Stories and Sh*t

Wednesday, November 8, 2017

Rama eps. 4

Karin terbangun dari tidurnya. Hari masih gelap. Mungkin terbilang subuh. Sinar mentari belum terlihat di ufuk timur. Namun matanya sudah selesai beristirahat. Ia perhatikan sekeliling kamar. Sepi.. Sepertinya anak-anak belum ada yang bangun.

Sejak karin menginjak usia  17 tahun lalu,  ia sudah mendapatkan kamar sendiri. Karin pun sudah seperti asisten ibu panti. Sudah tidak ada lagi anak-anak seusianya di panti tersebut. Entah mereka di adopsi,  atau pergi bekerja dan tinggal terpisah secara mandiri.

Karin membuka selimut dan mulai melangkah keluar kamar. Menyusuri lorong terus menuju dapur. Bahkan ibu indah pun belum bangun. Ia tidak terlalu memperhatikan waktu. Mungkin masih pukul 3 atau 4 dini hari waktu itu.



Hatinya seperti berdegup kencang. Ingin sekali pergi menuju ruang dimana Ia dan rama biasa menghabiskan waktu bersama setiap sore hari. Bercakap hal2 tidak penting. Dan entah apa yang menggerakkannya, karin benar-benar memasuki ruangan yang masih kosong itu. Gelap. Dan kosong.

Karin berjalan menuju bagian tengah. Tempat dimana ia dan rama biasanya duduk bersanding. Sampai saat ini, biasanya mereka hanya bercakap di waktu senja. Cuma waktu itu yang bisa membuat mereka terhubung. Tentu saja, mereka belum mencoba saat subuh. Tempat ini cukup jauh dari rumah rama. Mana mungkin ia kesini subuh buta. Namun hari itu sebuah pengecualian...

Bayangan jelangkung itu perlahan terlihat. Kepalanya lepas. Batok kelapa itu telah pecah. Rumbay-rumbay hiasannya juga sudah hilang compang camping. Tinggalah jelangkung itu seperti seonggok kayu tua biasa. Tak lama setelah itu. Bayangan rama pun terlihat. Pun suara isaknya juga terdengar walau agak samar.

Rama terduduk melipat kakinya. Lengannya melingkar memeluk betis dan kepalanya menunduk menghadap lutut. Ia menangis. Tersedu-sedu. Karin merasa bingung harus bagaimana. Belum pernah rama datang di saat seperti ini. Apalagi sambil menangis.  Karin mencoba meraih tongkat kayu itu.. Dan membuatnya berdiri.

Rama sedikit melirik. Ia sadar akan kehadiran karin. Kemudian menjulurkan tangan ikut serta memegang tongkat tua jelangkung. Sambil ter isak sekali dua kali. Ia berkata. "jangan katakan apapun. Aku ingin kau mendengarkanku saja."

Kemudian rama menengadahkan wajahnya seolah menahan air mata untuk keluar. Menarik nafas panjang.. Dan menunduk lagi. Mulai bercerita.

"Aku tinggal bersama Ayahku. Sejak kecil memang selalu begitu. Dulu,  dulu sekali saat aku masih kecil. Ibu meninggalkan kami. Karna ayah terlalu miskin dan bodoh. Katanya. Kemudian... ia menikah dan berkeluarga bersama orang lain. Memulai hidup bahagianya yang baru. Menyisakan aku dan ayah sampai saat ini yang masih berjuang memperbaiki nasib dengan jalan yang lurus.

"Aku benci sekali... Benci sekali saat suatu waktu ibu berkunjung dan memberikan setangkai melati untukku. Ia bilang kasihnya tak akan pudar untukku. Ia bilang aku harus belajar yang rajin agar tidak seperti ayah. Ia bilang aku harus hidup sehat dan bahagia. Tapi dialah sumber kerusakan kebahagiaan itu. Kalau memang Ia ingin aku bahagia. Harusnya dia tidak pergi. Bagaimana bisa... Bagaimana bisa ia tega meninggalkanku. Aku masih sangat kecil dan tidak mengerti. Ia tidak mengajariku bicara,  tidak menuntunku berjalan, tidak menyuapi aku saat lapar. Tapi kenapa... Kenapa ia terus datang mengunjungiku setiap bulan. Menasehati aku agar apa. Harusnya ia pergi saja. Tak usah kembali.

"Sekalipun aku tak pernah memeluknya.. Atau sekedar menatap matanya. Atau menggunakan uang yang ia berikan padaku. Tak pernah. Ayah saja cukup. Ayah adalah satu-satunya orang tuaku. Kami hidup cukup walau sederhana. Alu tak butuh uang jajan lebih. Aku tak butuh kasih sayang lebih.

"malam tadi. Ayah membangunkanku. Ia bilang Ibu sudah tiada. Ibu sudah meninggal kemarin sore dan malam ini sudah di kuburkan di kota tempat tinggalnya. Aku harusnya tak terkejut lagi. Sudah 2 minggu lebih ibu dirawat di rumah sakit. Ayah sering mengakakku menjenguk tapi apa daya.. Aku tak sudih.

