Stories and Sh*t

Sunday, December 30, 2018

Namanya adalah... (5)


CHAPTER 5. STEFANI

“Mereka bilang lidah bisa lebih tajam dari pedang, mungkin begitu gambaran jelasnya dalam kasus ini. tapi bukan aku yang menusuk duluan. Kalau dipikir-pikir lagi, dia mungkin pantas mendapatkannya. Ya, dia memang pantas.

“Gadis itu, walau aku ragu dia masih gadis… kau tau apa yang dia katakan saat pertama kali mendengar orang tuaku meninggal? ‘aku iri padamu’ katanya. Dari mulut baunya yang tak tertahankan itu dia mengatakan iri padaku. ‘harusnya orang tuaku cepat mati juga, dengan begitu aku akan segera mewarisi kekayaan mereka’ lanjutnya lagi. Di tengah kelas yang sedang berlangsung. Aku yakin ada orang lain yang mendengar juga.

“kemudian suatu hari, saat aku sedang berdiam diri di toilet sekolah. Aku mendengar ia datang masuk ke ruang bagian luar toilet, tempat dia dan beberapa teman(babu)nya biasa berdandan. Ia mem-bully teman sekelas kami yang lain. Tentang betapa gemuk dan jeleknya dia. Kejadian yang biasanya hanya aku saksikan di televisi, ternyata terjadi di depan mataku. Apa yang aku lakukan? Tidak ada. Aku hanya mendengarkan sampai ia benar-benar selesai dan meninggalkan gadis malang itu menangis sendirian di pojokan toilet busuk. Well… sebenarnya dia tidak sendirian karna ada aku disana, tapi dia tak melihatku jadi… begitulah.” Ia berhenti sambil megusap rambutnya yang sudah agak kering. Baju longgarku yang ia kenakan juga susah tak basah oleh kulitnya lagi.

Aku membantu mengusap rambutnya, menyingkap mengaitkan pada telinga agar tak menghalangi bibirnya yang bergerak-gerak.

“biar aku luruskan dulu, wanita yang kita bicarakan ini, stefani bukan?” kataku bertanya ringan.

“siapa lagi?” katanya sambil mengatupkan mulut dan mengangkat kedua alisnya. Matanya terlihat lebih bulat dan membuatnya tampak makin cantik.

“Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur apapun kejahatan kecilnya itu, selama ia tak menggangguku, akan ku abaikan juga tingkahnya.

“tapi suatu waktu… dia ingin berkencan dengan seorang anak populer dari sekolah lain. Dan entah ada angin apa, dia memaksaku untuk ikut…”

Aku tertawa sejenak.

Dia melihatku heran. Aku menggengam kedua tangannya yang sedang memegang gelas coklat hangat. Dan mengarahkan dia untuk meminumnya.

“ kau sungguh tidak tahu kenapa?” tanyaku.

“tidak tau apa?” tanyanya balik

“tidak tau kenapa dia memaksamu untuk ikut”

Dia menggeleng heran.

“karena kau cantik.”

Mimik wajahnya menunjukkan bahwa ia makin heran. Walaupun sedikit diawali dengan senyum sipu malu.

“teman-teman dari pria itu mungkin bilang, mereka akan membiarkan stefani ikut menjalani apapun itu kegiatan mereka, asalkan mereka mengajakmu.” Sambungku lagi. “Aku bisa membayangkan selanjutnya.”

“apa?” kini gantian dia yang mulai memperhatikanku.

feel free to stop me anytime you think I’m wrong.”14 Kataku sambil sedikit melirik wajahnya.

“setelah ia memaksamu ikut, kau mulai merasa jengkel padanya. Dan aku tak terlalu tertarik bagaimana prosesnya, untuk membalas dendam pada stefani, alih-alih dekat dengan teman-teman lelaki itu… kau malah dekat dengannya langsung. Praktis kau menjadi ibu presiden berandal-berandal itu. Stefani tak bisa macam-macam lagi denganmu karna kau mendapatkan perlindungan dari mereka. Stefani stress berat dan ia bunuh diri tahun lalu.” Aku melihatnya matanya dalam-dalam. Kami saling berpandangan agak lama. Aku mengusap kepalanya lagi dan tersenyum. “tapi itu tetap tidak membuatmu menjadi pembunuh.”

“seminggu sebelum ia bunuh diri… aku memergokinya menangis di pojokan bawah tangga lab bahasa. Saat itu sepi sepulang sekolah. Aku tak tau perempuan sekejam Stefani bisa menangis. Saat dia melihatku, dia tidak terlihat menjengkelkan dan mulai berbicara dengan nada putus asa…
‘tidak bisakah, kau mengasihaniku… kau bisa mendapatkan lelaki manapun, tapi kenapa dia? Aku… aku akan melakukan apapun untukmu, apapun. Tapi setidaknya, walaupun aku tak bisa bersamanya… kau pun jangan bersamanya. Setidaknya tidak di hadapanku’ katanya sambil terisak… lalu ku katakan  ‘apapun? Kau mau melakukan apapun?’ Aku mendekat ke telinganya dan berbisik… ‘kalau begitu mati saja.’ Aku berkata ringan sambil berlalu.

Kemudian aku meninggalkannya untuk mati seminggu kemudian.”

“tetap tidak membuatmu membunuhnya” kataku.

“aku tau.” Katanya. “tapi kali ini…” Ia menoleh kebelakang, ke arah tumpukan baju seragamnya yang warnanya sudah membaur dengan darah.

Bersambung…

Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.