Stories and Sh*t

Thursday, November 16, 2017

sebuah jalan panjang (Rama eps. 6)



Begitulah akhirnya… setelah itu, waktu melenggang saja menuju esok, kemudian lusa, kemudian minggu setelahnya, bulan setelahnya, tahun setelahnya. Higga hari ini, 7 tahun setelah aku terakhir kali melihat wajah cantik itu. Usiaku sudah menginjak 24, tapi rindu itu masih saja terasa.

Aku menjalani hari seperti biasa, memang.. terus kuliah, bekerja. Tapi seperti jasadku saja yang bergerak mengarungi waktu. Jiwaku tertinggal jauh di belakang. Temanku pergi satu per satu, aku menjadi pendiam, pemuda tanpa ekspresi, menyimpan rasa sakit. Hingga puncaknya tahun lalu, saat ayah ikut berpulang. Aku memutuskan pindah.. menjual rumah, sedikit menyingkir ke kabupaten sebelah kota. Membeli ruko, membuka toko kelontong.

Lantai 2 jadi hunianku. Hanya satu ruangan… inilah tempat tidur, tempat makan, bersantai, atau apapun itu. Kecuali buang hajat tentunya. Yang satu itu terpisah. Akhirnya semalam ini habis juga ku ceritakan semua kisah. Mentari mulai mengintip di ujung kaki langit timur, dan mataku sudah tak kuat menahan kantuk. Aku terlelap.


“nak bangun nak… sudah siang. Kau tidak buka toko?”
“ayah, bagaimana bisa ayah di sini”
“hahaha, harusnya ayah yang bertanya begitu, bagaimana bisa kau disini”
“maafkan aku ayah, aku tidak hidup dengan baik”
“kau hidup dengan baik nak… kau bertahan. Ayahlah yang harusnya meminta maaf, ayah tidak mampu bertahan. Meninggalkanmu sendirian”
“ayah… kenapa aku lalai sekali”
“kau masih punya banyak waktu nak. Perbaikilah..”
“tapi aku tidak punya semangat ayah. Lihatlah aku, bagai mayat hidup”
“apa gerangan nak, kau bisa bercerita pada ayah”
“aku pikir, aku telah melihat keajaiban ayah. Begitu besar keajaiban itu. Jika aku ceritakan tak akan ada yang percaya. Keajaiban itu benar-benar terasa nyata, dan terjadi begitu lama. Namun saat telah membuatku senang sampai ke langit, ia menghilang… menghempaskan aku ke bumi, ke dasar terdalam. Aku terpuruk ayah”
“tapi setiap hari adalah keajaiban nak.”
Suara ayah terasa jelas sekali di telingaku, aku pun lancar saja menjawabnya. Namun mataku sudah tak kuat bangun.. semuanya gelap.
“rama.. nak, ingatkah kau dengan anak SMA yang setip hari beli rokok di tokomu. Setip hari dia datang dengan sepeda motor kesayangannya. Ia bahkan memberi nama sepeda motornya, gerandong. Hahah… sangar. Motor itu nak, sudah di modifikasi sekian kali. Kerangkanya di orak-arik, joknya berganti, rodanya, lampunya, kaca spion, semuanya… satu per satu tergantikan bahkan sampai ke mesin-mesinnya. Tapi, apakah motor itu tetap gerandong kesayangan anak itu? Tentu saja iya.
“begitu pula dengan manusia nak… dalam sehari, sudah berapa kali tubuh ini beregenerasi sel. Yang mati tergantikan dengan yang baru, syaraf berganti, kulit berganti, jaringan otak berganti, semuanya. Lalu apa yang membuat kau yakin bahwa kau yang sekarang adalah kau yang kemarin? Apa nak?”

