Stories and Sh*t

Monday, November 6, 2017

Mengintip di balik jendela. (rama eps.  3)

Dan begitulah bagaimana aku mengenal karin. Sebuah pertemuan tanpa rupa,  tanpa suara, hanya dengan media bernama jelangkung.. Entah, apakah jelangkung ini benar bertuah. Apakah memang takdir yang membawa pertemuan itu. Pertemuan yang membawaku pada malam ini. 

Aku kembali tersadar..  Kali ini oleh suara anjing yang melolong merdu.  Mataku menatap kosong ke arah kejauhan. Menembus jendela kaca dan rerimbunan.  Mencari sepotong kerinduan yang teredam ruang dan waktu. 3 tahun. 3 tahun penuh kuhabiskan dengan mengisi hari-hari bersama karin. Bercakap tentang duniaku, dan tentang dunianya.  Bercengkerama hampir setiap sore. Lewat sebuah tongkat kayu tua.

Pertemuan pertama itu. 10 tahun lalu... 


Daus dan Nadira sudah lari tunggang langgang. Mereka bahkan tidak memperhatikan aku yang masih tertegun disini. Malaikat pasti tengah menggenggam tanganku, kenapa aku bisa seberani ini. Rasa penasaran mengalahkan bulu kudukku. Aku lupa takut. Untungnya,  atau sialnya aku kembali menggenggam batang jelangkung itu. Kemudian.. Kami memulai percakapan pertama. "hai" katanya. 

Aku melotot. Sebenarnya tangan dan kakiku sudah gemetar.. Keringatku pun sudah mengucur deras bak mandi di tengah curahan matahari. Walau hari dingin,  dan semerbak bau bangunan tua menghiasi semua indraku. Menakutkan.. Lagi-lagi entah mengapa,  tanganku lancar saja kembali menggenggam tingkat jelangkung itu. Menggerakkanya. "apakah kau hantu penunggu bangunan ini" kira-kira begitu pertanyaanku waktu itu. Dan Karin menjawab "ya aku penunggu tempat ini. Tapi aku bukan hantu". 

Alisku naik sebelah. Rasa takut itupun kini perlahan memudar. Benarkah dia bukan hantu? Lalu apa. Kenapa wujudnya tidak terlihat. Kenapa suaranya tak terdengar. Kenapa aku pusing sekali memikirkan ini sendiri. Tanyakan saja langsung. Aku kembali menggenggam tongkat kayu itu. 
"l-a-l-u k-a-u i-n-i a-p-a" 
Jawaban Karin selanjutnya lepas membuat rasa takutku hilang. Dan sedikit tertawa membayangkan hal-hal yang sering di bayangkan anak-anak seusiaku. 
"a-k-u p-e-r-e-m-p-u-a-n c-a-n-t-i-k d-a-n m-a-s-i-h l-a-j-a-n-g. J-a-d-i J-a-n-g-a-n t-a-k-u-t. " hahahah itulah katanya. Dan itu menjadi kalimat terakhirnya malam itu. 

Jelangkung itu terjatuh begitu saja. Seperti sudah tak ada lagj yg menahannya. Aku memperhatikan sekeliling. Senja sudah terlewati dan hari mulai gelap. Makin gelap karna aku berada di sebuah ruang kosong sebuah bangunan tua tanpa listrik. Rasa takut yg tadi sempat hilang melejit lagi sampai ke ubun-ubun. Hilang sudah malaikat yg menggenggam tanganku. Sepersekian detik selanjutnya menjadi atraksi lari tercepat sepanjang hidupku. 

Sementara semesta berganti ruang... 

Karin terkejut. Bayangan anak itu tiba-tiba memudar. Suasana ruangan itu berubah seperti semula. Kosong, remang oleh lampu yeng terlalu kecil untung ukuran ruangannya. Namun tidak dengan hati Karin.  Hatinya, saat ini begitu berbinar. Jantungnya berdegup menggambarkan kesenangan. Apakah... Anak itu benar-benar hidup? Siapa namanya? Dimana ia berada? Apakah ia berada di tempat lain? Apakah selama ini bayangan itu menunjukkan orang-orang yang berada di tempat lain? Planet lain? Ah.. Terlampau banyak pertanyaan yang ingin di tanyakannya saat ini. Dan Ia hanya bisa tersenyum membayangkan. 

