Stories and Sh*t

Thursday, November 23, 2017

Namanya adalah... (2)


CHAPTER 2. PERPUSTAKAAN

Ini kisah tentang gadis remaja itu. Mari kita kembali pada saat pertama aku mengenalnya. 

4 tahun lalu. Saat aku baru pertama kali benar-benar mendapat pekerjaan sebagai seorang guru dan di panggil "Pak". Sebelumnya aku hanya mengajar di beberapa bimbel dan private. Kelas kecil. Itu pun sangat jarang mengajar murid SMA, beberapa SD dan sebagian besar murid SMP. Aku guru matematika. Walaupun jujur, aku tidak begitu menyukainya. Aku lebih menyukai membaca dan menulis. 

Itulah yang menjadi masalah. Mengatasi anak SMA tidak semudah kelihatannya. Singkatnya, hari itu adalah hari yang buruk. Aku memutuskan mengurung diri di perpustakaan saat jam pulang sekolah. Membaca novel-novel yang mampu mengalihkan perhatianku. Dan tanpa aku sadari, sore hari datang. 

Di sanalah, sesaat sebelum memulai langkahku untuk keluar perpustakaan. Aku melihat gadis remaja itu. Bunga yang baru akan mekar. Ia duduk di pojok ruangan menghadap jendela keluar. Melihat ke arah lapangan basket. Banyak anak-anak sedang latihan ekstrakulikuler bermain bola basket. 

Wajahnya merekah merah ke kuningan di terpa sinar mentari sore. Matanya mungkin mengarah ke luar.. Tapi aku tau pikirannya jauh. Gadis belia itu seolah jauh lebih dewasa dari usia seharusnya. Aku pun agaknya jadi lebih muda dari kelihatannya. Berdiri tegak di situ memperhatikan seorang gadis. Untungnya, tak ada yg memperhatikanku. 

Aku mendekatkan diri dan berdiri di belakangnya. Ikut memperhatikan ke arah luar jendela. Tak ada yang menarik. 

"watching for your special one?1 " kataku sambil terus menilik jendela saat dia menoleh ke arahku. 

" how about you sir, watching someone special?"2 katanya sambil menatap tajam ke arahku dan menyipitkan mata. 

Aku tersenyum dan menolehkan wajahku padanya pula." No. I'm just watching you."3 kupikir itu akan membuat dia merasa malu2 ala remaja tanggung. 

Tapi kemudian ia hanya berpaling lagi, menoleh ke arah luar. "i'm just watching you too… sir."4 jawabnya santai. 

Aku mengangkat alis sebelah kiri dan mengerutkan kening. Heran. Kemudian dia menunjuk ke arah jendela. "see"5 katanya. Aku masih tidak mengerti. 

"walaupun samar. Aku masih bisa melihat pantulan bayanganmu dari kaca itu" katanya masih sambil menunjuk kaca jendela. Oww aku mengerti. Memang masih terlihat samar bayangan kami di sana. 

"aku melihatmu sejak tadi. Stress karena kelas pertamamu" katanya sambil menoleh lagi menatapku dengan senyum kemenangan. 

"aaaaahhh" kataku sambil menepak dahi kemudian tertawa ringan. 

She got me.6 

Bersambung...

Share:

Namanya adalah...




CHAPTER 1. PROLOG

Hai. Namaku Rio, penulis cerita ini. Aku adalah seorang bujangan yang ber-profesi sebagai guru disalah satu sekolah menengah atas negri kota Palembang. Aku tinggal sendirian disebuah rumah yang belum lunas kreditnya. Mungkin sekitar 12 tahun lagi. Setidaknya masih seperti itu hingga setahun lalu. Walaupun aku menyukai kisah hidupku yang lurus-lurus saja. Tidak dapat di pungkiri, bahwa tidak ada yang menarik dari kisah hidupku. Karna itu... Cerita ini bukan tentang aku.

Bermula pada awal September tahun lalu saat malam hari dan hujan gerimis turun. Aku sempatkan diri bersantai dan menikmati segelas kopi hangat, sambil menonton acara berita televisi. Aku biasa tidur pada pukul 1 atau 2 dini hari. Malam itu tidak terkecuali. 

Well, mungkin sedikit pengecualian. Kalau kalian sering menonton teleivisi hingga dini hari, maka kalian akan tau. Beberapa stasiun televisi mengganti channel menjadi saluran lokal. Jadi acara yang ditampilkan waktu itu juga acara-acara dan berita lokal kota Palembang (Sumatera Selatan). Karna ternyata pada akhirnya aku belum tidur hingga pukul 3 dini hari. 

Pada pukul 3 itu, aku sudah mengantuk dan sebenernya sangat ingin tidur. Hujan di luar juga makin deras membuat kasurku seperti bersuara memanggil-manggil namaku. Tapi satu berita di televisi membuat aku terhenyak sesaat. Memperhatikan. Berita itu bercerita tentang hilangnya seorang siswa SMA kelas 12. Laki-laki. Sudah 3 hari ia tak pulang ke rumah dan tak ada kabar. Pesan yang terakhir di sampaikan pada teman sekolahnya terjadi pagi ini. Dan pesan itu di sinyalir tidak ber-faedah apa-apa. 

