Stories and Sh*t

Saturday, December 22, 2012

974 ~ dan awal segalanya


Saya berjalan menyisiri hamparan jalan yang terlihat begitu sepi. Rumput-rumput yamg dihembus angin juga selalu begitu, namun hingga kini entah mengapa perasaan melihat rumput yang bergoyang terasa sama. Misterius.
            Saya sendiri, tersenyum sendiri, tertawa sendiri, menangis sendiri. ya gitu setiap harinya menjalani kekosongan-kekosongan saya. Sedikit mengkopi kata-katanya bang alit (shitlicious), “bukan karna tak punya teman saya kesepian. Justru karna saya memiliki banyak teman, tapi tak ada yang mengerti.”
            Saya nggak akan bilang kalo saya memutuskan untuk berhenti sampai disini, mengubur seluruh perasaan saya. Namun begitu saya juga nggak bisa menampik kalau saya lelah, Sembilan ratus hari tentu waktu yang cukup lama untuk ukuran sebuah penantian. Ya, anggap saja saya menanti. Karna kenyataannya memang begitu.
            Nih, biar saya kasih tau apa yang saya bicarakan saat ini. Buat kalian yang selalu membaca blog ini tentunya sudah nggak asing. Hahaha, siapa lagi yang nggak putus-putus jadi pusat pembicaraan. Pop ice mangga.
            Jika kalian sudah baca road to 2013, kalian pasti sudah tau hal pertama yang saya inget tentang pop ice mangga ini. Nah.. sebenernya ada lebih banyak lagi, beberapa dari itu yang akan saya tuliskan disini.
            Saat itu…

            Adalah suatu waktu dimana bahkan pop ice mangga belum saya ketahui eksistensinya. Waktu itu, es rumput laut adalah segalanya. Kata-kata ‘elleh’ masih menjadi jurus yang ampuh untuk menepis seluruh yang berbau perasaan. Melihat beberapa pasangan masih menjadi pemandangan yang menjijikan. Sungguh..
            Saat dimana saya selalu menjalankan rencana terang dengan memposisikan diri diatas. Saya meremehkan segala hal dan ternyata saya memang bisa, saya hebat. Sungguh waktu itu adalah waktu dimana saya mengenal jauh kegagalan. Hidup adalah usaha, dan keberuntungan selalu terbawa bersamanya. Sampai masa itu datang, dan merubah segalanya.
            Saya berada didalam ruang kelas bahasa Inggris, dengan kursi guru yang beroda. Saya menatap dari balik pintu fiber, keluar.. kearah seorang yang sedang bercengkrama dengan teman-teman lainnya, dia terlihat begitu cerewet. Mengotak-atik ponsel, dan tertawa lebar-lebar tanpa menjaga gerakan kakinya. Padahal dia itu perempuan.
Saya tersenyum manis. Sekedar informasi, saya adalah lelaki tampan nan manis.
            Suatu siang saya duduk didepan perpus, saya perhatikan beberapa teman laki-laki yang tiduran sesama jenis mereka, beberapa asik membaca majalah wanita dan beberapa lainnya sibuk ngupil. Serius, beberapa diantara mereka memang sedang ngupil. Saya perhatikan dari arah kantin berjalan beriringan, perempuan cerewet dan gerobolannya itu. Tidak berhenti-hentinya mereka tertawa lebar. Mereka mengenakan seragam olahraga.
            Terlepas dari segala kegiatan aneh teman-teman saya, saya memperhatikan perempuan itu dengan seksama. Dia terlihat jangkung sendiri diantara teman-temannya, kurus.. mungkin seperti orang-orangan sawah. Namun dia juga terlihat paling manis dari yang lainnya. Rambutnya pendek, tidak mengenakan hiasan apapun.
            Sore yang indah saya duduk di teras kost teman yang sudah saya anggap kakak saya sendiri. ia menunjukkan beberapa foto kekasihnya dan terjadilah beberapa percakapan antara dia, mulut saya, dan hati saya. Teman saya ini, kekasih perempuan cerewet itu.
            Pernah ada momen dimana saya mengantar temen yang saya anggap kakak ini, pada malam hari ntuk merayakan tahun baru sama kekasihya ini, ya.. ada momen dimana kami bertiga bertemu di saat tidak ada yang lain. Kamu tau? Badan saya terasa membeku dan waktu terasa begitu lama. Mau kemana mereka malem ini? Mau ngapain?
            Entah apa yang saya rasakan saat itu. Dan saat itu saya berkata ‘elleh’ ini bukan perasaan apa-apa. Saya hanya senang memperhatikannya, selama ini.. saya hanya senang dan tidak ada alasan lain untuk menambahkan pertemanan di facebooknya. Yah.. besoknya memang saya lakukan.

            Entah apa yang saya rasakan saat itu, tapi begitulah cerita sebelum kisah ini dimulai… saya dan pop ice mangga. 
Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.

Contributors