Stories and Sh*t

Sunday, December 30, 2018

Namanya adalah... (7)


CHAPTER 7. NAMANYA ADALAH…

Present day…16

Aku gemetar memegang tangan gadis belia yang tertidur pulas di pelukanku. Kami berada di belantaran hutan Aceh. Dengan api unggun kecil di depanku. Entah tepatnya di mana akupun tak tau. Untunglah tiga hari ini tak mendung apalagi hujan. Pakaian yang kami kenakan sudah lusuh dan bekal air hampir habis. Seharian ini bahkan kami sudah tidak makan lagi kecuali buah apapun yang bisa kami temui disepanjang rimbunnya pepohonan.

Setahun lalu, setelah kejadian nahas yang disebabkan gadis yang aku peluk sekarang. Kami berlari ke arah utara. Terus hingga ujung jalan dan tak ada daratan lagi. hingga akhirnya kami sampai pada sebuah titik dengan pantai dan barisan pohon yang indah. Kosong… pantai indah itu hampir tak memiliki pengunjung.

 Kami mampir ke sebuah Desa kecil di kecamatan Peureulak, Aceh Utara. Daerahnya masih asri dan orang-orangnya… cukup ramah. Tidak ada turis dengan kutang dan g-string di sepanjang bibir pantai. Malahan banyak berdiri Dayah atau sering kita sebut pesantren di sekitaran pantai dan pedesaan. Daerah ini jauh sekali dari hiruk pikuk kota.

Dengan sedikit susah payah dan kebohongan, kami mulai menetap dan membangun hidup disana. Kami menjual mobil dengan surat sebelah, dan mendirikan rumah. Memakai nama lain, dan hidup bertetangga dengan baik. Aku sempat menjadi nelayang untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya menemukan pekerjaan lain yang sesuai kemampuanku, mengajar. Untuk setahun penuh, kami masih menjadi sepasang suami istri dan merasakan surga.

Sampai seminggu lalu. Tiga orang bersenjata akhirnya menemukan kami. Bukan polisi sepertinya. Aku tak tau mengapa mereka bisa mencari kami segetol ini. Apakah ada sesuatu yang mereka cari? Entahlah, karna aku tak bisa mencari tau atau bernegosisasi. Mereka telah membunuh pak Fauzi, tetangga terdekat kami dan sekalian keluarganya. Semua, tak ada yang bersisa.

Kami kabur dengan sepeda motor hingga kehabisan bensin dan harus mencacah belantara hutan. Sampai saat inipun, sepertinya mereka masih mengejar.

Aku susun nafas dengan tenang. Aku memperhatikan sekeliling dengan seksama. Hari mulai gelap dan nyamuk mulai merajalela. Kau tak akan tahan dengan puluhan bahkan ratusan nyamuk yang menyedot darahmu sekaligus, maka api unggun adalah sebuah keharusan. Namun api unggun sangat beresiko. Seseorang bisa saja menemukan kami dari jauh.

Aku perhatikan gadis belia yang seminggu lalu masih kusebut sebagai istri. Wajahnya kotor. Namun tetap cantik. Ia mengenakan kemeja motif garis, kemejaku.. yang tampak kebesaran namun membuatnya tampak seksi. Bawahannya celana cinos panjang. di desa itu, wanita tak diperkenankan memakai jeans. pakaianya kumal dan kakinya terlihat bengkak. Sudah berhari-hari kami menjajaki hutan tanpa alas kaki. Rambut panjangnya terurai menutupi dahinya. Berantakan. Tapi tetap saja, cantik. Kurasa aku sudah mulai kehilangan akal sehatku.