Anak itu bukan anak didik-ku. Aku juga tidak mengenalnya. Mungkin aku mengenalnya, tapi hanya sebatas tau. Hanya saja... Pengetahuanku itu sudah cukup untuk menduga-duga apa yang terjadi. Aku melamun sesaat dan hujan menderu makin deras. Saat itulah lamunanku terpecah oleh pintu yang diketuk. Pelan memang seperti ketukan orang yang ragu. Jika saja aku sudah tidur, pasti tidak akan terdengar. 

Aku membuka pintu, juga secara perlahan. Suara hujan terasa makin keras terdengar. Seliwer angin badai membuat kelebat hujan kesana kemari. Basah sudah lantai teras rumahku. Juga basah kuyup seorang gadis yang sedang berdiri di depan pintu. Menundukkan kepala. Wajahnya tertutup rambut hitam panjang yang masih meneteskan sisa air hujan. Tangannya sedikit gemetar memegang untaian tali tambang kecil yang nampaknya sudah teputus-putus. Aku bisa menebak ekspresinya yang diam termangu. Tidak senang, tidak sedih, tidak marah, tidak merasa bersalah. Tidak ada. 

Dia adalah anak didik-ku. Siswa kelas 12 di sekolah tempat aku mengajar. Aku mengenalnya sejak ia kelas 10, kami cukup dekat. Aku merengkuh bahunya yang gemetar kedinginan. Aku perhatikan dia sebentar.. Lalu aku peluk dia cukup erat. Ia masih mengenakan seragam sekolah dan berlumuran darah kering. Kini lembab tercampur air hujan. Membaur pula dengan kaos putih yang ku kunakan saat berpelukan dengannya. 

"tidak apa-apa. Ayo masuk ke rumah. Kau boleh tidur di sini malam ini. " kataku sambil tersenyum. 

Bersambung...

Share:

Thursday, November 16, 2017

sebuah jalan panjang (Rama eps. 6)



Begitulah akhirnya… setelah itu, waktu melenggang saja menuju esok, kemudian lusa, kemudian minggu setelahnya, bulan setelahnya, tahun setelahnya. Higga hari ini, 7 tahun setelah aku terakhir kali melihat wajah cantik itu. Usiaku sudah menginjak 24, tapi rindu itu masih saja terasa.

Aku menjalani hari seperti biasa, memang.. terus kuliah, bekerja. Tapi seperti jasadku saja yang bergerak mengarungi waktu. Jiwaku tertinggal jauh di belakang. Temanku pergi satu per satu, aku menjadi pendiam, pemuda tanpa ekspresi, menyimpan rasa sakit. Hingga puncaknya tahun lalu, saat ayah ikut berpulang. Aku memutuskan pindah.. menjual rumah, sedikit menyingkir ke kabupaten sebelah kota. Membeli ruko, membuka toko kelontong.

Lantai 2 jadi hunianku. Hanya satu ruangan… inilah tempat tidur, tempat makan, bersantai, atau apapun itu. Kecuali buang hajat tentunya. Yang satu itu terpisah. Akhirnya semalam ini habis juga ku ceritakan semua kisah. Mentari mulai mengintip di ujung kaki langit timur, dan mataku sudah tak kuat menahan kantuk. Aku terlelap.


“nak bangun nak… sudah siang. Kau tidak buka toko?”
“ayah, bagaimana bisa ayah di sini”
“hahaha, harusnya ayah yang bertanya begitu, bagaimana bisa kau disini”
“maafkan aku ayah, aku tidak hidup dengan baik”
“kau hidup dengan baik nak… kau bertahan. Ayahlah yang harusnya meminta maaf, ayah tidak mampu bertahan. Meninggalkanmu sendirian”
“ayah… kenapa aku lalai sekali”
“kau masih punya banyak waktu nak. Perbaikilah..”
“tapi aku tidak punya semangat ayah. Lihatlah aku, bagai mayat hidup”
“apa gerangan nak, kau bisa bercerita pada ayah”
“aku pikir, aku telah melihat keajaiban ayah. Begitu besar keajaiban itu. Jika aku ceritakan tak akan ada yang percaya. Keajaiban itu benar-benar terasa nyata, dan terjadi begitu lama. Namun saat telah membuatku senang sampai ke langit, ia menghilang… menghempaskan aku ke bumi, ke dasar terdalam. Aku terpuruk ayah”
“tapi setiap hari adalah keajaiban nak.”
Suara ayah terasa jelas sekali di telingaku, aku pun lancar saja menjawabnya. Namun mataku sudah tak kuat bangun.. semuanya gelap.
“rama.. nak, ingatkah kau dengan anak SMA yang setip hari beli rokok di tokomu. Setip hari dia datang dengan sepeda motor kesayangannya. Ia bahkan memberi nama sepeda motornya, gerandong. Hahah… sangar. Motor itu nak, sudah di modifikasi sekian kali. Kerangkanya di orak-arik, joknya berganti, rodanya, lampunya, kaca spion, semuanya… satu per satu tergantikan bahkan sampai ke mesin-mesinnya. Tapi, apakah motor itu tetap gerandong kesayangan anak itu? Tentu saja iya.
“begitu pula dengan manusia nak… dalam sehari, sudah berapa kali tubuh ini beregenerasi sel. Yang mati tergantikan dengan yang baru, syaraf berganti, kulit berganti, jaringan otak berganti, semuanya. Lalu apa yang membuat kau yakin bahwa kau yang sekarang adalah kau yang kemarin? Apa nak?”