Aku terdiam sejenak. Kemudian dadaku terasa di sentuh… tangan ayah mengusapnya. “ada yang menghubungkan kita nak. Yang menghubungkan kita dengan hari kemarin, pun hari esok. Yang membuat kita tetap menjadi orang yang sama seperti hari kemarin. Itulah keajaiban yang sering kita lupakan. Keajaiban langit terjadi setiap saat, namun memang terkadang kita meminta lebih, seolah langit berhutang keajaiban. Padahal tidak.

“rindu yang kau rasakan, sejatinya hanya sebagian kecil keajaiban. Jadikan itu motivasi, bukan beban. Rindu itu menghubungkan banyak tempat. Menyisir setiap jendela, menyusup di balik semesta. ah ya… bicara soal rindu, ada yang sangat merindukanmu. Lihatlah…”

Aku menoleh ke samping, mataku terbuka. Lihatlah.. ibu berdiri di sana, tersenyum.. membuka lebar tangannya. Membuatku lari berhamburan… memeluknya. Erat.

“maafkan i..”
“tidak bu. Aku menyayangi ibu. Aku sungguh menyayangi ibu. Aku ingin ibu peluk setiap hari… aku ingin makan masakan ibu, aku ingin mencium tangan ibu sebelum ibu pergi. Aku ingin ibu mengusap kepalaku. Aku… aku rindu Ibu…”

Ibu mengusap kepalaku. Aku tenggelam dalam tangis.

“tersenyumlah nak. Karna setiap hari adalah hari baru. Karna setip hari adalah keajaiban.”

Silau mentari membakar telingaku. Aku tidur terduduk di depan jendela. Ku perhatikan sekeliling. Sepi saja. Itu hanya mimpi. Aku tersenyum simpul… Ruangan  masih sama seperti tadi malam saat aku melamun hingga akhirnya tertidur sendiri. Namun ada yang berbeda. Hari ini, mentari bersinar lebih cerah. Aku bersiap. Memanaskan mobil pick up, menuju pasar besar belanja kebutuhan pokok. Memulai hari baru.

Pasar masih terasa sesak walau matahari sudah mulai meninggi. Aku bekerja sendiri pula. Rasa-rasanya sudah seperti kuli sepagi ini. Membeli, menawar, mengangkut, memindahkan mobil, begitu lagi sampai semua keperluan terpenuhi.

Tepat matahari membumbung di atas kepala, aku putuskan untuk beristirahat di sebuah warung pinggir jalan. Selesai sudah prosesi belanja hari ini. aku bersantai sambil makan siang. Sesaat kemudian aku melihat ibu paruh baya melintas di hadapanku, posisi makanku menghadap jalan.. jadi terlihat hilir mudik orang berlalu-lalang.

Ibu itu membawa belanjaan yang cukup banyak. Sendirian.. agak tertatih mengingat usianya yang mungkin sudah di akhir 50-an. Aku bergegas menyudahi makanku, dan kemudian membantu ibu tersebut membawa barang bawaannya ke angkutan umum.

Setahun berlalu, tidak banyak perubahan. Kecuali toko kelontongku yang sudah bertransformasi menjadi lebih besar. Kini toko-toko kecil di sekitar kampung membeli barang dagangan dari toko ku secara grossir, untuk dijual kembali. Kamarku pindah ke lantai 3, lantai 2 ruko sudah di jadikan gudang.

Setahun lagi berlalu, kini toko ku berdiri di mana-mana, aku bahkan membuka 2 mini market di perkotaan. Membeli rumah kecil di dekat toko lama ku berdiri. Aku begitu sibuk. Urusan toko dan uang memang tidak pernah mudah. Tapi aku bisa mengatasinya. Aku juga memperbaiki kehidupan sosialku. Minggu depan, aku punya rencana makan malam di kota. Reuni bersama Nadira dan Daus yang kini telah menikah.