Aku melamun, apa yang akan kami lakukan jika kami bisa lolos dari situasi ini. Mungkin, aku ingin hidup benar-benar terpisah dari dunia. Bagaimana jika hidup di pesisir pantai lain yang benar-benar tidak berpenghuni. Atau mungkin, hidup di tengah kota membangun keluarga. Toh terkadang keramaian adalah tempat persembunyian paling sempurna. Kemana kami akan pergi, Jakarta? Surabaya? Makassar? Tidak… jika ingin keramaian, mungkin kami harus pergi ke belahan dunia lain. New york? Tokyo? Hahaha… aku mulai tertawa sendiri. Aku benar-benar kehilangan akal sehat.

Gadisku terbangun.

“aku ingin buang air kecil” katanya.

Kemudian ia berdiri dan mengambil mandau atau parang panjang yang kami gunakan untuk membuka jalan beberapa hari ini menyusur hutan. Menghilang di tengah rerimbunan gelap. Hari mulai malam. Dan aku menambahkan beberapa kayu bakar pada api di depanku. Semilir angin malam terasa dingin. Berada di bawah pepohonan serindang ini membuat kami harus memakai pakaian ekstra berlapis saat tidur. Untunglah kami sempat membawanya.

Beberapa menit berlalu, dia masih belum juga kembali. Apa yang terjadi? Aku mulai berpikir yang tidak-tidak.

Benar saja. Tak lama setelah itu aku mendengar suara keributan obrolan gerombolan laki-laki yang pelan tapi pasti, mendekat ke arahku. Cepat kuambil sisa air pada wadah minum kami dan menyiramkannya pada api. Padam. Kakiku mengacak-acak bekas perapian agar asapnya tidak menggumpal dan memberikan tanda. Aku menundukkan badan dan memosisikan diri tiarap di tanah.

Kupeluk tas ransel kami dan kubenamkan tubuhku diantara semak-semak di bawah pohon besar yang tadi kami jadikan sandaran tidur. Langkah-langkah kaki mulai terdengar berjalan mendekat. Tiga orang lelaki berbadan besar di atas rata-rata. Mungkin tingginya berkisar 185 sampai 190 cm. mereka semua sepantar dan berbadan kekar. Apa ini, perawakan mereka seperti pasukan khusus. Bukan polisi, apalagi preman.

Mereka menyisir area sekitar api unggun menggunakan senter. Posisiku masih aman, sepertinya mereka tak memperhatikan arahku. Salah seorang dari mereka memegang bekas api unggun dan mengusap-usapnya menggunakan telapak tangan. Kemudian memperhatikan sekitar. Aku manahan nafas, lalu mengeluarkannya selambat mungkin. Menariknya lagi perlahan, lalu menahannya lagi.

Mengapa hutan sepertinya berpihak pada mereka. Saat mereka mulai melihat-lihat area sekeliling dengan seksama, suara jangkrik spontan berhenti seolah mereka pun takut pada gerombolan orang ini.

Tiba-tiba aku merasakan tengkuk leherku di cengkeram dari belakang. Mereka mendapatkanku… salah seorang dari mereka mengangkat tubuhku ke udara bak mencekikku dari belakang. Aku hanya terdiam walau agak terkejut. Mau apa lagi, apa yang bisa kulakukan.

Diangkatnya aku dengan posisi membelakanginya. Kakiku melayang di udara. Ransel di pelukanku terlepas dan aku memegangi tangan yang menarik leherku, berusaha mengurangi tegangan yang di rasakan tengkuk leher. Dua orang yang lain menoleh dan melihat ke arahku. Mereka mengarahkan senter ke wajahku seperti mencari tau. Tidak satupun dari mereka bicara.

Ceklek. Aku merasakan sesuatu yang keras menekan bagian belakang kepalaku. Sepertinya ia menekankan senjata api.

“dimana perempuan itu anak muda?”  akhirnya salah seorang bicara, orang  yang sedang menodongkan pistolnya padaku.

Aku diam saja. Entah apa yang bisa kulakukan di saat seperti itu. Dua orang lain di hadapanku mulai mendekat dan berdiri berkecak pinggang memperhatikan. Salah seorang dari mereka tersenyum geli. Dengan situasi yang mungkin di ujung ajalku, anehnya bahkan jantungku pun tak berdegup terlalu kencang.