Aku terdiam sejenak. Kemudian dadaku terasa di sentuh… tangan ayah mengusapnya. “ada yang menghubungkan kita nak. Yang menghubungkan kita dengan hari kemarin, pun hari esok. Yang membuat kita tetap menjadi orang yang sama seperti hari kemarin. Itulah keajaiban yang sering kita lupakan. Keajaiban langit terjadi setiap saat, namun memang terkadang kita meminta lebih, seolah langit berhutang keajaiban. Padahal tidak.

“rindu yang kau rasakan, sejatinya hanya sebagian kecil keajaiban. Jadikan itu motivasi, bukan beban. Rindu itu menghubungkan banyak tempat. Menyisir setiap jendela, menyusup di balik semesta. ah ya… bicara soal rindu, ada yang sangat merindukanmu. Lihatlah…”

Aku menoleh ke samping, mataku terbuka. Lihatlah.. ibu berdiri di sana, tersenyum.. membuka lebar tangannya. Membuatku lari berhamburan… memeluknya. Erat.

“maafkan i..”
“tidak bu. Aku menyayangi ibu. Aku sungguh menyayangi ibu. Aku ingin ibu peluk setiap hari… aku ingin makan masakan ibu, aku ingin mencium tangan ibu sebelum ibu pergi. Aku ingin ibu mengusap kepalaku. Aku… aku rindu Ibu…”

Ibu mengusap kepalaku. Aku tenggelam dalam tangis.

“tersenyumlah nak. Karna setiap hari adalah hari baru. Karna setip hari adalah keajaiban.”

Silau mentari membakar telingaku. Aku tidur terduduk di depan jendela. Ku perhatikan sekeliling. Sepi saja. Itu hanya mimpi. Aku tersenyum simpul… Ruangan  masih sama seperti tadi malam saat aku melamun hingga akhirnya tertidur sendiri. Namun ada yang berbeda. Hari ini, mentari bersinar lebih cerah. Aku bersiap. Memanaskan mobil pick up, menuju pasar besar belanja kebutuhan pokok. Memulai hari baru.

Pasar masih terasa sesak walau matahari sudah mulai meninggi. Aku bekerja sendiri pula. Rasa-rasanya sudah seperti kuli sepagi ini. Membeli, menawar, mengangkut, memindahkan mobil, begitu lagi sampai semua keperluan terpenuhi.

Tepat matahari membumbung di atas kepala, aku putuskan untuk beristirahat di sebuah warung pinggir jalan. Selesai sudah prosesi belanja hari ini. aku bersantai sambil makan siang. Sesaat kemudian aku melihat ibu paruh baya melintas di hadapanku, posisi makanku menghadap jalan.. jadi terlihat hilir mudik orang berlalu-lalang.

Ibu itu membawa belanjaan yang cukup banyak. Sendirian.. agak tertatih mengingat usianya yang mungkin sudah di akhir 50-an. Aku bergegas menyudahi makanku, dan kemudian membantu ibu tersebut membawa barang bawaannya ke angkutan umum.

Setahun berlalu, tidak banyak perubahan. Kecuali toko kelontongku yang sudah bertransformasi menjadi lebih besar. Kini toko-toko kecil di sekitar kampung membeli barang dagangan dari toko ku secara grossir, untuk dijual kembali. Kamarku pindah ke lantai 3, lantai 2 ruko sudah di jadikan gudang.

Setahun lagi berlalu, kini toko ku berdiri di mana-mana, aku bahkan membuka 2 mini market di perkotaan. Membeli rumah kecil di dekat toko lama ku berdiri. Aku begitu sibuk. Urusan toko dan uang memang tidak pernah mudah. Tapi aku bisa mengatasinya. Aku juga memperbaiki kehidupan sosialku. Minggu depan, aku punya rencana makan malam di kota. Reuni bersama Nadira dan Daus yang kini telah menikah.

Seminggu berjalan cepat. Aku berpamitan selesai bercakap banyak hal dengan Daus dan Nadira, mereka tampak sehat dan sejahtera. Aku pun ikut bahagia. Tepat saat aku melintas salah satu jalan protokol, aku kembali melihat ibu tua yang dulu pernah aku lihat berbelanja ke pasar. Aku hentikan mobilku dan parkir sembarangan demi membantunya. Tak apa, sudah malam.

