Stories and Sh*t

Sunday, August 18, 2013

senandung putih-biru


Melayang sejenak menuju masa dimana saya masih berseragam putih biru. Saat-saat bagaimana saya masih suka memandang seorang perempuan muda yang-awalnya-lebih tinggi sejengkal-dua jengkal dibanding tubuh ini. Kadang… saya sering mengajak bersaing akan sesuatu demi menemukan tema pembicaraan ala orang intelek dengannya. Walau saya tau, saya pasti kalah…

Saat ini? Sudah beberapa tahun saya bahkan tak melihat fotonya, tidak… dia tidak cantik atau seksi. Namun beberapa saat yang lalu dia yang berdiri dan tersenyum memandang saya sambil menyapa mengingatkan lagi memori itu, waktu dimana hanya ada kebahagiaan. Dipadu dengan kerudungnya, teduh… tenang… indah…
R, itu huruf yang dicoretkan ke dahi manusia dengan IQ rata-rata ini. Beraninya menantang dia yang dulu –dan mungkin juga sekarang- saya kagumi sebagai perempuan, adu besar nilai matematika. Mungkin suka, atau mungkin rasa yang saat ini –dengan sembrono- kalian sebut cinta, entahlah… saat itu, saya terlalu kecil untuk mengerti hal-hal yang menakjubkan. Namun begitu saya mengerti satu hal, saya kalah, dan saya bahagia. Bodohnya…
Ada juga satu kejadian dimana saya ngobrol “ngalor-ngidul” dengan perempuan ini di suatu ruang kosong dan hanya berdua. Tidak… kami tidak melakukan apa-apa, tapi pak guru yang sedang mengintip diluar tidak berfikiran demikian. “kreeeek” pintu terbuka dan sebuah kepala mengintip masuk sebagian. “sedang apa kalian?” katanya agak terburu-buru. “ngobrol” saya menjawab dengan santai. Beliau mengangguk-angguk sambil menghilang perlahan. Waktu itu saya nggak kepikiran, kalau beliau mikir yang macem-macem. Karena saya juga nggak mikir yang macem-macem. Belum macem-macem.
Saya punya teman dekat, dua teman dekat… salah satu dari mereka menyukai perempuan yang dari tadi saya ceritakan ini. Entah apa perasaan perempuan itu padanya, atau pada saya. Tapi beberapa hari kemudian mereka menobatkan diri sebagai sepasang kekasih. Saat itu, perasaan saya melihat sahabat saya bersama perempuan –yang mungkin- saya sukai? Sangat bahagia. Lagi, bodohnya…
Kembali pada saat dimana saya memandang dia yang sekarang dengan kerudung dan senyum lebarnya, entah kenapa… saya tidak pernah merasa bodoh. Untuk ukuran perempuan sepertinya, saya tidak pernah berharap dia masih sendiri saat ini. Namun perasaan ini ya begitu, selalu saja merasa senang kapanpun saya memandangnya. Sekejap muncul doa walau tanpa suara. “Ya Tuhan, kelak berikan saya jodoh –yang setidaknya seperti- Dia”


Share:

2 comments:

  1. ahaiii dek, jadi ceritanya flashback masa masa itu :D

    ReplyDelete

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.

Contributors