Stories and Sh*t

Thursday, August 28, 2014

senandung dua insan


di sini, di bawah taburan bintang dan langit yang meluap-luapkan keagungan-Nya. Aku terduduk... Termenung menyadari betapa kecilnya diri ini. Siapa aku ini. Merasa rendah diantara gunung-gunung perasaan yang kini kian menjulang tinggi. Menjulang tinggi padanya yang saat ini duduk disampingku memberikan senyum indahnya, entah dia tau atau tidak betapa aku nyaman disampingnya. Betapa aku ingin selalu bersamanya.

Jika saja, dia tau sesering apa aku mencuri waktu untuk sedikit merasakan hangat hembusan nafasnya. Memandangnya sedikit lebih lama, binar matanya bulat merona. Membuatku masuk dan masuk lebih dalam kealam bawah sadarku. Jauh.. Jauh kedalam. Oh... betapa aku memaksakan lidah ini meng-kaku. Menahan -aku menyukaimu- untuk lebih lama lagi, lagi, dan lagi.


Sepenuhnya aku menyadari, peluang yang kumiliki tak lebih dari satu banding ribuan, atau jutaan. Namun selayaknya perasaan yang kerap kali membangkang pada fakta. Aku masih saja -dan mungkin akan terus selalu- menyukainya. Menyukaimu.

Semua canda tawa, kata manja atau bahkaan -hanya sekedar- lirik mata yang terlihat biasa. Membuatku melayang... Kau, candu nyata yang hadir dalam hidupku, melebihi rokok yang bahkan tak mempan padaku, melebihi sambal yang tak pernah menjerakanku. meledakkan seluruh rasa ini meninggi, merona, mekar, lalu hilang... Ya. Lalu hilang.

Lagi, dia tersenyum lagi dan sedikit menoleh padaku. Aku senang, aku senang melihat dia senang.

kala itulah, kala itulah aku memberanikan diri memandang matanya tepat saat dia memandang juga padaku. Biarkan, rasa ini mengalir dua arah. Rasakan, apa yang saat ini bergejolak di dalam dadaku, semua ini untukmu. Semua ini karenamu. Karenanya. Entah aku bicara pada siapa.

Perlahan ku genggam tangannya, tak lepas pandangku. Terus genggamanku merekat dan rekat dan rapat. Lalu kami... Kemudian kami... Dan... Kamipun tertawa lepas bersama. Kembali memandang indahnya langit.


Menyadari, betapa kecilnya kami dan kisah ini. Mensyukuri apapun yang saat ini telah dan tengah terjadi. Ya, kami hanyalah dua insan kecil yang tak mampu melawan semesta yang -mungkin- tak menginginkan kami terus bersama. Namun cukup untuk saat ini, aku -dan kuharap juga dia- bahagia. 
Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.