Stories and Sh*t

Sunday, December 30, 2018

Namanya adalah... (6)


CHAPTER 6. BIMA

Bima adalah lelaki idaman Stefani yang membuatnya bunuh diri. Seorang pelajar kelas 12 yang cukup terkenal di kalangan remaja seusianya. Sekaligus anak yang beritanya barusan kutonton, tentang anak hilang yang belum pulang selama tiga hari. Aku cukup mengenalnya karna gadis di hadapanku ini dekat dengannya. Satu yang aku tau, anak itu kaya. Dan dia memiliki masalah serius dengan obat-obatan terlarang.

Gadis belia di depanku berdehem dan memulai ceritanya kembali setelah melihat pakaian sekolahnya yang basah dengan banyak bercak darah.

“Hal itu terjadi sore tadi. Saat aku menyadari tubuhku terikat pada sebuah kursi tua yang masih cukup kuat. Mulutkupun di bungkam dengen kain yang melingkar ke belakang kepalaku. Aku tak bias menjerit. Ruangan itu terasa gelap. Sebaris dua baris sinar jingga cahaya sore masuk ke sela-sela dinding papan yang tidak tertutup dengan rapi. Baunya terasa seperti lahan rawa. Dengan nyaring bunyi jangkrik yang mulai terdengar, seseorang membuka pintu ruangan dan masuk ke dalam.

“Bima. Bukan berarti aku tak menduganya, tapi aku tak tau dia berani berbuat sejauh ini. Selama ini dia berusaha terlihat gentle dan manly kepadaku. Dalam otakku, mungkin senakal apapun anak ini, setidaknya dia masih memiliki harga diri. Tapi aku salah…

“Sudah lama memang, ia mencoba merayuku. Bahkan ingin menjebakku dengan berbagai cara. Karaoke, diskotik, open party… tapi semua itu masih belum bisa mencapai keinginannya. Apalagi, jika bukan kehormatanku. Walau aku sebenarnya tak yakin aku masih memiliki kehormatan”

Kali ini aku diam saja sambil menatapnya penuh keseriusan. Cerita ini memang bukan main-main. Tetap saja, dia terlalu merendahkan dirinya sendiri. She is beautiful and kind. Aku tau, bahwa dia tau itu.

“Bima mendekat dan mulai membelai pipiku dengan tangannya yang kotor. Namun entah setan apa yang merasukiku. Aku menerimanya saja. Aku tau jika aku berusaha menolak atau bahkan berontak, situasinya makin parah. Maka permainan saling rayu untuk menjebak satu sama lain ke dalam perangkappun dimulai. Dan aku rasa, aku mulai lihai dalam hal itu.”

Dia berhenti berkata sambil tertawa sejenak, menunduk kebawah. Entah itu benar terpingkal atau tenggelam dalam kesedihan, aku mendapatkan waktu yang sulit untuk mengartikannya.

“aku diam saja dan menatap Bima dengan berani. Bima pun mulai menatap balik, seperti mencari tau apa yang aku pikirkan. Yang artinya menjadi waktu yang buruk untuknya. Mataku melihat kebawah ke penutup mulutku menandakan dia untuk membukanya. Dan dia melakukannya.
’apa yang kau lakukan mengikatku begini?’ kataku seperti orang yang kesal.
‘aha, ahah, ahahahahahahah…’ Bima tertawa lantang sambil terpingkal memegangi perutnya. ‘menghindari ini dan itu.’ Katanya santai sambil tetap menatap mataku. Akupun melakukan hal yang sama.
“matanya mulai menyipit dan seakan mencari tau lebih dalam apakah aku akan menggorok lehernya jika ia melepaskan ikatan tali pada tubuhku dan tanganku yang terjuntai ke belakang. Tau apa bedebah cilik ini, dalam hatiku berkata.
‘kau tak marah padaku?’ kata Bima lagi sambil terheran-heran.
’aku pernah mendapatkan yang lebih buruk’ kataku sambil membuang nafas. ‘tapi jika kau tak melepaskan aku sekarang aku benar-benar akan marah’ kataku mulai bermain dengan pikirannya.”

“dia melepaskanmu?” potongku.

Gadis mungil ini hanya tersenyum dan mengangkat coklat panasnya dan menghirupnya dengan tarikan panjang. “ ternyata tidak semudah itu.”

“tangannya bergerilya menjelajahi tubuhku.” Ia terdiam menelan ludah. Kami berdiam diri agak lama. Tampaknya dia sedang memilih mana yang harus diceritakannya dan mana yang tidak.

