Stories and Sh*t

Wednesday, October 3, 2012

surat seorang pencundang


Dear you who read.

Kita terduduk dan memikirkan hal-hal berkelumat orak-arik difikiran. Kita dan beberapa dari kita yang lain yang saat ini belum muncul mungkin telah membunuh beberapa kita yang lainnya lagi. Entah apa yang membuatku setakut ini. Seberapa banyak aku berbohong seharusnya sudah bisa menjadikan aku profesional. Namun ternyata tidak begitu.

Neraka digenggaman, saat daun mulai gugur menguningkan suasana dan keadaan alam, mungkin ini bukan kuning. Ini coklat. Benarkah coklat? Atau harus kutulis cokelat? Hal-hal semacam ini menjadi semakin tidak penting saat ini. Ketakutan menguat bersama mereka para pengecut, pemalu, kekhawatiran bahkan malas.


Akan kulempar pada siapa derita ini? Profesi baru yang aku miliki untuk menyakiti. Membakar mereka yang kering. Seperti daun yang berguguran itu. Lalu mulai membakar hal-hal lain disekitarnya bahkan untuk yang tidak seharusnya. Bahkan rumput hijau, bahkan pohon rindang, bahkan ulat sutera berkata ‘aku tak bertanggung jawab pada diriku’. Ya, aku memang tak punya benda itu. Itu benda, bukan?

Hal-hal menjadi gila ketika suatu yang dulu kau kenal sebagai kebenaran berbalik dusta. Suatu besar yang datang menggeser suatu lainnya yang seharusnya memastikan semua langkahmu, keyakinan. Kini tiada lagi. Apa yang akan kau lakukan setelahnya? Maksudku, apa yang harus aku lakukan?

Aku menggaruk leher bagian belakang dan memastikan bebannya lenyap. Maksudku memaksa. Aku mengerti kau tidak mengerti tapi, bantu aku.

Sincerely, loser.
Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.