Stories and Sh*t

Sunday, December 30, 2018

Namanya adalah... (4)


CHAPTER 4. NIAT

"Tidak seharipun berlangsung ringan di rumahku. ibuku, entah ia benar ibuku atau bukan... tidak pernah menyiapkan makanan. aku menyiapkan semua kebutuhan rumah. posisiku hampir seperti pembantu. Dengan ayah tiri yang pulang mabuk setiap malam, membuatnya semakin parah. rumah yang tidak terlalu besar ini serasa kuburan saat sore aku pulang sekolah, namun tiba-tiba berubah pasar swalayan saat dini hari menjelang. suara teriakan ayah dan ibuku terdengar sampai ke mana-mana. 

"Entah menyedihkan atau tidak, aku tak perduli apa yang mereka lakukan. selama aku masih bisa melakukan rutinitasku, fuck those two.13 tapi, tidak hingga suatu malam ibuku benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ayah pulang dengan mabuk seperti biasanya, ribut-ribut seperti biasanya, membentak ibu (dan ibu membalas) seperti biasanya. yang tidak biasa, Ibuku mengalah sejenak dan mereka saling terdiam di ruang tamu.. kemuadian ia menangis. Palsu. Tangisan Palsu yang busuk. Anak keledai pun akan tau tangisnya dusta. 

"Aku melangkah ke dapur dan menyiapkan 2 gelas Teh, buat apa? Tentu saja untuk menenangkan mereka, untuk selamanya. Sudah memuncak kegeramanku pada dua orang itu. Aku benar-benar ingin membuat mereka diam, diam untuk selamanya. Hampir saja, hampir saja aku campurkan racun tikus yang cukup untuk 2 gelas teh yang seharusnya mereka minum, namun otakku nampaknya bekerja kembali setelah mendengar jerit ayah yang kembali menggelegar. Ibu minta cerai. Aku batalkan niatku dan kuletakkan kembali bungkusan racun tikus di tangan.

"Keadaan semakin kacau di luar batas. Rumah kami yang cukup terpisah dari tetangga membuat mereka makin leluasa menjerit dan kini, melempar apapun barang yang ada. Kalau begini apa yang bisa kulakukan? Mengintip ruang tengahpun tak mungkin. Aku juga tak mungkin tidur jika begini. Maka aku melangkah mengendap-endap keluar lewat pintu belakang. Melangkah menuju rumah ketua RT yang cukup jauh. mungkin sekitar 10 menit perjalanan.

"Sesampainya di depan pelataran rumah ketua RT, aku disambut 3 orang peronda dan seorang hansip yang sedang main gaple. Salah satu peronda adalah Pak RT sendiri. 
'Loh... dek ****, ngapain malem-malem kesini?' sapa salah seorang dari mereka.
'kenapa, ada maling? kamu di culik?' kata pak RT ikut bertanya.
'tolong pak.' kataku lirih.
'iya, kenapa... duduk dulu sini. ini minum air putih dulu.' sambil menyodorkan sebotol air mineral yang ada di sebelahnya.
'ayah ibu saya pak, bertengkar hebat sekali, saya takut pulang.' kataku sambil menunduk.

"kemudian mereka saling pandang dan menghela nafas masing-masing. Mereka sepertinya ingin menyampaikan sesuatu tapi tidak enak kepadaku. Sesaat setelah itu pak RT inisiatif mulai bicara.
'gini saja, kamu masuk ke rumah dulu ya.' sambil mengajakku masuk ke rumahnya.

"disana aku duduk di ruang tamu sementara ia membangunkan istrinya dan berbicara sebentar. setelah percakapan beberapa menit, pak RT keluar kamar bersama istrinya dan berbicara denganku.
'jadi gini, masalah teja sama rismi ini (orang tuaku) sebenarnya sudah sering di carikan solusi sama bapak dan temen-temen yang lain. tapi bagaimana ya, dulu saat kamu masih tinggal sama ayahmu kami pernah melerai mereka saat bertengkar, malah kami yang kena getahnya. Kami juga ga berani ikut-ikutan terlalu jauh. Kalo menurut bapak, kamu malem ini tidur disini saja ya. besok mungkin mereka sudah balik kaya semula, kan hampir setiap hari begitu toh.. nah itu ibu lagi nyiapin kamar buat kamu. Besok kami antarkan pulang, kalo memang mereka belum beres urusannya, kita panggilin polisi saja buat ngamanin.' katanya sambil tersenyum."

Gadis di hadapanku berhenti bercerita sejenak. lalu menarik nafas panjang...

Aku masih memperhatikan.

"malam itu tidak terlalu panjang, karna aku tidur nyenyak. Namun hari setelahnya jadi panjang dan runyam. karna saat aku kembali kesana bersama pak RT dan seorang hansip, mereka berdua sudah di temukan tidak bernyawa. Kau tau kenapa?" katanya melihat kearahku. Wajahnya masih sedikit lembab.

"racun tikus?" kataku.

Ia tersenyum dan memandang kembali segelas coklat hangat miliknya.

Aku sedikit membuang nafas, dan sepeti orang berfikir dalam (padahal tidak), " aku sudah mendengar kisah tentang orang tuamu, dulu jadi berita ramai di kalangan para guru. tapi itu tidak membuatmu menjadi pembunuh mereka" kataku mantap.

"tapi sebelumnya, tidak ada yang tau aku yang menyiapkan senjata. mereka hanya menarik pelatuknya. salah satu dari mereka." ia meminum coklatnya sebentar. "Coba saja bocorkan cerita ini ke salah satu group chat para guru, lihat apa yang akan mereka katakan." Ia tersenyum tipis.

Bersambung...

Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.

Contributors