“tapi aku diam saja. Aku yakin menjeritpun tak akan menghasilkan apa-apa.” Lanjutnya.

“sesaat setelah dia mulai menikmati kejahilannya, aku mulai berontak dan sedikit menghentakkan kursi dengan berat tubuhku… ‘entah kau mau melakukannya cukup sekali ini dengan kekerasan, atau melakukannya dengan mudah dan tidak perlu mengakhiri hubungan kita. Kau pilih’ kataku saat itu mencoba berani bernegosiasi.

“Bima ragu dan menatapku sejenak. Aku merasa seperti orang bosan yang memandangnya dengan bodoh. ‘aaaaaaahhhhh… cepat tanganku sudah sakit terikat sejak tadi’ kataku lagi mencoba bicara santai.

“kemudian, Bima benar-benar melepaskannya. Mulai dari ikatan kakiku, aku masih bersabar dan belum melakukan apapun. Tak lama kemudian dia mulai melepaskan ikatan di badan dan tanganku. Lepas sudah semua ikatan, tak selang berapa detik… aku memegang tali tambang bekas ikatan di tanganku dan memeluknya dari belakang.

“Bima bersantai dan lengah… ia kira aku sedang ingin bermesraan dengannya. Padahal tidak lama setelah itu aku langsung mengikatkan tali tambang tadi ke lehernya dan menarik sekuat -kuatnya ke belakang. Kami berdua terjatuh dengan posisi tanganku menarik tali yang mencekik lehernya. Kakiku mendorong bagian pundaknya kebawah. Tangannya mencoba menarik tali di lehernya namun tarikanku terlampau kuat dan mengeras.

“Gurat dahinya mulai terlihat merah dan tangannya meronta-ronta mencoba melepaskan kakiku dari pundaknya. Suaranya mulai serak dan aku melihat lidah mulai terjuntai keluar dari atas.”

Aku memperhatikan dengan seksama.

“tapi dia memiliki pisau lipat di saku belakang celananya.” Lanjutnya lagi. Kemudian aku membuang nafas menghilangkan ketegangan.

Gadis belia di hadapanku ini kembali meminum coklat yang sudah mulai dingin di tangannya. Menghirupnya sebentar dan siap melanjutkan cerita.

“Bima menarik pisau dan merancu dengan sisa nafas di tenggorokannya. Aku mencoba mempertahankan posisi agar dia tetap tertekan hingga… hingga dia kehabisan tenaga. Namun pisaunya sedikit mengenai kakiku dan aku goyah, mengendurkan tekanan pada kaki kiri”

Aku melihat kebawah, kulihat sayatan kecil pada bagian luar pergelangan kaki kirinya. Aku ingin berdiri menggambil perlengkapan p3k tapi dia memegang lenganku menandakan tidak usah repot-repot.

“Lukanya sudah kering. Lagipula bersih diguyur hujan.” Katanya.

Dia menarik nafas panjang dan mulai melanjutkan cerita.

“Bima mulai mendapat kesempatan melonggarkan tali di lehernya. Dan dia memaksimalkan kesempatan itu. Sambil masih dengan sedikit batuk dan nafas ter-engah-engah, Bima meloloskan diri dan berdiri mengacungkan pisaunya padaku. Tapi aku juga berdiri dan cepat mengangkat kursi bekas tempat aku diikat, dan melemparkan ke arahnya.

“Entah aku mendapat kekuatan dari mana, lemparanku cukup kuat dan salah satu kaki kursi mengenai kepalanya, hidungnya patah. Begitu juga salah satu kaki kursi itu. Selagi Bima menjerit keras memegangi hidungnya, aku tak membuang kesempatan dan mengambil salah satu patahan kaki kursi, ku hempaskan pada tangan kanannya yang sedang memegang pisau.

“pisau itu terpental menuju kolong hamparan papan-papan tak terpakai di pojok ruangan. Kini Bima menjerit gantian memegangi tangannya. ‘cewek bangsat!’ katanya keras. Aku sudah bersiap memukul kepalanya setelah itu, tapi ada bunyi pintu yang terbuka dan membuatku sedikit kehilangan fokus. Saat itulah, saat mataku kembali fokus ke Bima, tonjoknya yang begitu kuat menghantam rahangku. Uppercut sempurna untuk seorang gadis sepertiku, aku pun jatuh tak sadarkan diri.”