Payah sekali kondisinya, membawa banyak barang dan menyebrang jalan dengan sangat lambat. Aku putuskan untuk mengantarnya ke rumah. Tidak jauh rupanya, ibu ini memiliki rumah di tengah kota. Hanya untuk melihat rumah kecil dengan penghuni yang banyak. Ia menawarkan masuk, aku ikut saja, demi keramah-tamahan.

“nak rama pulang ke mana malam-malam begini nak?”
“saya tinggal di kabupaten sebelah bu, sekitar 30 km dari sini”
“loh… apa ga bahaya malam-malam pulang sendirian?”
“ga bu, insyaAllah aman” aku tersenyum sambil meminum secangkir teh yang di hiangkan. “ibu sendiri dari mana malam-malam begini?”
“oh, ibu dari terminal, mengantar anak ibu yang habis berkunjung dari luar kota” beliau menjawab sambil meminum juga teh miliknya.
“hmm bicara sial anak, keluarga ibu ramai sekali. Hahaha”
Ibu itu tersenyum “ini belum separuhnya nak. Total anak ibu yang ada di rumah sekitar 23 orang”
“dua puluh tiga?” aku tersedak.
“iya, dua lahir dari kandungan ibu, yang lain dipertemukan takdir” ibu wijoyo agak tertawa melihat aku tersedak.

Ternyata itu panti asuhan. Ibu tua itu adalah pengurusnya. dulu ia mengurus panti bersama suaminya. Tapi setelah suaminya meninggal ia memutuskan berhenti bekerja dan fokus menjadi ibu untuk puluhan anak-anak kurang beruntung tersebut.

Beberapa menit lagi berbasa basi, lalu aku bersiap pulang. Beliau mengantarku sampai ke pintu gerbang. Rumah panti ini terlihat kecil dan agak kumuh. Mungkin aku bisa memberi sedikit bantuan.
“terimakasih sudah mengantarkan Ibu ya nak..”
“iya bu, sama-sama. Terimakasih juga tehnya. Oh ya, kalau boleh tau nama pantinya apa ya?”
“rumah bahagia keluarga Wijoyo” ibu Wijoyo tersenyum seperti menanti pertanyaan baru.
“ibu… ibu Wijoyo?”
“ya. Ada apa nak Rama?”
“ah.. tidak apa-apa.” Aku bergegas masuk ke mobil dan pulang. Sudah terlalu malam.

Hari berganti. Sepagi ini aku mencuci mobil sambil melamun. Pikiranku agaknya mengenali nama tempat itu.. rumah bahagia keluarga Wijoyo. Karin… Karin pernah bercerita tentang Ibunya, yang sepertinya memiliki karakter seperti bu Wijoyo. Namun namanya berbeda, dan jika memang benar, seharusnya bu Wijoyo sudah berusia setidaknya 70 tahun. Namun aku yakin bu wijoyo yang ku temui semalam berusia sekitar akhir 50-an, atau awal 60. Ahh.. aku singkirkan jauh-jauh lagi nama Karin. Sebelum itu kembali mengganggu mood-ku.

Seminggu kemudian. Nyatanya masalah hati ini memang susah di taklukkan. Apa salahnya bertanya. Siapa nama dua anak perempuannya. Ia berkata anak sulungnya sudah menikah.. apakah Karin sudah menikah? Apakah Karin si bungsu? Tapi terakhir kali Karin bicara padaku, dia bilang akan menikah. Ahhh… tidak ingin mati penasaran. Aku memacu pedal gas mobilku. Menuju rumah bahagia keluarga Wijoyo.

Lagi-lagi takdir mempermainkanku. Kosong.. rumah itu sudah kosong. Tetanga bilang mereka telah pindah beberapa hari yang lalu. Dan sialnya, tak ada yang mengetahui kemana mereka pindah. Keluar kota? Ke seberang jalan? Semua hal ini akan menghancurkan semangatku jika saja terjadi beberapa tahun yang lalu. Namun tidak hari ini, semua keganjilan ini membuatku semakin yakin. Semakin bersemangat. Karin… aku datang. Apapun takdirnya nanti. Aku igin menemukanmu.

Berkata memang mudah. Tapi pencarianku tak pernah berhasil. Aku tak pernah menemukan panti dengan nama “rumah bahagia keluarga wijoyo” dimanapun. Tidak sekalipun aku mendengar nama itu lagi. Seperti raib di telan bumi. Pencarian lewat internet berlangsung sia-sia. Hanya tersedia alamat dan foto-foto lama.

Setahun…
Dua tahun…
Tiga tahun…

Usiaku hampir 30. Masa-masa berlalu cepat dan aku mungkin sudah melupakannya. Hari-hariku normal seperti biasa, wajahku bertambah tua. Kalau saja Karin memang ada, usianya menginjak 32 sekarang. Kalau ia benar menikah waktu itu.. anaknya mungkin sudah lulus SD. Usahaku mulai mandek di situ-situ saja. Terkadang aku mengunjungi pusara ayah dan juga pusara ibu di luar kota. Aku tak merasa putus asa. Namun entah mengapa semangat itu hilang lagi. Terkadang aku berdiam saja seperti batu. Berpikir  bahwa ada atau tidak ada aku, dunia akan sama. Perlahan… kesehatanku pun menurun drastis.