Esok hari datang.. 
Selepas sarapan, anak-anak lain bergegas ke sekolah. panti kembali sepi meninggalkan Karin dan Bu Indah yang sibuk membersihkan piring dan peralatan makan lain. Biasanya,  Karin akan melanjutkan belajar dengan Ibu Indah. Pelajaran yang diajarkan di sekolah. Namun bulan depan usianya sudah mengjnjak 17. Dan Ibu Indah hanya mantan guru fisika tingakat menengah atas. Bisa di bilang, sudah tidak ada lagi yang bisa di ajarkan. 

Karin duduk di sofa ruang tengah. Sofa baru. Empuk sekali. Sangat berbeda dengan rumah lama mereka. Karin duduk di ujung sofa dan merebahkan kepalanya pada sandaran lengan sofa tersebut. Beberapa menit kemudian,  Ibu indah menyusul duduk di sebelahnya. Memandangnya penuh kasih sayang. Begitulah Ibu Indah selama ini. Penuh kasih sayang. 
"buku yang kemarin sudah selesai di baca" Kata Ibu Indah sambil mengusap rambut karin. 

"belum" jawab karin singkat sambil menatap balik. Tatapannya sedikit manja. 
Ibu indah sedikit mengkerut.. Tidak biasanya karin menyelesaikan sebuah buku lebih dari 3 hari. 

"kau memikirkan sesuatu? " Tanya ibu indah lagi. Kemudian karin menatapnya dengan mimik yang tidak jelas. Haruskah ia beritahu? Tapi karin masih belum yakin dengan apa yang terjadi kemarin. Terasa begitu nyata memang, namun begitu singkat pula. Maka ia hanya menggeleng. Dan satu jam berikutnya mereka habiskan dengan mendengar cerita dari ibu indah. Cerita tentang hidup, tentang masa depan. Atau cerita fiksi menarik yang punya pesan baik. Ibu indah gemar bercerita pada anak-anak panti. Tentu saja terutama pada karin. Ia menghabiskan waktu paling banyak dengan karin di bandingkan anak-anak lain. 

Setahun setelahnya... Atau 9 tahun lalu. 
Jendela itu selalu terbuka. Tempat di mana aku dan Karin saling mengintip, menerka nasib. Berbagi kisah. Jendela itu tak memberi waktu lebih,  setiap hari hanya menjadi percakapan singkat. Namun itu saja cukup. Perlahan tapi pasti, kami saling mengetahui. Kami saling mengenal.

Setahun kembali berlalu cepat.
8 Tahun lalu. Saat dimana kami mulai frustasi. Sedikit banyak kami telah mengetahui cara kerja jelangkung tua ini. Beberapa peraturannya juga sudah aku tuliskan di buku catatanku,  kira-kira seperti ini:
-Kami bisa terhubung hanya saat pergantian hari. Entah itu subuh atau senja. 
-Karin bisa melihat dan mendengarku,  jadi aku tak perlu menggunakan jelangkung, aku bisa berkata langsung. Itu jauh lebih cepat. 
-Media jelangkung itu harus ada,  hanya benda itu yg dapat karin sentuh dari dunianya. Tapi bentuknya tak harus jelangkung. Sebenernya kepala batok itu sudah lama aku hilangkan. Kini tinggal tongkat kayu saja. Tanpa kepala. 
-Aku tak bisa memberitahu orang lain. Daus dan nadira pun masih menganggap kejadian hari itu sebagai kejadian mistis. Hantu, Jin dan sebagainya. Bukan karena aku tak memberitahu mereka tentang karin, hanya saja setiap kali. Mereka datang bersamaku. Maka karin akan kehilangan kemampuan untuk memegang jelangkungnya. Praktis hanya karin yang melihatku, dan aku tak bisa bercakap dengannya. 
-terakhir dan paling menyakitkan, kami tak bisa mencari tahu keberadaan satu sama lain. Sudah berkali-kali kami coba.. Nama kota, alamat tinggal, no hape, alamat sekolah,  nama pulau dan lain-lain. Setiap kali salah satu di antara kami memulai percakapan dengan niatan ingin mencari tahu keberadaan masing-masing,  maka koneksi itu terputus. Dan kami akan kehilangan waktu berharga hari itu. 

Setahun kembali berlalu dengan cerita-cerita singkat. 7 tahun lalu.. Saat aku baru saja tamat sekolah menengah atas. Usiaku terbilang 17, usia karin 20. Tinggiku sudah lumayan, kata karin kini aku lebih tinggi darinya. Walau aku tak bisa memastikan. 