Aku memperhatikan wajah gadis di hadapanku. Ada sedikit memar biru di rahang bawahnya. Kuusap lembut dengan tangan kananku. Dan tangan kirinya ikut menggenggam tanganku. Sudah tak apa-apa, isyaratnya.

Kemudian kami kembali ke posisi semula dan dia mulai bercerita lagi.

“Saat aku terbangun mungkin sudah larut. Akupun tak tahu, tapi udara dingin sudah mulai merasuk memenuhi ruangan dan cahaya matahari tak terlihat lagi. Lampu gantung yang redup menjadi satu-satunya media yang menyambung penglihatanku dan area sekitar. Masih ruangan yang sama.

“Aku mendengar Bima sepertinya sedang bersitegang di ruang sebelah. Suaranya saling beradu tinggi dengan yang nampaknya lebih dari satu orang. Kupandang sekitar tubuhku yang sedang tegeletak di lantai. Tanganku terikat kebelakang, dan kakiku diikat lebih kencang dari sebelumnya. Posisiku bagai ulat yang menggeliat-geliat.

“Aku mencoba tenang dan bernafas dengan pelan. Hamparan debu beterbangan di sekitar hidungku. Saat itu, aku benar-benar berdoa untuk tidak bersin. Aku melihat dan menyisir area sekitar dengan penglihatan seadanya. Mencoba mencari tau apa yang bisa aku lakukan.

“Terlihat silau cahaya di balik tumpukan papan di pojok ruangan. Pisau yang tadi digunakan Bima masih tergeletak disana. Aku bergeliat sepelan mungkin agar mereka tak mendengar dari ruang sebelah. Untungnya mereka berbicara dengan nada tinggi. Agaknya suara ulat menggeliat yang aku timbulkan tak terjamah telinga mereka.

“Aku miringkan badanku kesamping, kucoba menggapai pisau itu dengan tanganku yang terikat ke belakang. Namun posisi ini membuat aku susah mengendalikan tanganku. Alih-alih mendapatkan pisau itu, aku malah membuatnya makin jauh. Aku berputar, kini miring menghadap tumpukan papan. ku bengkokkan kakiku dan kuselipkan masuk ke dalam tumpukan papan. Sulit sekali menggapai pisau itu, bahkan dengan ukuran kaki sekecil kakiku, dan saat aku hampir mendapatkannya…

“suara tembakan terdengar dari ruang sebelah. Seseorang menjerit dan mengeluarkan segala cacian yang dia punya. Bima tampaknya baik-baik saja dengan suaranya yang paling lantang dan menyuruh dua orang lainnya agar diam dan tidak bergerak. Saat itu aku berpikir, Celaka! Sepertinya bima yang menembakkan senjata.
“aku bergegas meraih pisau dan mengambilnya dengan tanganku. Dengan susah payah aku memotong ikatan di tangan ini,  akhirnya lepas juga. Saat itu sebenarnya aku benar-benar takut. Kurasakan dadaku berdebar kencang. Jika bima sampai datang ke ruangan itu dan melihatku ingin melepaskan diri lagi. Habislah sudah…

“Aku sedikit terbata-bata ingin memotong tali yang mengikat kakiku. Namun suara tembakan lain terdengar dan mereka semua terdiam setelahnya. Aku pikir bima menuju ke ruanganku.

“tanpa pikir panjang, aku kembali ke posisi semula dengan tangan yang tampak bagai masih terikat kebelakang. Pisau ku sembunyikan di balik tanganku dan berpura-pura pingsan.

“tak lama kemudian Bima datang dan nampaknya mondar-mandir di sekitarku. Aku tak tau persis karna masih memejamkan mata berpura-pura pingsan. Kemudian dia menunduk, nafasnya terasa di ubun-ubunku. Untungnya dia tak mendengarkan degupan jantungku.

“Bima membalikkan badanku agar menjadi terletang dan mulai menepuk pipiku bagai tamaparan ringan di kanan dan kiri. Kemudian memegang daguku dan berkata. ‘hey… hey…’ aku masih saja berpura-pura pingsan. ‘shiiiiiiiiit!’15 katanya keras.. aku tau dia menoleh kebelakang saat mengatakan itu karna arah suaranya tidak padaku.

