Stories and Sh*t

Wednesday, May 8, 2013

dia, dan hujan dibalik jendela


                                                
pict from here
Pagi itu… yang Nampak seperti pagi-pagi biasanya, saya memulai semua kegiatan yang tidak menyenangkan, juga seperti biasanya. Tapi… satu pandangan, mengubah segalanya.
Untuk yang pertama kalinya saya melihat dia, seorang gadis berkerudung yang selalu menoleh kearah jendela. Entah sudah berapa lama saya menjadi bagian dari kelas ini, saya tak pernah menyadari dia ada. Bagai melewatkan sebuah pulau yang di penuhi harta karun, gajah di pelupuk mata tak tampak.
            Nama saya Rio, saya seorang mahasiswa malas dari sebuah universitas negri di Jawa barat. Saya berada di jurusan teknik mesin, menjadi bagian dari himpunan mahasiswa teknik, dan saya membenci semua ini. Sampai saat ini tiba…
            Saya mendekat dengan penuh percaya dirinya dan memperhatikan ia dari dekat. Dia terus menoleh kearah jendela, bibirnya tak mengekspresikan senyum, tapi matanya sungguh terlihat bahagia. Memperhatikan cuaca luar yang tampaknya mulai rintik.
            Dia tiba-tiba menoleh dan menunjukan senyum, membuat saya salah tingkah. Beberapa saat kemudian dia bahkan menyapa dengan mengatakan
“tau tidak, katanya… di dalam hujan, terdapat sebuah lagu.. yang hanya bisa di dengar oleh mereka yang sedang rindu” ujarnya. Lagi-lagi sambil tersenyum.
            Saya merasa sedikit aneh. Entah hanya perasaan saja, atau memang iya… tapi saya merasa sudah mengenalnya. Sungguh sejak waktu yang begitu lama. Saya ingin sekali membuka pembicaraan selanjutnya dengan mengajak dia bicara panjang lebar, tapi perasaan ini… saya merasa ingin memandangi dia dalam diam lebih lama lagi. Dia masih melihat kearah jendela.
****
            Saya membaringkan badan di ranjang yang tiba-tiba terasa begitu nyaman. Kelas usai. Usai pula kesenangan bersamanya. Membayangkan hal-hal menyenangkan yang mungkin sesudah ini terjadi antara saya dan dia, senyum di bibir inipun tak pudar walau sesaat. Saya behkan belum menanyakan namanya. Tapi cerita ini sudah terbawa hingga mimpi.
            Esok datang… pagi terasa lebih cerah, kicau burung terasa lebih meriah, dan saya. Memulai hari ini dengan semangat baru. Sesuatu yang sepertinya tak pernah terlihat sepanjang tahun ini. Kemeja yang begitu rapi, rambut yang sepertinya nyaman dengan mode baru, dan buku yang sepertinya baru kenalan dengan tas ini. Membuat saya merasa seperti mahasiswa. Well…
            Saya datang lebih awal dan menunggu dia datang dan mengisi bangku di pojokan itu. Tapi sampai kelas dimulai… dia tak kunjung datang.
            Saya belajar beberapa hal hari ini, saya bahkan terlihat seperti mahasiswa-mahasiswa lainnya. Hal yang baru saya sadari, belajar ternyata tidak seburuk yang saya fikirkan. Tapi hingga kelas akhir usai, dia tak kunjung datang. Apakah hari kemarin itu… hanya terjadi dalam otak saya? Sungguh menyesal rasanya tak mengatakan apa-apa kemarin.
            Saya menunggu hingga beberapa hari,   bahkan hingga beberapa minggu, dan tak terasa sebulan telah berlalu. Entah dia siapa, entah mengapa ia duduk di pojokan itu sambil melihat kearah jendela. Saat ini, saya bahkan sudah ragu apakah kejadian hari itu benar-benar terjadi. Saat dia menoleh, dan mengatakan hal yang sekarang hampir saya lupakan.
