau minggat dari rumah siapa?”

“ayolah, tidakkah penampilanku terlihat seperti orang yang kaya dimatamu? Apa kau tak berfikir bahwa mungkin saja aku memiliki lebih dari satu rumah... pokoknya jangan banyak tanya dan katakan kau ini siapa dan bagaimana bisa masuk?”

“kami menunggumu sejak pagi, karna sampai siang kau belum juga datang, jadi kami masuk secara paksa lewat pintu belakang. Namamu Roi bukan?” katanya sambil mengetuk-ngetukan jarinya di pintu kamar mandi.

“Roi? Bukan! Namaku....” Roi? Oh tidak!

Benarkah ini. Apakah kejadian malam itu bukan mimpi? Cepat aku mengambil tas besarku dan membuka isinya. Kuambil laptop dan kunyalakan. Tak lupa kupasang modem dan langsung membuka surel memastikan pesan-pesan di dalamnya. benar dugaanku ternyata sudah log in, dan bukan log in ke alamat surel yang biasanya. Roi Maranjas? Tidaaaaaaaakkkkk!

“kenapa?” kata gadis itu sambil keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan handuk yang tadi.

“apa yang kau lakukan? Kenapa masih menggunakan handuk?” kataku sedikit sinis.

“bukankah kau membeliku untuk ini” dia mendekat dan hampir saja... hampir saja Ia membuka kaitan handuknya.

“hei...hei..hei... apa yang kau lakukan! Pakai baju sana!” kataku galak.

Ia mengembungkan pipinya dan membawa bajunya yang tergantung disampingku, lalu masuk kekamar mandi lagi. Tak berapa lama Ia kembali keluar dengan muka polosnya dan berkata, “baju ini sudah kotor, aku memakainya dari kemarin.”

Aku masih memandangnya dengan tatapan galak, lalu melemparkan sepasang baju dan celanaku.yang aku bawa didalam tas. “pakai ini dulu, besok aku belikan baju.” Kataku.

Kacau, benar-benar kacau fikiranku saat ini. Entah apa yang telah kulakukan tapi ini benar-benar terjadi. Aku mencoba tenang dan mulai mengatur nafas. Kupandangi sekeliling rumah ini yang mulai dipenuhi sarang laba-laba, dan pandanganku berhenti pada seorang gadis yang keluar dari kamar mandi dengan pakaian kebesaran. Dia tetap cantik.

“dimana aku mencucinya?” sambil mengangkat pakaianya yang kotor. Alisnya naik dan matanya terlihat lebih lebar, bibirnya mulai tersenyum.

“itu mesin cuci!” sambil mulutku mancung menunjuk mesin cuci yang ada dipojok.

Dia berjalan kearah mesin cuci dengan langkah agak cepat dan kembali lagi dengan langkah lunglai. Ia kemudian berdiri menunduk dihadapanku yang sedang duduk. Dengan masih menenteng pakaian kotornya, ia berkata sangat pelan diiringi mimik malu-malu. “aku tidak bisa pakai mesin cuci.” Katanya.

Aku berdiri dengan tampang songong dan menunduk menghadapnya. “hhahahaha.” Kataku tepat  dihadapannya. Lalu kutarik pakaianya itu dan, aku cuci.

***

Aku terbangun karna pipiku yang terasa dicolek-colek, ternyata wanita ini. Ia duduk didepanku sambil memamerkan senyum manisnya. Tangannya masih mencolek-colek tanganku sambil menunjuk arah meja. Terdapat 2 mangkuk mie instan disana.

Kami duduk berdua di meja makan sambil memakan mie instan, aku masih suka memandanginya dengan tatapan galak. Terus seperti itu sampai kami selesai makan dan memulai pembicaraan.

“em... jadi, kapan kita akan melakukannya?” katanya dengan begitu polos..

“melakukan apa!” Kataku sedikit membentak “jangan berfikir yang macam-macam!”
Tampangnya jadi seperti orang yang pusing memikirkan sesuatu “lalu, kapan kau memberiku uang?”

“heii.. aku sudah bayar! Dengar ya, aku sudah mengeluarkan uang ENAM JUTA RUPIAH untuk membe… maksudku membayar jasamu. Jadi jangan kau coba-coba berani menguras kantongku lagi.”

“kau memesanku sebagai orang yang bebas. Dengar, kalau kau tak mau membayarku lagi seharusnya kau memesan pekerja yang terikat dengan mereka. Bukannya mereka sudah memberikanmu pilihan?”

“oooo, jadi kau memaksa? Kalau aku tidak mau, kau mau apa?” kataku bertambah marah.

“jangan begitu...” ia tampaknya mulai ketakutan. Raut wajahnya benar-benar berubah.

“kau...!” kataku sambil mengarahkan telunjuk kewajahnya. “kau.. lihat dirimu! Seharusnya kau malu! Apa yang telah kau lakukan hah? Seperti orang polos yang menyerahkan tubuhnya hanya demi uang! Apa? Apa yang akan dikatakan Ibumu jika ia tau mempunyai anak sepertimu!” mataku melotot merah menyala dengan taring keluar den telunjuk yang tepat mengarah ketengah kedua matanya.

Ia menundukkan kepalanya kearah meja, menutupi mulut dan hidungnya dengan tangan sementara matanya mulai berkaca-kaca. Isak mulai keluar dari mulutnya walau sangat pelan karna ditutupi  tangannya.

“menangis! On come on.... jangan menangis!” kataku semakin membentak dan membuat isaknya makin keras saja. Nafasnya tersendat-sendat. “oke! Menangislah sesuka hatimu!” aku keluar rumah dan mulai meninggalkannya.

Bersambung…

Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.

Blog Archive