“saat itulah aku mengintip dan memperhatikan dia masih jongkok di hadapanku namun masih melihat ke arah pintu menuju ruang sebelah. Tanpa pikir panjang ku tarik tanganku kedepan dan menyabetkan pisau menancap di lehernya bagian samping. Reflek dan terkejut, tangan kanannya ingin meraih pisau yang masih menancap di lehernya. Namun kakiku yang masih dengan posisi terikat sigap menahan tangannya dengan menjepitnya menggunakan lekukan lututku.

“Tangan kirinya yang masih memegang senjata mengarahkan senjata ke arahku dan langsung tertahan dengan dua tanganku yang lain. Aku menahan tanganya sekuat tenaga menjauhkan mata pistol dari wajahku. Walau sudah tertusuk namun tenaganya masih cukup kuat. Darah mulai mengucur dari leher dan mulutnya. Wajahnya tepat berada di sekitar pundakku. Wajahnya yang memerah melotot ke arahku tanpa mengatakan apapun. Urat lehernya berdegup sekali-dua kali memuncratkan darah ke seragamku. Sampai akhirnya dia lemas dan membuka mulutnya lebar-lebar. Wajahnya benar-benar memerah seakan semua aliran darah mengir kesana. Puncratan darah dari lehernyapun makin kencang. Dan akhirnya pergulatan kami berakhir. 

Gadis di hadapanku berhenti sejenak, seolah mengingat-ingat lagi kejadian itu.

“Bima mati lemas dengan kakiku mengunci tangan kanannya, dan kedua tanganku memegang tangan kirinya.” Lanjutnya lagi.

“Aku menyingkir dari tindihan kepala mayat Bima. Membersihkan debu di muka dan mulutku lalu mengambil pisau dari lehernya untuk memotong tali yang masih mengikat kakiku. Darahnya mengallir dengan deras dan segar. Seketika sekitar lantai menjadi merah kental oleh darah dan debu
.
“aku berdiri dan kuperhatikan tubuh lemahnya yang terkulai. Wajahnya masih merah dengan mulut yang menganga serta mata yang kini sudah tertutup sebagian. Jika dia masih melotot seperti tadi mungkin aku akan takut.

“Kusisir seisi ruangan. Tak ada apapun. Beralih ke ruang sebelah. Aku melihat dua orang… berseragam polisi. Satu orang sudah tak bernyawa dengan lubang di kepalanya dan darah yang juga mengalir deras di sekitar lantai tempat dia terbaring. Mati.

“satu orang lagi bernapas tersengal memegangi perutnya yang tertembak. Dia mencoba menekan darah yang keluar. Namun tampaknya perut buncit itu tak sanggup menahan aliran darah. Dia melihat kearahku, aku yakin nyawanya sudah dipenghujung karna sepertinya ia tak sanggup bicara lagi. Ia mencoba berkata sesuatu tapi tak ku perhatikan. Aku memikirkan hal lain.

“disaat seperti itu, aku berpikir… apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus melapor kepada petugas polisi lain dan mengatakan aku hanya korban yang di culik? Apakah aku bakar saja semua barang bukti bersama tiga mayat ini? atau aku lari saja dan menghilangkan semua jejak yang mengatakan aku berada disini? Berpura-pura bahwa aku tak ada kaitannya.”

Aku memegang daguku sedikit memberikan pendapat, “aku pikir melapor pada polisi dan menjadi korban tak akan berhasil.”

“kenapa?” tanyanya heran.

“orang tua anak itu, orang tua Bima maksudku. Adalah orang yang cukup berpengaruh di kota ini. orang seperti mereka tidak akan sedih ketika melihat anaknya mati dengan mengenaskan. Mereka akan marah. Sudah jelas setelah itu, mereka akan mencari orang lain untuk di salahkan. Dalam kasus ini, hanya kau yang tersisa.” Kataku sambil menoleh menatapnya.

“membakar tempat kejadian perkara juga tidak akan bagus. Menurutku…” kataku lagi

Gadis itu masih memperhatikanku.

“Jika polisi mendapati anggota mereka terbunuh disana bersama seorang yang lain. Dan mereka semua mati terpanggang. Mereka akan tau ada orang lain di lokasi, yang masih hidup dan tidak ikut terbakar disana. Lagi pula dimana kau akan mendapatkan bahan untuk membakar mereka.”
Gadis itu mengangguk-angguk meng-iyakan teoriku. Kemudian ia melanjutkan cerita…

“setelah semua itu, aku bergegas ke ruang tempat mayat Bima tergeletak dan mengambil bekas tali yang di gunakan untuk mengikatku. Pisau itu juga ku ambil dan ku usap-usap gagangnya dengan pakaianku yang sangat lusuh. Menghilangkan sidik jari. Kemudian aku letakkan pisau itu ke tangan seorang polisi yang sudah tak sadarkan diri, yang tadi masih memegangi perutnya yang berlubang. Kini tangannya memegang pisau yang aku gunakan menikam leher Bima.