Seminggu berjalan cepat. Aku berpamitan selesai bercakap banyak hal dengan Daus dan Nadira, mereka tampak sehat dan sejahtera. Aku pun ikut bahagia. Tepat saat aku melintas salah satu jalan protokol, aku kembali melihat ibu tua yang dulu pernah aku lihat berbelanja ke pasar. Aku hentikan mobilku dan parkir sembarangan demi membantunya. Tak apa, sudah malam.

Payah sekali kondisinya, membawa banyak barang dan menyebrang jalan dengan sangat lambat. Aku putuskan untuk mengantarnya ke rumah. Tidak jauh rupanya, ibu ini memiliki rumah di tengah kota. Hanya untuk melihat rumah kecil dengan penghuni yang banyak. Ia menawarkan masuk, aku ikut saja, demi keramah-tamahan.

“nak rama pulang ke mana malam-malam begini nak?”
“saya tinggal di kabupaten sebelah bu, sekitar 30 km dari sini”
“loh… apa ga bahaya malam-malam pulang sendirian?”
“ga bu, insyaAllah aman” aku tersenyum sambil meminum secangkir teh yang di hiangkan. “ibu sendiri dari mana malam-malam begini?”
“oh, ibu dari terminal, mengantar anak ibu yang habis berkunjung dari luar kota” beliau menjawab sambil meminum juga teh miliknya.
“hmm bicara sial anak, keluarga ibu ramai sekali. Hahaha”
Ibu itu tersenyum “ini belum separuhnya nak. Total anak ibu yang ada di rumah sekitar 23 orang”
“dua puluh tiga?” aku tersedak.
“iya, dua lahir dari kandungan ibu, yang lain dipertemukan takdir” ibu wijoyo agak tertawa melihat aku tersedak.

Ternyata itu panti asuhan. Ibu tua itu adalah pengurusnya. dulu ia mengurus panti bersama suaminya. Tapi setelah suaminya meninggal ia memutuskan berhenti bekerja dan fokus menjadi ibu untuk puluhan anak-anak kurang beruntung tersebut.

Beberapa menit lagi berbasa basi, lalu aku bersiap pulang. Beliau mengantarku sampai ke pintu gerbang. Rumah panti ini terlihat kecil dan agak kumuh. Mungkin aku bisa memberi sedikit bantuan.
“terimakasih sudah mengantarkan Ibu ya nak..”
“iya bu, sama-sama. Terimakasih juga tehnya. Oh ya, kalau boleh tau nama pantinya apa ya?”
“rumah bahagia keluarga Wijoyo” ibu Wijoyo tersenyum seperti menanti pertanyaan baru.
“ibu… ibu Wijoyo?”
“ya. Ada apa nak Rama?”
“ah.. tidak apa-apa.” Aku bergegas masuk ke mobil dan pulang. Sudah terlalu malam.

Hari berganti. Sepagi ini aku mencuci mobil sambil melamun. Pikiranku agaknya mengenali nama tempat itu.. rumah bahagia keluarga Wijoyo. Karin… Karin pernah bercerita tentang Ibunya, yang sepertinya memiliki karakter seperti bu Wijoyo. Namun namanya berbeda, dan jika memang benar, seharusnya bu Wijoyo sudah berusia setidaknya 70 tahun. Namun aku yakin bu wijoyo yang ku temui semalam berusia sekitar akhir 50-an, atau awal 60. Ahh.. aku singkirkan jauh-jauh lagi nama Karin. Sebelum itu kembali mengganggu mood-ku.

Seminggu kemudian. Nyatanya masalah hati ini memang susah di taklukkan. Apa salahnya bertanya. Siapa nama dua anak perempuannya. Ia berkata anak sulungnya sudah menikah.. apakah Karin sudah menikah? Apakah Karin si bungsu? Tapi terakhir kali Karin bicara padaku, dia bilang akan menikah. Ahhh… tidak ingin mati penasaran. Aku memacu pedal gas mobilku. Menuju rumah bahagia keluarga Wijoyo.

