Stories and Sh*t

Tuesday, February 19, 2013

Saya, Dia, dan waktu yang tidak mungkin


              
            Percaya atau tidak, saya adalah seorang yang otaknya udah membagi part antara dunia nyata dan dunia khayalan. Seolah dunia khayalan itu adalah dunia nyata yang lain. Semua hal yang saya tulis di blog ini tentunya hasil dari ‘dunia nyata kedua’ saya.
            Setiap hari saat senggang, akan tidur, ataupun bangun tidur, saya selalu memiliki dunia yang berisikan kisah-kisah menyenangkan yang saya buat sendiri. imaginative. Kadang… saya tak akan memulai kegiatan apapun di dunia nyata hanya untuk memikirkan kira-kira ending apa yang bagus untuk kisah di ‘dunia nyata ke dua’ saya. Over imaginative.
            Akhir-akhir ini, saya kesulitan melakukan kegiatan-kegian di dunia nyata, ini semua terjadi karena ada satu impossible story yang selalu kepikiran bahkan saat waktu yang saya miliki nggak senggang. Dan kisah ini… selalu tentang saya, dia, dan waktu yang tidak mungkin.

Saya, Dia, dan waktu yang tidak mungkin


            Ini terjadi saat saya mulai bosan dengan dunia dan hari-hari yang berlangsung seperti itu-itu saja. Semua diperburuk dengan saya yang tidak menyukai bidang yang saya geluti saat ini. Apa yang bisa saya fikirkan hanyalah berlari, menuju tempat dimana tak ada orang lama dengan ingatan kemarin. Memulai kisah baru.
            Entah mengapa, saat itu saya sangat sering membayangkan ex member sebuah group vocal ternama yang jelas tak akan mungkin bahkan untuk sekedar saya jumpai ‘secara personal’. Apa yang akan saya sampaikan? I’m not your fan, I just love you. Nggak mungkin. Atau saya ngaku aja jadi fansnya. I’m your fan.. trus dia jawab, do you mean fan (kipas angin). Oh no.
            Looking at you again and again make me want to throw sh*t on my face, coz I’m no one. And yeahh.. I love you. Apapun itu, semua hal ini sungguh memperburuk keadaan yang saya jalani. Setiap saat saya selalu membayangkan gimana kalau saya tiba-tiba muncul di balik jendela kamarnya dan menyapa. Lalu dia membalas dengan senyum manis.. sebelum teriak malinggg dengan kerasnya.
            Dalam opini saya, jujur dia tidak terlalu cantik. Well, I don’t really love the way dia make pakean yang terbuaka ala artis juga. Walaupun dia memang artis. Tapi seberapa banyak saya memikirkan kemungkinan hal-hal buruk yang lazim dilakukan para artis termasuk dia, I can’t hate her. Really… tetap saja dia muncul dalam khayalan saya sebagai putri manis yang datang dengan sikap polos dan senyum lebar. Ohhh sugar….
            Dengan segala situasi yang mendukung saya untuk menghilang sementara from this suck place, pagi-pagi sekali hari itu, saya pergi ke Ibu kota, entah untuk apa.
            Hari berikutnyapun muncul sejak saya masih berada didalam sebuah bus. Saya mencoba untuk membuka mata dan turun dari bus yang nampaknya sudah dari tadi berhenti itu. Ini adalah terminal, dan saya adalah seorang anak jalan yang kudel. Tidak beda jauh dengan penampilan saya sebagai mahasiswa.
            Saya berjalan sambil memakan beberapa potong roti. Saat itu.. fikiran saya bingung. Namun dalam segala kebingungan, otak ini masih mempresentasikan imaginasi yang selalu meyakinkan bahwa dia, akan muncul dengan senyum manisnya. Entah bagaimana caranya. Dan dengan bodoh, atau beruntungnya, saya percaya.
            Saya berhenti diikuti denyut jantung yang malah berlari, saya melirik arloji seakan tak percaya. 10:00 dan waktu terus berputar. Dia, dengan kacamata besar dan rambut lurus panjang. Sendirian duduk di halte bus itu, what the heck!
            Saya melihat sekeliling dan memastikan semua hal ini adalah nyata. Di seberang jalan ada seorang pramuka yang baru saja membenahi ikat pinggangnya. Disamping saya ada pedagan asongan yang nampaknya akan mendatangi saya untuk menawarkan rokok. Tepat didepan saya ada seorang yang duduk beralas tikar dan aneka dompet. Ini nyata. Saya datang dan langsung menjabat tangannya, dia tersenyum heran dan melihat kearah saya dengan penuh tanya, jantung saya pasti meledak jika begitu.
            Tidak, tidak.. saya datang kearahnya dan… dan menyapa. ‘hey’… lalu dia menanggapi dengan ‘hay’ lalu kami ngobrol dengan sok asik. Nggak mungkin. Saya siapa? Diteikain copet mungkin sih..
            Gimana kalau situasinya sekarang dia sedang buru-buru mau ke lokasi syuting, terus dia ninggalin mobil sama sopirnya karena macet, dia berencana naik ojek tapi belum ada yang muncul batang idungnya. Perfect! Terus saya dateng, dengan senyum yang teduh saya mendekat dan duduk di sampingnya. Lalu dengan gembira dia berkata, “ojek ya?” *gubrak!
            Ganti scenario, hm… dia mengalami kebosanan dalam hidupnya, sama kayak saya. Terus dia mau coba jadi seorang biasa dan pergi ke suatu tempat yang nggak bakal disangka oleh orang-orang yang mengenalnya. Itu juga yang jadi alasan dia nunggu di halte bus, dia nggak mungkin naik taksi dengan jarak yang cukup jauh karena terlalu mahal. Dia nggak mugkin naik mobil pribadi karena dia pergi tanpa sepengetahuan semua orang. Yeah… sempurna. Saya dateng, melihat dengan tatapan serba tau dan dia menerima seolah mengerti. Lalu….
            Ciiiittt… sebuah bus berhenti di depannya dan dia langsung menaikinya sementara saya terperanga masih terjebak dengan scenario otak yang terus-terusan saja bermimpi dalam mimpi. Sial! saya bahkan belum melihat wajahnya dari depan secara langsung. Dan senyumnya, dan fotonya!
            Saya bergegas ingin menghentikan laju bus yang berlalu di depan saya sebelum suatu keajaiban, atau hal aneh… terjadi. Saat itu saya melihat jelas dia duduk di kursi samping dekat jendela. Ia menolehkan wajahnya kearah luar, atau pinggir jalan, atau saya. Saya? Dan dia tersenyum. Ya, tersenyum. dan entah mengapa semua itu terasa cukup. Merasuk. Mengisi. Melengkapi. Atau apalah namanya. Perasaan apa ini…
            Saya memperhatikan sekeliling, 2 orang yang sedang berdiri adalah saya dan seorang pedagang asongan, tak ada orang lain dalam jangkauan pandang dan senyumnya. Kemungkinannya, dia tersenyum pada saya… atau pedagang asongan yang…
            “rokok mas” kata pedagang asongan itu mengejutkan saya. Rokok? Hey! Tunggu dulu. Saya melihat sekeliling dan memastikan semua hal ini adalah nyata. Di seberang jalan ada seorang pramuka yang baru saja membenahi ikat pinggangnya. Disamping saya ada pedagan asongan yang baru saja mendatangi saya untuk menawarkan rokok. Tepat didepan saya ada seorang yang duduk beralas tikar dan aneka dompet. Ini nyata. Saya melirik arloji seakan tak percaya. 10:00 dan waktu terus berputar.
            Apa benar waktunya berputar?
Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.