"aku baik-baik saja. Harusnya aku baik-baik saja. Tapi ayah.... (rama mulai terisak lagi. Dua tiga tarikan nafas untuk satu kata. Kemudian ia menarik nafas panjang lagi. Mencoba menstabilkan suaranya) tapi ayah bilang malam tadi... Ayah meminta maaf karna tidak pernah memberitahuku selama ini. Ia bilang ibu yang minta. Ia bilang ibu tak ingin aku membenci ayah dan nasib buruknya. Bahwa... (rama kembali tersedu sedan. Ia. Membuang nafas panjang... Menariknya dalam.. Lalu di hembuskan lagi sampai habis)

"bahwa ibu selama ini memang telah sakit keras. Sejak mengandung dan melahirkanku penyakitnya makin parah. Ia harus segera mendapatkan pengobatan. Terapi. Tapi ayah.. Ayah tak mampu membayar biaya pengobatan. Saat itu,  aku masih sangat kecil. Dan keluarga kami di terpa dilema. Ayahku tak mampu mengobati ibu. Tapi tanpa berobat,  ibu akan terus sakit-sakitan. Hidup bersama ibu dan aku yang masih bayi merah. Sama saja hidup dengan dua anak balita. Ayah tak akan mampu membagi waktu untuk bekerja, dan waktu untuk mengurus kami berdua. Ditambah jika lama berdiam diri saja, umur ibu pasti akan makin singkat. Mereka harus segera membuat keputusan.

"maka tak lama setelah itu. Ayah merelakan melepas ibu. Ibu pulang pada orang tuanya. Dan di carikan jodoh lelaki lain.. Yang lebih mampu. Yang bisa membawa Ibu berobat. Aku.. Aku tak pernah tau bagian ini. Aku kira... Aku kira ibu hanya ingin mencari lelaki kaya. Aku kira... Ibu meninggalkan kami karena ayah miskin. Aku kira... Ibu menyianyiakanku.

"seberapa sakitnya hati ibu.. Saat ia datang berkunjung dan melihatku yang bahkan tidak melihat balik. Seberapa ingin ibu memelukku. Seberapa besar kerinduan ibu padaku sebenarnya. Karin... Seberapa besar?" kali ini rama tak kuasa menahan tangisnya. Ia benar-benar tersedu terisak, suaranya lantang melepaskan semua kesakitan di dada. Sesak sekali dada itu. Benar-benar pilu perasaannya pagi ini. Membayangkan wajah ibunya tiap kali sesudah berkunjung. Tidak mendapatkan apa yang ia harapkan. Pelukan hangatnya.

"harusnya... Harusnya ku cium tangan ibu. Harusnya.. Aku memijit pundaknya, atau kakinya. Ia pasti lelah. Haruanya aku memeluk ibu erat-erat. Harusnya aku bilang aku sayang padanya.

"walau jarang bertemu. Walau ibu tak mengajariku bicara, tak mengajariku berjalan, tak menyuapiku makan... Aku tau, aku tau ibu mencintaiku. Setiap kali ia datang dan menginjakkan kaki di rumah.. Walau hanya sebatas kata-kata.. Walau tanpa pelukan, tanpa usapan di kepala... sebenarnya aku bisa merasakan kasih sayangnya. Aku tau ia menyayangiku.. Tapi aku memilih tak perduli. Aku terlalu acuh. Harusnya aku tidak begitu. Karin.... Aku terlalu bodoh...

"Kini Ibu sudah tiada. Bagaimana lagi aku bilang padanya... Bahwa aku juga cinta.. Bahwa aku juga rindu.. Bahwa semua yang ibu lakukan tidak sia-sia. Karin... Bagaimana ini.." rama benar-benar menagi seperti anak kecil. Ingusnya sudah meluber keman-mana. Jangan tanya air matanya.

Karin? Pun karin menangis tak kalah seru. Sudah gemetaran ia menggenggam tongkat tua itu. Sudah basah baju tidurnya oleh air mata. Matanya sembab dua kali lipat setelah bangun tidur, menangis pula. Karin belum pernah merasakan kehilangan, namun perasaan rama ini tersampaikan padanya. Dadanya ikut sesak. Nafasnya tersengal. Ia pula merasakan rindu yang mendalam.

Karin tersadar setelah beberapa saat. Apa yang harus ia lakukan untuk membuat rama agak baikan. Bukannya membuat rama terhibur dia malah ikut bersedih. Tidak.. Ia tidak mungkin mengeja abjad. Rama tak akan sempat memperhatikan pergerakkan jelangkung itu.

Kemudian karin terpikirkan suatu hal dan ingin mencobanya. Ia memang tak dapat memeluk rama, namun mereka berdua bisa menyentuh jelangkung itu. Perlahan.. Karin mengangkat jelangkung itu,  pelan-pelan membawanya ke bagian punggung rama. Menempelkannya dan memluk jelangkung itu. Tangannya di lingkarkan seperti memeluk tubuh rama. Kini karin seperti memeluk rama dari belakang.. Memang tak terasa dan hanya tembus saja,  tapi mereka bisa sama-sama merasakan jelangkung itu.

Hal itu terjadi cukup lama. Untuk beberapa saat. Walau rama tak melihatnya dan terus terisak. Karin berharap. Karin sungguh berharap pagi itu... Perasaannya yang hangat tersampaikan. Bahwa seberapapun jarak ruang dan waktu yang ada tak mampu menghalangi perasaan seseorang. Begitu pula perasaan rama pada Ibunya. Seberapa jauh Ibunya sekarang. Semoga rama sadar.. Perasaan sayangnya pasti akan tersampaikan pula.

Pagi itu. Pintu langit terbuka lebar. Membuat hati-hati bergetar dan terhempas kesana kesini. Terbolak-balik.
Cemas, penyesalan, duka, senang, pilu, malu, iba, cinta, rindu..  Semua jadi satu.
Pagi itu membuat mereka menyadari. Bahwa semesta tak membatasi rasa.

Bersambung...



Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.

Contributors

Blog Archive