Entah bagaimana. Hari itu aku sudah tergeletak di rumah sakit. Daus duduk di pojok ruangan, tertidur menungguiku semalaman. Aku perhatikan sekitar ruangan yang lenggang. Selang infus masih tersambung di pergelangan tangan kiri ku. Apakah semalam aku mabuk bersama daus? Entahlah… aku berusaha bangun dari ranjangku, berjalan setapak-setapak menahan sedikit sakit di perutku. Membuka pintu, keluar ruangan.

Hari masih pagi buta, mungkin pukul 5 atau 6 pagi, lorong menuju kamar-kamar pasien masih lenggang. Satu dua ada yang tertidur di kursi atau lantai. Beberapa perawat sudah mondar-mandir. Tapi masih leluasa untukku berjalan. Aku melangkah terus… membawa kaki ini sejauh apa dapat melangkah. Tapi tiba-tiba kakiu terhenti di depan pintu sebuah kamar pasien.

Aku beranikan membuka pintu. Semua orang tertidur… ada enam ranjang di sana. Ranjang yang paling pojok, aku melihat sosok tua itu. Wanita yang lemah tertidur di sana. Ibu wijoyo. Aku melangkah perlahan, menjaga tangan kiriku yang masih tersambung dengan infus yang ku bawa-bawa bersama tiangnya.

Lihatlah… bertahun aku mencarinya. Ia tertidur lemah disini. Perlahan, Ibu wijoyo membuka matanya, dan tersenyum. Seolah mengetahui bahwa aku akan berada di sana.

“nak rama”
“iya bu,” aku mengusap punggung tangannya menahannya untuk tidak bangun.
“duh.. ibu sudah tua sekali ya”
Aku balas dengan tersenyum… tidak, ia masih sama seperti yang aku lihat tiga tahun lalu. “ibu pindah kemana? waktu itu… aku mencari Ibu kemana-mana, tapi tidak ketemu.”
“ibu pindah ke pinggir kota nak… mencari hunian yang lebih layak.”
“pinggir kota?” jika masih di kota ini kenapa aku sulit sekali menemukannya.
“nak Rama percaya pada takdir?” ia bertanya, dan aku hanya menaikkan alisku tanda tak mengerti.
“rumah kami berubah nama nak. Wijoyo itu nama almarhum suami ibu. sekarang pakai nama ibu sendiri.”
Aku memasang wajah pucat pasi. Menebak. Menerka.. sampai akhirnya terucap di mulutku. Aku menangis. Entah mengapa keluar saja air mata ini. seolah mengakhiri kesenduan tiada akhir. Seolah membalas semua waktu yang terbuang selama ini.
“apakah… nama ibu, Ibu Indah?” kataku getir… kini ibu indah yang memasang mimik keheranan. Ia pasti bingung kenapa aku menangis. Tapi dari ekspresi itu aku tau… benar. Dia adalah Ibu indah. Dan Karin baru saja pulang sebentar untuk memasak sarapan di rumah.. mungkin nanti sekitar pukul 7 ia akan kembali ke kamar ini. seingatku… begitu ceritanya.

Selanjutnya, kau tau…

Sore hari menjelang senja. Aku sudah duduk di rumah baru mereka. Rumah bersama keluarga Indah. Yang ternyata adalah bekas pabrik tua yang telah ditinggalkan lama sekali. Tempat aku dulu sering datang dan bermain tongkat kayu tua. Mengintip sedikit kehidupan Karin.

Seorang gadis duduk di depanku. Berseberangan meja ruang tamu. Ia hanya menunduk… sedikit malu. Rambutnya hitam panjang. Tubuhnya tinggi dan usianya tampak masih di awal 20-an. Kemudian wajahnya perlahan melihat ke arahku, bertatap muka. Saling adu mata kami untuk beberapa saat. Wajahnya cantik… kami terdiam beberapa saat. Kemudian aku menangis… cantik sekali. Ia cantik sekali. Hatiku menderu deru… Karin, kau cantik sekali.

Aku berusaha menjurulkan tanganku untuk sekedar memperkenalkan diri secara benar. Mungkin saja ia sudah tidak mengenaliku lagi. Tapi kemudian ia berlari, cepat. Masuk dan menuju ke belang langsung.

Aku terhenyak sesaat. Sedikit sadar sedikit tidak. Aku menyapu rambutku ke belakang… sudah beberapa menit sejak Karin pergi. Aku ikut melangkah masuk. Ibu indah menatapku heran seolah bertanya apa yang terjadi, namun tidak diucapkan karna melihat ekspresiku yang tidak kalah bingungnya.