Lagi-lagi takdir mempermainkanku. Kosong.. rumah itu sudah kosong. Tetanga bilang mereka telah pindah beberapa hari yang lalu. Dan sialnya, tak ada yang mengetahui kemana mereka pindah. Keluar kota? Ke seberang jalan? Semua hal ini akan menghancurkan semangatku jika saja terjadi beberapa tahun yang lalu. Namun tidak hari ini, semua keganjilan ini membuatku semakin yakin. Semakin bersemangat. Karin… aku datang. Apapun takdirnya nanti. Aku igin menemukanmu.

Berkata memang mudah. Tapi pencarianku tak pernah berhasil. Aku tak pernah menemukan panti dengan nama “rumah bahagia keluarga wijoyo” dimanapun. Tidak sekalipun aku mendengar nama itu lagi. Seperti raib di telan bumi. Pencarian lewat internet berlangsung sia-sia. Hanya tersedia alamat dan foto-foto lama.

Setahun…
Dua tahun…
Tiga tahun…

Usiaku hampir 30. Masa-masa berlalu cepat dan aku mungkin sudah melupakannya. Hari-hariku normal seperti biasa, wajahku bertambah tua. Kalau saja Karin memang ada, usianya menginjak 32 sekarang. Kalau ia benar menikah waktu itu.. anaknya mungkin sudah lulus SD. Usahaku mulai mandek di situ-situ saja. Terkadang aku mengunjungi pusara ayah dan juga pusara ibu di luar kota. Aku tak merasa putus asa. Namun entah mengapa semangat itu hilang lagi. Terkadang aku berdiam saja seperti batu. Berpikir  bahwa ada atau tidak ada aku, dunia akan sama. Perlahan… kesehatanku pun menurun drastis.

Entah bagaimana. Hari itu aku sudah tergeletak di rumah sakit. Daus duduk di pojok ruangan, tertidur menungguiku semalaman. Aku perhatikan sekitar ruangan yang lenggang. Selang infus masih tersambung di pergelangan tangan kiri ku. Apakah semalam aku mabuk bersama daus? Entahlah… aku berusaha bangun dari ranjangku, berjalan setapak-setapak menahan sedikit sakit di perutku. Membuka pintu, keluar ruangan.

Hari masih pagi buta, mungkin pukul 5 atau 6 pagi, lorong menuju kamar-kamar pasien masih lenggang. Satu dua ada yang tertidur di kursi atau lantai. Beberapa perawat sudah mondar-mandir. Tapi masih leluasa untukku berjalan. Aku melangkah terus… membawa kaki ini sejauh apa dapat melangkah. Tapi tiba-tiba kakiu terhenti di depan pintu sebuah kamar pasien.

Aku beranikan membuka pintu. Semua orang tertidur… ada enam ranjang di sana. Ranjang yang paling pojok, aku melihat sosok tua itu. Wanita yang lemah tertidur di sana. Ibu wijoyo. Aku melangkah perlahan, menjaga tangan kiriku yang masih tersambung dengan infus yang ku bawa-bawa bersama tiangnya.

Lihatlah… bertahun aku mencarinya. Ia tertidur lemah disini. Perlahan, Ibu wijoyo membuka matanya, dan tersenyum. Seolah mengetahui bahwa aku akan berada di sana.

