Stories and Sh*t

Thursday, November 23, 2017

Namanya adalah... (2)


CHAPTER 2. PERPUSTAKAAN

Ini kisah tentang gadis remaja itu. Mari kita kembali pada saat pertama aku mengenalnya. 

4 tahun lalu. Saat aku baru pertama kali benar-benar mendapat pekerjaan sebagai seorang guru dan di panggil "Pak". Sebelumnya aku hanya mengajar di beberapa bimbel dan private. Kelas kecil. Itu pun sangat jarang mengajar murid SMA, beberapa SD dan sebagian besar murid SMP. Aku guru matematika. Walaupun jujur, aku tidak begitu menyukainya. Aku lebih menyukai membaca dan menulis. 

Itulah yang menjadi masalah. Mengatasi anak SMA tidak semudah kelihatannya. Singkatnya, hari itu adalah hari yang buruk. Aku memutuskan mengurung diri di perpustakaan saat jam pulang sekolah. Membaca novel-novel yang mampu mengalihkan perhatianku. Dan tanpa aku sadari, sore hari datang. 

Di sanalah, sesaat sebelum memulai langkahku untuk keluar perpustakaan. Aku melihat gadis remaja itu. Bunga yang baru akan mekar. Ia duduk di pojok ruangan menghadap jendela keluar. Melihat ke arah lapangan basket. Banyak anak-anak sedang latihan ekstrakulikuler bermain bola basket. 

Wajahnya merekah merah ke kuningan di terpa sinar mentari sore. Matanya mungkin mengarah ke luar.. Tapi aku tau pikirannya jauh. Gadis belia itu seolah jauh lebih dewasa dari usia seharusnya. Aku pun agaknya jadi lebih muda dari kelihatannya. Berdiri tegak di situ memperhatikan seorang gadis. Untungnya, tak ada yg memperhatikanku. 

Aku mendekatkan diri dan berdiri di belakangnya. Ikut memperhatikan ke arah luar jendela. Tak ada yang menarik. 

"watching for your special one?1 " kataku sambil terus menilik jendela saat dia menoleh ke arahku. 

" how about you sir, watching someone special?"2 katanya sambil menatap tajam ke arahku dan menyipitkan mata. 

Aku tersenyum dan menolehkan wajahku padanya pula." No. I'm just watching you."3 kupikir itu akan membuat dia merasa malu2 ala remaja tanggung. 

Tapi kemudian ia hanya berpaling lagi, menoleh ke arah luar. "i'm just watching you too… sir."4 jawabnya santai. 

Aku mengangkat alis sebelah kiri dan mengerutkan kening. Heran. Kemudian dia menunjuk ke arah jendela. "see"5 katanya. Aku masih tidak mengerti. 

"walaupun samar. Aku masih bisa melihat pantulan bayanganmu dari kaca itu" katanya masih sambil menunjuk kaca jendela. Oww aku mengerti. Memang masih terlihat samar bayangan kami di sana. 

"aku melihatmu sejak tadi. Stress karena kelas pertamamu" katanya sambil menoleh lagi menatapku dengan senyum kemenangan. 

"aaaaahhh" kataku sambil menepak dahi kemudian tertawa ringan. 

She got me.6 

Bersambung...

Share:

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.

Blog Archive