Stories and Sh*t

Tuesday, October 14, 2014

look back and learn


Cinta... terkadang terasa sangat simpel. Dapat digambarkan dengan hanya sebuah kata “indah”, atau “bahagia”. Namun terkadang... terasa begitu rumit. Serumit perasaan yang mewakili hati-hati yang terlibat didalamnya. Ya, kali ini saya akan bercerita tentang cinta, yang pernah terjadi antara dua insan yang dulu belum mengerti... bagaimana cara menjaganya.

I’ve got a friend, a boy once I know the happiest damn buddy perhaps on all over the earth... kalo cerita nggak pernah berhenti, nggak peduli orang bosen apa nggak. Sering cerita hal-hal lucu dan lama kelamaan sering jadi lelucon gagal yang ironosnya lebih lucu dari cerita lucu sesungguhnya. But then... he fell in love.


Pas dia punya pacar itu dia jadi punya mode cool yang beda-beda tipis sama mode murung. Saya nggak tau jenis kebahagiaan macam apa itu, tapi saya tau dia mendapat masalah-masalah setelah dia memiliki jenis hubungan yang biasa kita sebut “pacaran” ini. Ya tapi sebagai pemeran dalam cerita, tentu saja dia dulu tidak mengakuinya.

Kekasih hati temen saya ini, yaitu temen saya yang lain... anggota pemandu sorak (cheerleader) sekolah, yang jelas cantik dan... you know what I mean. Kisahnya sederhana, tapi patut diceritakan dan berlangsung cukup lama. Mereka mungkin tak mau mengakui bahwa jauh didalam lubuk hati mereka, masih ada sedikit rasa senang dan sakit itu... kecemasan, kecemburuan, dan kerinduan itu... makanya saya akan menceritakan mereka dari sudut pandang saya. Here’s their good sad story.

Berawal dari beli kertas manggis, dan berlanjut ke acara nembak di ruang kelas Bahasa Jepang. Mereka mengawali kisah sedih ini dengan manis di tanggal 15. Sejak saat itu tanggal 15 agaknya jadi makin spesial buat 2 anak –yang dulu- alay ini, mulai deh semuanya di 15-in, anniv aja setiap tanggal 15. Ya, artinya anniversary setiap bulan.

Di setiap kesenangan yang mereka miliki, mereka tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang sebenarnya membuat mereka tidak bahagia. Terutama saat mereka tidak bersama... si cewe telah memberikan sesuatu yang berharga, yang membuat si cowo merasa terlalu spesial dan mau berkorban apapun untuk itu. Si cowo, terbuai karena tidak siap untuk hubungan seperti ini. Membuat dia menyimpan setiap keluh kesahnya sendiri. Dia lupa, kalau hubungan harusnya berjalan dua arah.

Iya mereka melakukan hal-hal romantis. Kaya buatin kue ultah, kasi coklat atau nemuin pernak-pernik alami seperti batu berbentuk hati dan dijadiin jimat. But the real point of a relationship is.... mampu bertahan ketika dalam hari-harinya tidak terjadi apa-apa. And they are not survive. Kenapa? Karena salah satu diantara mereka terlalu muda untuk merasa yakin, dan yang lainnya terlalu muda untuk begitu yakin. Hubungan harusnya bertahan walau kadang berjalan sangat flat. Like nothing... tapi mereka enggak.

Masalah bermula disini... ketika si cewe mulai bosan dengan situasi yang terjadi, dan godaanpun datang mendekat. Saat itu dia masih terlalu bodoh untuk melihat mana yang lebih baik diantara para lelaki. Ia terlalu congkak dan merasa tinggi diri. Meninggalkan si cowo, demi cowo lain yang –mungkin- bikin dia seneng tapi nggak bikin dia bahagia. Si cowo sakit, dan si cewe tetep pergi.

Iya, si cewe salah. Bukan berarti yang cowo bener. Satu hal yang perlu kita ketahui dari si cowo ini adalah... dia nggak pernah nuntut yang macem-macem, dan jadi terlalu manjain si cewe. Hubungan mereka lambat-laun jadi berjalan satu arah... setiap kali bertengkar dia bakal depresi ke pojokan kelas sambil dengerin lagu last-child. Hal seperti itu, nggak pernah disukai siapapun termasuk temen-temennya. Setiap kali punya masalah, selalu dia yang minta maaf, walaupun si cewe yang salah. Dan itu berlangsung cukup lama.

Nggak ada salahnya minta maaf duluan saat bertengkar untuk menenangkan suasana. Tapi sebagai lelaki kita harus berani tegas mengambil keputusan. Cari cara untuk menyampaikan bagaimana yang menurut kita benar dan memang itu benar. Pada akhirnya, meskipun kita terus berkata iya... toh akan hancur juga.

Terpuruk dalam penyesalan, itulah yang dirasakan si cewe karena melewatkan kesempatan bersama lelaki yang mungkin terbaik yang pernah ia miliki. Sebuah pelajaran berharga lewat rasa sakit yang mendalam, itulah yang didapat si cowo karena tak mampu menjadi sedikit lebih tegas dan berkontribusi dalam komitmen yang seharusnya berjalan dua arah.

Look back and learn. Apa yang bisa kita ambil dari kisah asmara dua alay ini. Bahwa memang terkadang manusia menginginkan lebih dan lebih... lupa berhenti sejenak, untuk melihat apa yang kita punya dan bersyukur karenanya. Bahwa kita harus ingat untuk menghargai diri kita sendiri, dan tidak mudah menyerah dengan keadaan.

For I and M, semoga kisah kalian menjadi pelajaran. Bukan untuk kembali ke masa lalu... tapi untuk menguntai masa depan yang lebih baik.

I hope you guys are happy in your own path now and then...
Share:

2 comments:

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.