“nak rama”
“iya bu,” aku mengusap punggung tangannya menahannya untuk tidak bangun.
“duh.. ibu sudah tua sekali ya”
Aku balas dengan tersenyum… tidak, ia masih sama seperti yang aku lihat tiga tahun lalu. “ibu pindah kemana? waktu itu… aku mencari Ibu kemana-mana, tapi tidak ketemu.”
“ibu pindah ke pinggir kota nak… mencari hunian yang lebih layak.”
“pinggir kota?” jika masih di kota ini kenapa aku sulit sekali menemukannya.
“nak Rama percaya pada takdir?” ia bertanya, dan aku hanya menaikkan alisku tanda tak mengerti.
“rumah kami berubah nama nak. Wijoyo itu nama almarhum suami ibu. sekarang pakai nama ibu sendiri.”
Aku memasang wajah pucat pasi. Menebak. Menerka.. sampai akhirnya terucap di mulutku. Aku menangis. Entah mengapa keluar saja air mata ini. seolah mengakhiri kesenduan tiada akhir. Seolah membalas semua waktu yang terbuang selama ini.
“apakah… nama ibu, Ibu Indah?” kataku getir… kini ibu indah yang memasang mimik keheranan. Ia pasti bingung kenapa aku menangis. Tapi dari ekspresi itu aku tau… benar. Dia adalah Ibu indah. Dan Karin baru saja pulang sebentar untuk memasak sarapan di rumah.. mungkin nanti sekitar pukul 7 ia akan kembali ke kamar ini. seingatku… begitu ceritanya.

Selanjutnya, kau tau…

Sore hari menjelang senja. Aku sudah duduk di rumah baru mereka. Rumah bersama keluarga Indah. Yang ternyata adalah bekas pabrik tua yang telah ditinggalkan lama sekali. Tempat aku dulu sering datang dan bermain tongkat kayu tua. Mengintip sedikit kehidupan Karin.

Seorang gadis duduk di depanku. Berseberangan meja ruang tamu. Ia hanya menunduk… sedikit malu. Rambutnya hitam panjang. Tubuhnya tinggi dan usianya tampak masih di awal 20-an. Kemudian wajahnya perlahan melihat ke arahku, bertatap muka. Saling adu mata kami untuk beberapa saat. Wajahnya cantik… kami terdiam beberapa saat. Kemudian aku menangis… cantik sekali. Ia cantik sekali. Hatiku menderu deru… Karin, kau cantik sekali.

Aku berusaha menjurulkan tanganku untuk sekedar memperkenalkan diri secara benar. Mungkin saja ia sudah tidak mengenaliku lagi. Tapi kemudian ia berlari, cepat. Masuk dan menuju ke belang langsung.

Aku terhenyak sesaat. Sedikit sadar sedikit tidak. Aku menyapu rambutku ke belakang… sudah beberapa menit sejak Karin pergi. Aku ikut melangkah masuk. Ibu indah menatapku heran seolah bertanya apa yang terjadi, namun tidak diucapkan karna melihat ekspresiku yang tidak kalah bingungnya.

“dia sedang bersembunyi di ruang rahasianya. Kau boleh ikut menyusul jika mau.. itu lorong belakang lewat dapur.”
“apakah tidak apa-apa?”
“pergilah… ibu tau kau menunggu cukup lama untuk ini.” ibu indah berlalu dengan senyum khasnya. Yang begitu teduh.

Aku sudah berdiri di depan pintu, tempat dimana 15 tahun lalu aku pertma kali merasakan perasaan ini. jantungku berdegup kencang… tapi aku berusaha menenangkan diri. Perlahan, aku membuka pintu.

“rama, aku akan menikah” Karin berkata lirih… namun tak ada siapa siapa disana. Karin pun seolah kebingungan. Wajahnya yang sembab oleh tangis mendongak ke depan. Lalu kepalanya berputar menyisir isi ruangan. Perlahan mengarah padaku. Pandangan kami kembali bertemu. Namun kali ini aku tidak menangis. Aku tersenyum lebar.
“apakah itu berarti kau bersedia?” aku bertanya.
Alih-alih menjawab, Karin langsung berhambur ke arahku. Memeluk erat.
“itu kata-kata yang indah… aku akan menikah, denganmu. Rama…” Karin memelukku makin erat. Kepalanya terbenam di dadaku. Aku mengusap punggungnya perlahan. Memeluknya lembut. Sejujurnya aku pun punya banyak pertanyaan. Tapi itu tidak penting lagi. Aku menemukanmu. Karin.



TAMAT.
Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.

Contributors

Blog Archive