“dia sedang bersembunyi di ruang rahasianya. Kau boleh ikut menyusul jika mau.. itu lorong belakang lewat dapur.”
“apakah tidak apa-apa?”
“pergilah… ibu tau kau menunggu cukup lama untuk ini.” ibu indah berlalu dengan senyum khasnya. Yang begitu teduh.

Aku sudah berdiri di depan pintu, tempat dimana 15 tahun lalu aku pertma kali merasakan perasaan ini. jantungku berdegup kencang… tapi aku berusaha menenangkan diri. Perlahan, aku membuka pintu.

“rama, aku akan menikah” Karin berkata lirih… namun tak ada siapa siapa disana. Karin pun seolah kebingungan. Wajahnya yang sembab oleh tangis mendongak ke depan. Lalu kepalanya berputar menyisir isi ruangan. Perlahan mengarah padaku. Pandangan kami kembali bertemu. Namun kali ini aku tidak menangis. Aku tersenyum lebar.
“apakah itu berarti kau bersedia?” aku bertanya.
Alih-alih menjawab, Karin langsung berhambur ke arahku. Memeluk erat.
“itu kata-kata yang indah… aku akan menikah, denganmu. Rama…” Karin memelukku makin erat. Kepalanya terbenam di dadaku. Aku mengusap punggungnya perlahan. Memeluknya lembut. Sejujurnya aku pun punya banyak pertanyaan. Tapi itu tidak penting lagi. Aku menemukanmu. Karin.



TAMAT.
Share:

Saturday, November 11, 2017

Rama eps. 5



Karin meletakkan mangkuk bubur yang di bawanya ke meja. Kemudian duduk di sebelah ranjang. Menatap wanita tua yang tergeletak disana. Masih pulas dalam tidurnya. Sejak malam Karin harus menetap di kamar pasien rumah sakit umum kota ini, agak jauh dari panti. Pagi pulang mandi, memastikan anak-anak sarapan, lalu berangkat lagi. Jadilah waktunya tersita dan tak sempat memainkan kayu tua itu. Jelangkung.. yang tiga tahun belakangan menjadi alasannya untuk berbahagia menjamu senja.

Sejenak matanya melirik keluar jendela. Ada begitu banyak memori yang telah Karin lalui bersama Rama. Memang hanya sebatas cerita namun semenjak kejadian menyedihkan setahun lalu membuat cerita-cerita mereka lebih mendalam. Lebih terasa seolah mereka benar-benar terhubung dan saling mengenal. Padahal tidak.

Share:

Wednesday, November 8, 2017

Rama eps. 4

Karin terbangun dari tidurnya. Hari masih gelap. Mungkin terbilang subuh. Sinar mentari belum terlihat di ufuk timur. Namun matanya sudah selesai beristirahat. Ia perhatikan sekeliling kamar. Sepi.. Sepertinya anak-anak belum ada yang bangun.

Sejak karin menginjak usia  17 tahun lalu,  ia sudah mendapatkan kamar sendiri. Karin pun sudah seperti asisten ibu panti. Sudah tidak ada lagi anak-anak seusianya di panti tersebut. Entah mereka di adopsi,  atau pergi bekerja dan tinggal terpisah secara mandiri.

Karin membuka selimut dan mulai melangkah keluar kamar. Menyusuri lorong terus menuju dapur. Bahkan ibu indah pun belum bangun. Ia tidak terlalu memperhatikan waktu. Mungkin masih pukul 3 atau 4 dini hari waktu itu.

Share:

Monday, November 6, 2017

Mengintip di balik jendela. (rama eps.  3)

Dan begitulah bagaimana aku mengenal karin. Sebuah pertemuan tanpa rupa,  tanpa suara, hanya dengan media bernama jelangkung.. Entah, apakah jelangkung ini benar bertuah. Apakah memang takdir yang membawa pertemuan itu. Pertemuan yang membawaku pada malam ini. 

Aku kembali tersadar..  Kali ini oleh suara anjing yang melolong merdu.  Mataku menatap kosong ke arah kejauhan. Menembus jendela kaca dan rerimbunan.  Mencari sepotong kerinduan yang teredam ruang dan waktu. 3 tahun. 3 tahun penuh kuhabiskan dengan mengisi hari-hari bersama karin. Bercakap tentang duniaku, dan tentang dunianya.  Bercengkerama hampir setiap sore. Lewat sebuah tongkat kayu tua.

Pertemuan pertama itu. 10 tahun lalu... 

Share:

Friday, November 3, 2017

Review tempat nongki: Warkop Paman King Unsri Indralaya

Warkop Paman King. Indralaya.
Lokasi : deretan ruko kosan amanah,  samping gerbang depan Unsri.

Kalau di bandingkan dengan beberapa tempat nongki di Palembang,  saya akan berikan nilai 6 dari 10, tapi untuk ukuran Indralaya..  I guess It'll be 9 out of 10.

Menu yang di tawarkan cukup variatif dan enak. walau sedikit ngasal seperti americano yg langsung di campur gula,  sehingga terasa seperti kopi biasa, tapi cukup baik.