Orang itu menekankan pistolnya lebih kencang, memintaku segera mengeluarkan suara. Aku bisa merasakan mereka bertiga melihat ke arahku memperhatikan dengan seksama. Lalu gerakan pelan di belakang kepalaku mengisyaratkan dia siap menarik pelatuk senjata apinya. Perlahan… aku bisa mendengar suara gesekan tangannya yang sebentar lagi akan meledakkan tengkorak kepalaku. Atau paling tidak memberikan lubang yang cukup besar. Aku menarik nafas dalam-dalam.

Saat aku mulai memejamkan mata dan siap merasakan kematian itu datang…

Crootttt.. hempasan keras terasa mengalir di belakangku. Aku terjatuh secara tiba-tiba terlungkup di tanah. Baru saja ku buka wajahku menoleh ke arah dua orang di hadapanku. Suara tembakan peluru menghujam ke pundak salah satu dari mereka. “aaarrrrrhhhh” katanya menjerit memegang pundaknya yang sedikit terserempet peluru.

“Jangan bergerak!” suara lantang seorang perempuan dari belakang. Dua lelaki besar di hadapanku mematung dan melihat penuh benci kepada perempuan itu. Gadisku. Disana dia berdiri tegak, kemejanya yang kebesaran kembali di nodai bercak darah, begitu juga punggungku. Aku melihat seorang yang mati seketika di sebelahku, sebilah parang masih melekat di kepalanya, membelah sebagian otaknya yang nyaris terlihat jelas.

“eeerrmmmmmhhhh” salah seorang laki-laki menggeram kesakitan memegang pundaknya. Darah mengalir menyelip melalui jari-jari besarnya.

Aku cepat-cepat berdiri dan mengepakkan sisa tanah dan rumput di pakaianku. Mendekati mayat di sebelahku dan mencabut parang yang melekat di kepalanya, ku gesek kanan kiri sisi parang pada pakaian mayat itu dan membuatnya bersih kembali dari bekas darah serta sebagian cairan yang mungkin saja otaknya.

Kami berdiri berhadap-hadapan di tengah remang kegelapan rimba. Cahaya bulan yang lumayan terang menerobos dahan-dahan dan menyajikan pemandangan yang indah. Beberapa kunang-kunang juga beterbangan mengelilingi tempat kami berdiri. Perlahan tapi pasti, area ini menjadi terang dengan wajah-wajah kami yang terlihat jelas. Momen ini akan menjadi sangat romantis jika saja tak ada darah disana-sini, juga mayat, juga senjata, juga empat orang yang berdiri bersitegang satu sama lain.

calm down, ok..”17 kata salah seorang dari mereka. “we can talk about this.”18 Lelaki itu maju mendekat dan tangannya mengarah ke depan menandakan agar kami tenang. Wajahnya terlihat jelas kini, bejanggut tebal. Warnanya kekuningan. Kulitnya putih seperti keturunan bule, tapi aku tau dia masih warga pribumi. Aksennya.

Pria yang satu lagi berdiri dengan masih mengikat bahunya dengan seuntai kain. dia merobek  lengan bajunya sendiri. Kulitnya coklat menuju hitam, wajahnya mulus tanpa bulu dan rambutnya juga botak.

“jangan bergerak!” sekali lagi gadis di sebelahku berteriak. “DOR!!!” Kemudian ia menembakkan senjata ke udara. Dan mengacungkannya pada dua lelaki itu lagi. aku pun mulai mengacungkan parang di genggamanku pada mereka.

Bukannya takut, mereka berdua malah saling melihat satu sama lain dan tertawa.
Kemudian mereka mengalihkan pandangan pada kami dan berkata… “matilah kalian sekarang.” Secara perlahan dan mulai mendekat pada kami.

