Stories and Sh*t

Thursday, September 3, 2015

A place for all of my bullshit

Malam yang larut. Selarut hatiku yang mengalir. Berdesir sakit, tercacah melihat kenyataan dimana dia, yang selama ini kukejar dalam lapar dan dahagaku, dalam keringat dan berat nafasku, hidup dan matiku. Melintas dengan senyum manis yang tajam menyayat. Tertawa penuh dengan kebahagian, di pelukan orang lain. Ya, orang lain.
Aku tau mungkin aku terlalu gila. Memberikan segala yg kupunya, mengorbankan segala kepentinganku untukmu. Menjadikanmu ratu di atas ketidakmampuanku. Namun aku tidak bodoh. Jika saja, jika sekali saja kau memberiku aba aba untuk mundur... Atau setidaknya memberikan sinyal tidak suka kepadaku. Aku tak akan melangkah lebih jauh. Namun kini terlambat sudah...
Akh... Kepalku terasa sakit lagi, seperti memukul mukul di bagian belakang. Mungkin hasil perlawanan cilcilia, yah itulah namanya... Cilcilia. Gadis yang aku cintai sepenuh hati, yang mencapakkanku dengan senyum manisnya. Coba kita lihat, ohh ternyata dia sedang tidak tersenyum saat ini. Kesan wajahnya terlihat seperti orang tidur. Cantik. Aku suka. Hm... Kalo begitu simpan saja. Simpan? Hahahaha mana muat semuanya, kita ambil bagian kepalanya saja. Ya kepalanya. Hm.... Freezer mana freezer.

Ding dong.... Pagi yang dingin bel berbunyi, aku masih penuh dengan uap dan dibungkus selimut tebal, tapi bel terus berbunyi. Dengan malas aku menuju pintu depan, malas rasanya  melewati ruang makan yang penuh bau tak sedap. Bekas kesenangan kemarin yang belum sempat ku bereskan.
Sam, ku intip sam sedang berdiri di depan pintu dengan raut wajah cemas. Aku menduga2 apa yang sedang ia fikirkan. Oh ya sam, dia adalah teman serumahku beberapa waktu lalu, rumah ini adalah rumah tak terpakai di ujung perumahan tak laku dan dikontrakkan dengan murah. Setelah mendapat pekerjaan ia pindah dari tempat ini.
Aku buka pintu dengan sedikit menyembulkan kepalaku keluar. "Yow, wassap" sambutku. Dia berbicara dengan cepat hampir-hamir tak terdengar, tapi bunyinya seperti ini... "Tom, syukurlah... Bisakah aku masuk? Aku butuh tempat untuk tinggal, setidaknya untuk beberapa hari, atau minggu. Rumahku dikerubungi banyak polisi tom, aku tak berani pulang. Aku dengar desas desus kalau cilcilia telah hilang selama beberapa hari, aku mempunyai banyak hutang padanya, polisi pasti mencurigai aku telah menculiknya. Aku tak bisa berhadapan dengan polisi tom, kau tau kan apa pekerjaanku. Aku bisa dihukum mati..."

Aku melihat ke dalam sejenak. Memikirkan beberapa hal... Lalau ku perbolehkan dia masuk. Aku bilang untuk menunggu sebentar sementara aku membasuh muka. "Duduk sini, jangan keliling2 apa lagi ke dapur ye". Kataku.

Sam keheranan dengan tingkahku. Sejenak setelah aku pergi, dia mulai menolah-nolehkan krpalanya kesana kemari seakan dia berada di tempat yang benar-benar baru. Tak tahan, maka dia mulai melangkahkan kakinya. Tempat pertama yang ia tuju, dapur. Raut wajah kaget terpampang lebar saat dia menemukan dapur yg bau busuk dan merah pekat. Ia melihat lebih dekat ke arah kaki meja yang sedikit terselip sesuatu, dipungutnya benda itu dan di perhatikannya dalam-dalam. Seperti... Jari manusia.

Sementara aku sudah berdiri di belakangnya dengan membawa pisau pengiris daging yang besar... Perlahan kukatakan padanya seolah berbisik "Aku tak tau harus sedih atau bahagia, but... What did I told you about not going to the kitchen..."

bersambung...


Share:

1 comment:

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.