Stories and Sh*t

Monday, March 10, 2014

don't play with judgement

I’m not a smokers, but I smoke sometimes…

Kenapa saya awali tulisan ini dengan kata-kata itu? well…
            Saya tidak pernah bohong ketika seseorang menanyakan apakah saya merokok, saya katakana kadang-kadang. Jika mereka tanyakan apakah saya perokok, saya jawab bukan. Tapi beberapa hal yang mengganggu saya adalah mereka yang sudah beranggapan bahwa saya bukan perokok, dan tiba-tiba melihat saya merokok, kemudian memandang saya dengan tatapan rendah itu. pandangan murung itu. senyum paksaan itu. ada apa dengan semua ini!
            Ini bukan hanya terjadi satu kali. Kadang saya terbawa dan marah akan kondisi tersebut, namun kebanyakan hanya senyuman ketir yang keluar. Serendah itukah? Apa masalahnya? Hanya karena saya melakukan hal yang tidak kalian duga dan menurut saya sebenarnya tidak terlalu buruk, kemudian kalian mengecap saya sebagai orang yang jelek, munafik, lebih rendah dari kalian? Hahaha…

Saya tidak pernah menyalahkan atas apapun penilaian kalian terhadap saya. Kalian bukan saya, tidak menjalani apa yang saya jalani, tidak terlahir dengan kondisi seperti apa saya dilahirkan, tidak dibesarkan oleh orangtua yang sama, tidak tumbuh di lingkungan yang sama. Hal yang sangat sesalkan adalah… bagaimana mungkin kalian menilai saya, dengan sudut pandang yang begitu terbatas.
Hidup ini bukan hitam dan putih, tapi abu-abu. Biar saya ceritakan sedikit pengalaman saya dengan beberapa orang yang saya kenal.
Orang pertama… seorang kepala keluarga, pemabuk dan suka menyelundupkan barang dari tempat kerjanya. Korup. Saya mengenalnya dengan cukup baik… kami tinggal dalam satu atap selama setidaknya satu bulan. Namun dari interaksi yang saya dapatkan, dia hanyalah seorang bapak yang kelelalan bekerja jauh dari keluarganya. Bagaimana mungkin saya menilai dia buruk saat dia mabuk didepan saya, sedangkan beberpa jam sebelumnya saya menyaksikan dia bekerja dengan keras dan tanpa mengeluh sedikitpun. Demi istrinya, demi anaknya. Dan dia juga seorang teman yang baik.
Orang kedua… seorang single, gila, pecandu sabu, dan tanpa pekerjaan. Setiap hari setidaknya ada satu lagu yang dia bawakan dengan gitar kesayangannya saat kami bertemu. Karena dia tidak memiliki pekerjaan, jadi setiap hari kerjanya nongkrong di warung kopi sambil berdendang. Saat itu saya sedang liburan, jadi kami sering bertemu. Usianya sama seperti saya, saya kuliah dan melakukan sesuatu setiap hari, entah apa yang selama ini dia lakukan. Tapi taukah kamu, bahwa dia tak pernah mengenal ayah seumur hidupnya. Tidak pernah merokok sebelumnya apalagi sampai menjadi pecandu narkoba, sampai ibunya wafat pada usianya yang ke 15 tahun. Ya, yatim piatu. Sejak saat itu ia tinggal bersama seorang paman yang bisa dibilang tidak terlalu menghiraukan keberadaannya. Masih terlihat gurat seorang bocah yang kebingungan saat dia mendendangkan sebuah lagu dengan mimik wajah –seolah- bahagia. Entah apa yang terjadi jika saya berada di posisinya saat ini.
Orang terakhir…. Seorang kepala keluarga, pemabuk, pejudi, suka main perempuan. Bukan contoh yang baik bagi siapapun. Jika diperhatikan dari luar, keluarganya tampak berantakan. Tidak ada harmonisasi rumah tangga sama sekali, dan juga tidak dalam kondisi ekonomi yang bagus. Namun entah mengapa perhatian saya tertuju pada kondisi pernikahannya yang saya tafsir saat ini sudah mencapai puluhan tahun dan tetap utuh. Anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang baik dan sama sekali tidak seperti dirinya. Malahan dia mampu menyekolahkan mereka lebih tinggi dari apa yang saya duga selama ini. jujur untuk yang satu ini, dulu saya sudah memberikan penilaian padanya. Betapa saat ini saya menyadari saya tidak mengetahui apapun yang terjadi di dalam keluarga tersebut. Saya tidak tau apa-apa tentang kepala keluarga mereka yang telah membimbing keluarganya jauh berbeda dari jalan yang sepengetahuan saya, dia jalani selama ini. lurus.. maju.
Ketiga orang tersebut memberikan saya pelajaran yang begitu berharga dalam hidup. yaitu siapa diri ini yang beraninya menilai orang lain. Semua orang memiliki bagian masing-masing dalam hidup, saya boleh menyukai atau tidak menyukai orang lain dengan cara yang sopan dan wajar. Tapi menilai baik, atau buruknya seseorang? Saya tidak pernah dan tidak akan pernah mampu.
Guys… kalian mungkin tau nama saya, panggilan, nomor telepon atau tanggal lahir, tapi siapa saya dan apa yang telah saya lihat? Apa yang telah saya lalui? Tidak ada yang tau kecuali Allah dan diri saya sendiri. Tidak bahkan orang tua saya, benar-benar mengerti apa yang telah saya pelajari dari semua riuhnya dunia ini. siapa kalian? seorang hakim?
If you really understand…. And even if you are not, please… DON’T PLAY WITH JUDGMENT.


Share:

1 comment:

  1. Ps: jika bermurah hati. Tolonglah. Jika tidak, tinggalkan. Namun berhati-hati pada hati. Terkadang ia menipu. Seolah ingin mengangkat, namun ternyata merendahkan.

    ReplyDelete

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.

Contributors