“aku melihat sekitar ruangan. Dua orang mati dan yang satu akan menyusul. Entah apa yang dilakukan kedua polisi ini dengan Bima, namun aku yakin bukanlah sesuatu yang baik. Setelah kurasa tak ada yang tertinggal untuk meniadakan keberadaanku di sana bersama mereka. Aku pergi meninggalkan gubuk itu.

“tempatnya sungguh jauh. Sebenarnya ada satu buah mobil dan satu buah sepeda motor yang parkir di depan gubuk, kepemilikan Bima dan dua orang polisi itu kurasa, tapi aku tak mungkin menggunakannya. Karna aku tak ingin terlibat dan membuat seolah aku tak berada di sana.

“setelah sekitar satu jam berjalan di jalan setapak, aku menemukan jalan besar beraspal yang aku kenal daerahnya. Tempat itu agak dekat bandara.”

“Maksudmu di area dekat sini?” kataku memotong. Karena area rumahku masih dekat dengan bandara, walau tak terlalu dekat. Intinya masih di pinggiran kota.

Dia mengangguk. “aku ingin segera keluar namun pakaianku tidak memungkinkan. Dan masih banyak sekali kendaraan mondar-mandir. Jadi aku menunggu di balik semak-semak hingga malam benar-benar larut. Dan untungnya, hujan pun turun…

“saat hujan benar-benar deras, aku berlari menuju jalanan aspal dengan sangat cepat. Aku tak pernah berhenti sampai memasuki jalan menuju komplek rumahmu.” Katanya berhenti dan melihatku tajam. “kemudian tanpa aku sadari, aku sudah berdiri di teras rumahmu.” Katanya dengan tatapan tak bersalah ke wajahku.

Anak ini baru saja menghabisi nyawa seseorang dan masih bisa memamerkan wajah seperti itu. Tapi bukannya takut, aku malah tersipu dengan tawa sambil mengusap-usap rambutnya.

Aku berdiri dan memperhatikan pakaian basahnya yang menumpuk dengan pakaian kotor lainnya, masih terlihat bekas darah disana yang bercampur dan menyebar menjadikan baju putihnya sedikit menjadi pink.

“dimana tasmu?” tanyaku.
“di perpustakaan” katanya.

Aku menatapnya heran dengan alis sebelah kiri yang naik sebelah, perpustakaan?

“aku sudah sebulan tidak tinggal bersama tante dan tinggal di perpustakaan sekolah.” katanya santai.

Aku menuju kamar tempat pakaian kotornya di letakkan. Aku perhatikan, tak ada bagian yang robek. Disebelahnya ada tali yang juga sedikit terkena bercak darah. Setelah agak lama melamun, sinar mentari pagi menembus jendela dan mengenai wajahku. Dan akupun teringat. Darah… bercak darahnya.

Aku melihat ke arah sayatan kecil pada pergelangan kaki gadis belia itu. Kami masih belum tau apa hubungan dua oknum polisi yang mati dengan Bima, mungkin masalah narkotika? Jika sampai ada oknum lain yang terlibat, ini akan terlalu beresiko. Cepat atau lambat pasti akan di adakan investigasi, mereka akan mengetahui bahwa Gadis belia ini dekat dengan Bima, saat mereka melihat luka kecil itu, bisa jadi mereka akan mencari becak darah di lokasi kejadian dan mencocokannya. Atau lebih parah lagi, oknum lain yang terlibat masalah dengan Bima akan memburu gadis ini agar tak ada saksi yang bisa di mintai keterangan. Gawat.

“apakah kau tak punya barang lain untuk di bawa?” kataku.

“dibawa?” katanya bertanya heran.

Aku melemparkan jaket tebal padanya dan memakai jaket pula. Mengambil sedikit pakaian, arloji, penutup wajah, topi, dompet, handphone, laptop, charger. Dan menggandeng tangannya menuju mobil (yang juga belum lunas kreditnya).

“kita harus pergi sekarang. Sebelum ada yang menemukan mayat mereka.” Kataku singkat.

Kami melaju ke utara. Jauh… Jauh sekali tanpa menoleh ke belakang.

Bersambung…

Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.

Contributors