Stories and Sh*t

Thursday, April 16, 2015

a story about distance...

 If someone means everything... distance means nothing. Cih...

Hari itu... adalah suatu hari yang indah. Dimana kita mulai berfikir bagaimana pertemuan kita mungkin memang sudah menjadi takdir. Kamu... adalah seorang yang datang dari seberang nun jauh disana. Berada ditempat kecil sempit yang luar biasa ini, duduk disampingku. Bersama kita malu-malu, mengakui apa yang selama ini kita rasakan, tentang kita.


Tapi hari itu adalah hari itu.. yang lewat dan mungkin terlupakan, olehnya. Sedang aku disini, masih memikirkan sisa-sisa dimana mungkin saja sekali lagi takdir memihak pada janji-janji kita yang kini terasa dekat. Namun jauh. Sementara waktu terus berjalan merenggut usia yg kian menua. Aku terpaku pada ketidak-adilan kisah ini. Benarkah berakhir? Sampai disini, saja? Kah?

Kamu pergi lebih jauh... maju menuju suatu yang mungkin saat ini kamu sebut takdir pula, seperti saat itu. Bukannya aku tak bahagia untukmu, namun bahagiakah kamu? Apakah waktu yang kita lewati benar-benar terhapus jarak... apakah waktu berharga yang telah kita lalui habis dimakan memori. Menjadi sisa-sisa kenanganmu disana oh... nun jauh disana.

Bukan pula aku tak mau mempertahankan cinta ini. Kamu tau lebih dari siapapun seberapa besar perasaanku padamu... namun aku ya aku, anak muda bermodal cinta, yang baru saat ini benar-benar kusadari bahwa sungguh... itu bukan apa-apa.

Bagaimana aku menggapaimu, bahkan keluar kota-pun tak mampu. Bagaimana aku memelukmu, bahkan mendengar suaramu-pun kita mulai bersedih hati. Memikirkan bahwa kita mulai berjalan diatas asa yang kosong. Kita mungkin tak akan bertemu lagi sampai kesuksesan itu benar-benar datang. Namun kau menyerah... kau meninggalkan kisah kita.

Aku terlalu naif. Berfikir bahwa kemungkinan itu tetap ada walau kecil. Bahwa tentu kau mampu menungguku untuk beberapa tahun yang keras dan hanya berpegang pada janji-janji tak berarti itu. Ya... kini sungguh tak berarti. Semua tahun-tahunku bersamamu membuatku benar-benar lupa untuk selalu menanyakan diriku sendiri. Siapa aku? Nobody really...

Dan akhirnya.... selamat untukmu... bila mungkin waktu dan jarak benar-benar memakan kisah kita, atau memang kamu yang telah menyerah pada perasaan itu. Tak apa... aku tau, aku kalah kali ini. Sampai jumpa lagi...



For my friends, that lost to time and distance between them.. 
Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.