Lokasi strategis di pusat keramaian,  dekat kampus,  dan tempatnya nyaman, bersih. Ruangan full ac dengan dekorasi minimal dan menyediakan outdoor area untuk yg merokok. Kekurangan lokasi adalah view yg tidak bagus. Karna tempatnya agak ramai penjual di malam hari.  Namun sulit menemukan view bagus di Indralaya.

Pelayanan cukup baik dan ramah,  peralatan yang digunakan bersih dan sedap di pandang mata. Menyediakan wifi yang cukup ngebut untuk streaming youtube dan terkadang ada live music. Tidak ada acara nobar bola.

Harga jika di bandingkan dengan fasilitas dan pelayanan yang di berikan cukup terjangkau. Berkisar 20k untuk secangkir americano. Harus membayar di muka untuk semua pesanan. Mungkin menghindari mahasiswa nakal. Haha.

Thats it. Karna belum ada temoat nongki yang mampu bersaing dengan paman king di wilayah kampus unsri ini, I'll give it 9 out of 10.

Share:

Thursday, November 2, 2017

Karin (Rama eps 2)

Dalam lembar kehidupan yang lain...

Berdiri seorang anak remaja tanggung.  Perempuan cantik. Usianya berkisar 16 Tahun. Sendri menyusuri ruang demi ruang rumah yg baru saja di beli orang tuanya. Tempat ini,  cukup besar jika hanya di buat rumah. Maka ia susuri satu per satu ruang yang ada. Bau plester semen dan keramik-keramik yang baru saja terpasang terasa menyengat. Rumah ini bekas bangunan tua yg tak terpakai,  dan baru saja di renovasi untuk di jadikan rumahnya... Karin,  dan puluhan anak lain. Ya. Itu adalah rumah yatim piatu.

Rumah bersama keluarga Indah.  Adalah satu-satunya panti asuhan dengan sistem yang sangat baik di kota ini. Karin beruntung menjadi salah satu anak angkat dari Ibu Indah. Ia memperlakukan semua anak secara adil. Bahkan dia tidak pilih kasih antara anak kandung dan anak angkatnya.  Mereka semua membaur. Disini,  semua anak mendapatkan pendidikan minimal sampai tingkat sekolah menengah. Semuanya. Kecuali Karin.



Karin memiliki sedikit keistimewaan. Ibu Indah bilang ia spesial. Bukan.. Bukannya tidak menyekolahkan Karin,  sudah 3 sekolah dasar yg pernah di jajakinya. Namun Karin cenderung stress dan minder karna olok2 teman2nya.. Kemudian Ibu Indah mengambil inisiatif untuk secara pribadi mengajari Karin sendiri saja di rumah.  Membesarkan hatinya. Tidak penting teman, kalau tidak bisa membangun mental Karin dan membuatnya tumbuh dengan kepercayaan bahwa dia manusia aneh. Atau lebih buruknya, manusia pembohong.

Sejak kecil... Karin sering melihat hal yang tidak di lihat orang lain. Bukan hantu.. Bukan juga hal-hal yang bisa membuat orang takut atau tunggang langgang. Mungkin sebatas orang berjalan, orang yang sedang bekerja, anjing menggonggong, cicak, atau hal kecil seperti tetesan air. Karin sering melihat bayang-bayang seperti itu. Ia cukup mampu membedakan mana yang nyata mana yang tidak. Namun tetap saja saat ia kecil, sulit tidak menyebutkan hal-hal itu pada orang-orang di sekitarnya. Mereka semua, hampir semua.. Menyebut Karin memiliki gangguan jiwa.

Tidak dengan Ibu Indah.. Ia bilang Karin spesial. Banyak orang yang yang tidak spesial iri padanya. Maka Ibu Indah meminta karin tidak menceritakan dengan siapapun, nanti mereka iri dan mengatakan hal yang dapat menyakiti hatinya. Beranjak dewasa... Karin mengerti Ibu Indah hanya membesarkan hatinya. Apapun itu, kini Karin menerima pandangannya sebagai abugerah. Walau ia masih belum mengerti. Apa sebenarnya yang ia lihat selama ini.

Karin berjalan menyusuri satu persatu ruangan rumah baru mereka yang super besar. Ada ruang kamar yang jauh lebih luas dari kamar-kamar di rumah sebelumnya. Ibu Indah mengambil langkah tepat saat ia menjual rumah lamanya di pemukiman tengah kota yang padat. Kini ia membeli rumah luas ini sebagai gantinya. Walau agak di pinggir kota,  namun dengan adanya stasiun kereta cepat di dekat daerah itu. Jarak bukan masalah.

Ada salah satu ruangan yang terdengar agak ribut. Ada suara-suara aneh seperti siaran radio yang tidak terlalu jelas. Karin tau pastilah itu hanya suara bayangan yang biasa di lihatnya. Tapi tetap saja ia penasaran. Kemudian ia membuka pintu ruangan itu. Kosong.

