Stories and Sh*t

Tuesday, June 7, 2016

23rd



Ramadhan ke 23, yap… today is my 23rd hijriah birthday. Not a really special day though, but thank God, for all the chance that I’ve got, and for the future I haven’t know yet. It just so beautiful to feel the experience of life. Hope You give me more and more time so I can fulfill my truly task as a man. Aamiin.

Awalnya  sih pengen buat artikel sok-sok motivasi ala bulan ramadhan. Tapi lagi dan lagi kesandung sama pikiran bahwa jangan-jangan apa yang saya bilang bakal jadi nasehat buat diri sendiri di kemudian hari. Alias diri sendiri yang belum bener dan nggak berani ngasi tau orang buat ngelakuin yang bener juga. Sussaaahhhh

Mau nulis kisah sukses? Lah saya sendiri belum sukses… emang sih, sukses itu adalah jalan, bukan sebuah final suatu lomba. Tapi tetep aja kalo orang kaya saya nulis kisah sukses lah terus yang ga sukses itu bentuknya seperti apa. Wkwkwk… udahlah, kapan-kapan aja nunggu penghasilan bisa ngasi makan orang sekampung.

Mau nulis kisah sedih? Udah kebanyakan kayanya, jadi ga sedih lagi. Lagian kalo dipikir-pikir kok tulisan sedih itu mengesankan kaya saya kurang bersukur dengan pemberian Tuhan selama ini. Hahaha jadi serba salah kan.

            But anyway… this is my birthday! I’ve gotta write somethin’. Jadi biarkan jari ini melantunkan irama hati yang bimbang, ditengah malam yang makin dalam…


            Bimbang? Ya… begitulah hati, yang mudah dibolak balik hanya karna waktu yang berlalu. atau kenang yang kembali datang… bahkan masa depan yang terbayang, kadang cukup membuat hati bimbang, padahal angan belum tentu jadi kenyataan. Malang sungguh malang…

            Mau mundur terlalu pengecut, maju tak tau malu. Sudah terlalu sering berkata tanpa makna. Kali ini mulut bergetar tak mampu bicara. Apakah karna bimbang, atau keyakinan yang membuatnya terlalu sulit.

            Lihatlah bulan, sudah seberapa tinggi ia, menonton jari ini gemeritik mengeja. Mencoba menunangkan yang tak tertuang, menggambarkan keabstrakan, menata ketidak teraturan kemelut entah harapan duka atau bahagia.

            Juga dingin yang semakin menusuk, mengejek ketidak siapan jiwa tanpa selimut atau seutas benang rencana cadangan… yang apabila semakin dalam, akan menghancurkan bagai kehampaan yang tak menyisakan rasa.

            Namun bukankah harus begitu? Tidakkah logika merusak asa? Dan jika beginilah adanya… akan kubiarkan berlalu, atau meniti langkah seribu membangun pondasi. Bimbang… pada sebuah akhir kebahagiaan.


Fiuhhhh… gitulah pokoknya. Intinya, suatu waktu… aku padamu.
Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.