Stories and Sh*t

Monday, May 13, 2013

sistem pendidikan kaya teori, miskin ahli




            Pada dasarnya, pendidikan digunakan untuk mendasari bakat yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik. Gunanya, untuk merangsang kreatifitas yang nantinya diharapkan menjadi keahlian yang dimiliki oleh individu-individu atau kelompok terdidik. Tolong koreksi jika opini saya salah, atau lebih tepatnya bertentangan dengan opini anda.
            Doktrin teori, pemaksaan kerja otak ontuk melakukan hal-hal yang sebenarnya kurang perlu, menjadikan hasil didikan yang miskin keahlian. Akhirnya, selesai belajar individu terdidik malah bingung dan memilih belajar lagi ilmu-ilmu persaingan praktis. Sungguh malang suatu bangsa, yang sibuk dengan teori, dan malah miskin ahli.
            guru tidak harus pintar, iya. Sejatinya guru hanya harus sesuai dengan tempatnya. Tugas utamanya bukan mengajarkan semua hal-hal yang tidak berguna, tapi mencari bakat… dan merangsang otak untuk tertarik, dan bekerja secara intensif pada bakat yang dimiliki. Memang penting berpengetahuan luas, tapi tidak akan apa-apa jika kita tidak mengetahui semua hal. Sejarah bertambah, namun ukuran otak manusia tetap saja volumenya.
            Harus ada yang dirubah, harus ada yang mau memulai secara terorganisir. Menurut saya, tempat yang tepat untuk memulai semua ini, ya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
            Jika saja, ada organisasi resmi yang bertujuan jelas, dan memiliki kapabilitas untuk mengubah sistem pendidikan di negri ini. Tempat yang paling tepat tentu saja FKIP. Saya tidak mengatakan bahwa fakultas lain tidak memiliki kapabilitas yang cukup, tapi jika di piker-pikir lagi, FKIP yang paling cocok.
            Dengan adanya organisasi yang dimulai sejak jenjang mahasiswa, diharapkan semangat yang dimiliki akan tertanam kuat saat sudah terjun kelapangan. Memang tidak semudah yang saya katakana, tapi (maaf) menurut saya… itu memang sudah tugas kalian (atau kita) yang dari awal menempatkan diri sebagai orang yang siap mendidik.
Selain jajaran staff pendidik, peran yang lebih penting harusnya ditanggung oleh mereka yang bertengger diatas sana. Mereka yang berdasi kemudian menghujani peserta didik dengan kurikulum berbasis “pembeku otak”. Membuat masing-masing peserta didik belajar untuk memenuhi kewajiban, bukannya bersenang-senang dengan ilmu pengetahuan.
Lulus cepat memang sudah pasti menjadi salah satu target, tapi bukan itu tujuannya. Sejauh apapun kita melangkah, jangan pernah lupakan untuk memberi kesan pada tujuan utama, agar hal tersebut selalu diingat. Saat ini, peserta didik datang kesekolah untuk menjawab soal ujian, untuk menuntaskan kewajiban absen, untuk nilai.
 Peserta didik harusnya datang kesekolah untuk belajar, untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahuinya, untuk menuntaskan jawaban yang belum ditemukan, atau untuk mendapat masalah yang digunakan untuk mengembangkan kreatifitasnya dirumah. ITU. (some of three idiots words).
Untuk kalian yang sudah enggan peduli, untuk kalian yang mungkin masih berjuang memberi, atau kalian yang berada dalam tekanan ini, mari sama-sama merubah cara pandang, dan sikap kita…

but even it is...

Keep studying guys…

Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.