Sore itu.. Cerah sekali. Sore dimana aku tak ikut berkeliling​ kota bersama teman-teman. Aku tak suka coret-coret baju. Aku juga tak suka kebut-kebutan dengan sepeda motor.  Hari itu adalah hari dimana aku akan menjadi dewasa. Hari dimana aku akan mengungkapkan perasaanku. Tak peduli seberapa bodoh sebenarnya yang ku lakukan. Menyukai seseorang yang bahkan tak dapat ku llihat. Hari itu... Aku benar-benar tak peduli. 

Senja... Mentari mulai tenggelam di balik rerimbunan gedung kota. Aku masuk kedalam ruangan sakral kami dan menyaksikan tongkat kayu itu sudah berdiri tegak. Aku duduk di dekatnya dengan senyuman. Jika dapat melihatnya.. Aku yakin kami sedang bersanding saat ini. 

"halo cantik,  apa kabarmu hari ini?" aku memulai percakapan dengan menggodanya. Satu tanganku membuka resleting tas dan mencoba mengambil sesuatu di dalamnya. Bunga melati putih yang cantik. 

"anak kecil jangan suka menggoda kakak ya" balasnya menggunakan ejaan kayu tua dan abjad pada alas kertas putih itu. Selalu saja menganggap aku anak kecil. 

"aku sudah 17 tahun. Juga sudah tamat sma terhitung hari ini. Jangan anggap aku anak kecil lagi." seruku sedikit cemberut sembari mngeluarkan setangkai bunga melati. "Karin..  entah apa yang ada di fikiranku saat ini. Tapi aku tau aku bahagia. Entah sampai kapan kita bisa saling berbagi.  Tapi aku tau aku bahagia. Karin..  Terpaut ruang yang memisahkan kita. Biarkan perasaanku lepas menembus semesta. Aku mencintaimu. Dan aku tau kau tau.. Aku tau kau merasakannya. Langit yang membuka jendela ini. Bukan kita. Langit yang mebiarkan kita saling mengintip. Bukan kita. Langit pula yang menginginkan kisah ini. Bukan kita. Kali ini.. Sungguh kali ini saja aku ingin ambil andil. Aku ingin menentukan akhirnya. Aku ingin kita berakhir bahagia. Karin.. Mari saling menemukan. Mari saling jatuh cinta dan bergandeng tangan. Jika memang kuhabiskan waktuku menyusuri isi bumi untuk menemukanmu akan ku lakukan. Aku hanya ingin tau satu hal... Maukah kau menungguku?" ucapku sungguh-sungguh.

Namun Karin hanya diam. Tongkat itu berdiri saja di sana. Suasana menjadi amat sepi, tak ada suara bahkan desiran angin sekalipun. Aku masih menunggu. Aku tau karin masih berada disini. Dingin malam yang mulai menjalarpun tak ku perhatikan. Kemudian degup jantungku perlahan melambat.. Tubuhku menjadi amat tenang dan stabil.

Kemudian bintik-bintik cahaya itu muncul.. Mataku tak sempat memperhatikan bagian lain. Bintik-bintik cahaya itu bergumpal menjadi satu.. Membentuk suatu gambaran tepat di badapanku. Suara isak tangis mulai terdengar. Samar-samar... Lalu menjadi jelas. Pun cahaya itu sudah membentuk gambaran jelas di hadapanku. 

Seorang wanita, rambutnya panjang, matanya agak sipit,  bibirnya mungil, hidungnya tidak terlalu mancung.. Cantik sekai. Kami duduk berhadapan salinh bersila. Ia menatapku lamat-lamat... Menangis terisak. 

Perlahan dia mendekat. Menunduk membenamkan wajahnya ke dadaku. Ia menangis tampa suara. Namun air matanya deras sekali. Tangannya mencengkeram kuat tongkat kayu tua. Untuk beberapa saat aku meyakini ini takdir. Bersyukur akhirnya perasaan ini tersampaikan. Dia benar-benar terasa nyata.  Aku bisa melihatnya. Dia bisa melihatku. Mungkin suatu saat. Dunia kami akan benar-benar terhubung. Namun kemudian karin berkata.. Benar-benar berkata lewat mulutnya. 

"Rama... Aku akan menikah. "

Dan bayangan itu hilang. Meningglkan Kegelapan, gedung tua, dan aku yang mematung meratapi kekosongan. 

Bersambung... 
Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.

Blog Archive