            Saat ini saya sudah menjadi bagian dari universitas ini. Saya benar-banar menjadi mahasiswa yang belajar dan mengerjakan tugas-tugas. Namun walau sedikit… saya selalu memikirkan hal kecil yang membuat saya seperti ini. Suatu saat, saya berharap bisa bertemu dengannya lagi. Dan menikmati saat-saat saya memandangnya lagi.
            Sore ini hujan, saya berhenti di sebuah coffee shop yang berdinding kaca langsung menuju kearah luar. Suasana yang pas, atau memang sebuah kebetulan… saya memutuskan untuk mampir, dan itu menjadi keputusan yang fenomenal. Dia, sedang duduk menikmati secangkir kopi di pojokan itu, melihat hujan kearah luar, dan sendirian, sempurna!
            Saya memesan secangkir teh tarik dan langsung duduk dihadapannya. Dia terkejut, tentu saja.. dan saya menyukai semua ini. Dia tak hentinya memandang lucu kearah saya dan saya tak bisa menghentikan senyum di bibir ini. Semua kebetulan ini, terasa luar biasa.
            Saya menjulurkan tangan dan mengatakan “Rio” dengan sangat  jelas. Dia tertawa kecil dan menyambut tangan saya sambil mengatakan “Karin”. Tidak pikir panjang… saya membuka percakapan dengan hangat. Ditengah hujan yang semoga saja berlangsung lama.
            Kami membicarakan hal-hal yang entah penting atau tidak, saya hanya berharap hal ini terus berlanjut. Dia masih saja sering melihat kearah luar. Hujan sudah mulai reda, dan hari beranjak malam. Kopi sudah kering dari tadi, the secangkirpun tak bersisa lagi. Tapi perasaan ini…
            Dia melihat arlojinya dan sepertinya akan beranjak. Sebelum dia mengatakan sesuatu… “Karin”, ujar saya.
“ya?” katanya dengan bibir yang disertai senyuman.
Saya menarik nafas sebentar dan mulai mengatakan.. “saya tau ini terdengar tidak masuk akal, tapi… saya sempat berfikir kamu tidak nyata.  Pertemuan waktu itu, berarti besar bagi saya. Mungkin kamu tidak menyadari tapi… pertemuan hari inipun begitu. Saya tau kamu akan beranjak, namun sebelum itu… bisakah kamu menjanjikan untuk bisa bertemu lagi?”
Dia tetap saja tersenyum atau mungkin tertawa kecil. Entah apa yang difikirkannya, tapi dia mulai mengatakan hal yang sangat membuat saya senang.. “saya tidak bisa janji, mungkin kamu juga tidak menyadarinya, tapi saya sangat senang bertemu denganmu. Tentu saja saya ingin seperti ini terus, tapi saya tidak mungkin berbohong bahwa itu tidak  mungkin. Saya tau dimana kamu berada, saya akan datang saat kamu memiliki gelar sarjanamu.” Dia tersenyum sejenak dan melanjutkan dengan sedikit tawa semangat. ”jadi, berusahalah agar semuanya berjalan dengan cepat.”
Begitulah pertemuan berakhir, senja itu…
***
Saya berakhir disini, diujung komik yang baru saja tamat ceritanya. Hal ini lucu ketika komik yang sudah saya baca bertahun-tahun berakhir begitu saja. Saya merasa seperti, ada yang hilang… atau mungkin, kembali terdampar di dunia nyata. Setelah sekian lama saya menikmati dunia yang sempurna pada komik tersebut.
Hari mendung dan mulai hujan, rintik air dijendela membentuk garis-garis kecil yang perlahan menghapus embunnya. Gemericik terdengar diluar sana. Saya duduk bersanding dinding menghadap keluar. Seperti suara keidahan, kebebasan yang menembus ruang. Seperti suara yang membawa dunia didalamnya, bagai memasuki masa yang telah lalu. Dan perlahan… rasa ini kembali dimana janji itu diucap.. terbuai alunan, dalam sebuah lagu rindu.

END
Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.