Belum ada perabot di ruangan ini. Tandanya belum di tentukan apa fungsinya nanti. Karin melangkah masuk dan berkeliling. Jemarinya menyentuh tembok halus.. Berjalan menyapu keliling ruangan. Sreeeeeeek pintu ruang tiba-tiba terbuka.

Ternyata bukan pintu ruangan itu. Suara itu berasal dari bayangan. Sesuatu yg tidak nyata... Seorang anak lelaki memasukkan kepalanya kedalam dan melongok memandang seisi ruangan. Ia tak melihat karin, tapi karin melihatnya.

Kemudian anak itu membuka pintu seutuhnya... Masuk ke dalam ruangan setelah sedikit mengibaskan sandalnya, membuang bekas tanah becek.
"hey,  liat sini masih ada ruangan yang bersih". Seru anak tersebut.
Dua anak lain berebut masuk ruangan itu.  Laki-laki dan perempuan. Dilihat dari postur tubuh mereka, seumuran. Namun lelaki yang baru masuk memiliki postur tubuh sedikit lebih besar,  dan kekar.
"wuiiiiih bisa jadi markas baru kita ini" seru anak lelaki yang lain.
"ga ah.. Jauh banget dari rumah" anak perempuan ikut menyaut.
"elleh macam anak cewek aja kau" balas anak lelaki kekar itu lagi.
Anak perempuan itu mengambil ancang-ancang menendang dan buk..  Kena tepat di pantatnya.
"sialan kau daus busuk". Seru anak perempuan itu. Sambil berdiri tegak setelah melayangkan tendangan telak. Kemudian mereka bertiga tertawa.

Karin berdiri saja di tengah ruangan.  Mengamati,  mendengarkan.. Tidak ada yg tau keributan ini. Tidak ada yang merasakannya. Hanya karin sendiri. Tidak bahkan ketiga anak yg sedang asyik bermain. Karin tidak tau apakah mereka nyata atau tidak. Tapi karin melihatnya. Cukup nyata baginya. Bosan. Karin melangkah keluar ruangan.  Saatnya makan siang.

Menjelang malam,  sebenarnya Karin ingin beranjak ke halaman depan menikmati desira angin sambil membaca sebuah buku. Halaman mereka cukup luas. Ada taman, dan bangku ayunan. Pasti asyik jika menghabiskan waktu hingga mentari terbenam. Namun suara-suara di ruangan tadi kembali mengganggunya. Apa lagi yang kali ini tiga anak itu lakukan.

Penasaran,  karin kembali kesana. Mulai membuka pintu dan memasuki ruangan. Kenapa suasananya agak seram kali ini. 3 anak itu,  seperti sedang melakukan ritual. Ada benda seperti jelangkung di tangan mereka. Astaga.. Karin melotot, itu memang jelangkung. Ada kertas putih lebar di letakkan di bawah.. Bertuliskan abjad dari A hingga Z. Pastilah itu media komunikasinya. Apa yang akan di lakukan anak-anak ini.

Karin agak panik,  apakah penglihatannya kali ini akan menjurus ke sesuatu yang horror? Ia mencoba tenang dan mengambil nafas dalam-dalam. Kembali mengamati.

Tidak.. Tidak ada hal-hal horror terjadi sudah berkali-kali tiga anak ini membacakan mantra dan mereka tidak mendapati jelangkungnya bergerak sendiri atau semacamnya. Karin menghembuskan nafas lega. Dasar anak-anak.

Ada yg spesial dari penglihatannya kali ini. Kenapa berlangsung lama sekali. Biasanya hanya berselang puluhan detik, kemudian bayang-bayang itu akan menghilanh dengan sendirinya. Namun kali ini,  sudah 5 menit lebih dan ia masih melihat ketiga bocah itu dengan jelas.

Karin ingin mencoba sesuatu. Ia mendekat dan duduk bersanding dengan mereka bertiga. Ia mencoba menyentuh salah satu dari mereka. Tapi gagal. Tembus saja. Seperti dugaannya. Kemudian Ia mencoba jalan mondar mandir menembus badan anak-anak itu. Tidak ada perbedaan. Namun kemudian...

"awww" seru karin,  kakinya seperti menyandung sesuatu. Secara bersamaan,  ketiga anak itu melotot memandang satu sama lain. Jelangkung mereka bergerak senriri. Karin pun bingung. Apakah mungkin... Kemudian karin mencoba duduk diantara ketiga bocah itu. Perlahan... Ia dekatkan jemarinya ke batang kayu yang menjadi badan jelangkung itu. Berhasil. Karin berhasil. Memegang jelangkungnya.  Ia tak mampu menyentuh ketiga anak itu, namun ia berhasil memegang jelangkungnya. Untuk pertama kalinya. Karin berhasil beringgungan dengan dunia yang dulu dianggapnya tidak nyata.  Umtuk pertama kalinya. Karin merasakan apa yang ia lihat,  bukan bayangan semata.

Bersambung...
Share:
Powered by Blogger.

Contributors

Blog Archive