Gadis di sebelahku mengecek sejata yang di pegangnya, dan kemudian mencoba menembak ke arah mereka. “Cklek.. cklek” pelurunya sudah habis. Dia melotot dan melihat ke arahku.

“Lari!” kataku berteriak.

Ia pun melemparkan senjata tadi dan berlari secepatnya menerobos remang rimba. Menghilang di balik semak belukar.

Dua lelaki berbadan besar tadi mencoba mengejarnya, namun belum sempat melewatiku parang panjang melesat di hadapan mereka, salah langkah maka dada mereka robek cukup dalam. Seorang yang botak dan bahunya terluka sudah berdiri tegak dan mengambil sebilah pisau dari tas kecil di bagian paha celananya. Seorang yang berjanggut tebal di hadapanku melihat ke arah gadis tadi berlari. Dan memundurkan langkahnya sedikit.

knock it off dude19 kata seorang yang botak sambil maju memainkan pisau miliknya. Cukup besar, pisau itu bisa menyayat kulit babi sekalipun. “menyingkir atau ma…”

“swousssshhh” aku ayunkan lagi parangku ke hadapannya. Jika ia bersikeras maju maka akan aku kerahkan serangan tak beraturan yang sering aku tonton di televisi. Apapun  itu. Aku hanya mengulur waktu selama mungkin. Mungkin saat ini juga adalah saat terakhirku. Aku tak peduli.

Si lelaki berjanggut menghembuskan nafas dan menggaruk dagunya yang penuh rambut. Kemudian ia melihat kearah lelaki botak dan menggunakan isyarat mata. Aku masih memperhatikan setiap gerak mereka untuk berjaga-jaga jika saja mereka melakukan serangan dadakan.

Benar saja, sepersekian detik setelahnya lelaki botak itu melemparkan pisaunya padaku. Aku yang sangat fokus memperhatikan mereka bisa menghindarinya dengan melompat ke samping. Pisaunya merancau saja dengan arah tak beraturan menuju semak belukar, hilang.

Namun ternyata pisau itu memang tak pernah dimaksudkan untuk mengenaiku.

Saat aku fokus untuk menghindari lemparan pisau, lelaki berjanggut tadi juga langsung melompat ke arahku. Tangan kirinya yang cukup panjang mampu menggapai pergelangan tangan kananku yang memegang parang, tanganku sudah terkunci. Tangan kirinya mencekik leherku dan sekali lagi, kakiku melayang tak menapak tanah. Kali ini, jantungku berdegup amat kecang dan tubuhku kejang-kejang.
Tangan kiriku mencoba memukul wajahnya sekuat tenaga. “bukkk!” keras sekali bunyinya. Tapi hanya mampu menolehkan wajahnya ke samping. Yang ada dia makin garang dan beringas. Di ayunkannya aku ke bawah, tanganku di hempaskan dengan tekukan lututnya yang melayang ke atas. “ kreteekkk” aku bisa merasakan sedikit bagian tulang lengan kananku patah.

“arrrrrrrrgggggghhhhhh” kataku menjerit tertahan. Tangan kananku lemas dan melepaskan parang yang ku pegang. Tak lama kemudian di ayunkan tubuhku sangat kencang, terpental dan menghempas secara horizontal ke arah batang pohon besar tempat ku bersandar beberapa saat lalu. Terjatuh kebawah meninggalkan suara keras ranting-ranting kecil yang patah tertimpa badanku.

Kemudian ia datang lagi dengan cepat, kaki besarnya menendang perutku. Sampai aku memuntahkan air dengan jumlah yang sangat banyak. Aku tebatuk terbata-bata merungkuk melingkarkan badanku menahan sakit di perut dan lengan kananku. Belum habis aku membuang satu tarikan nafas, tangannya mencengkeram kerah bajuku, mengangkatku sedikit menjadi posisi  berdiri beralaskan lutut. Aku masih mampu melihat ke arahnya.

Sesaat kemudian dia berjongkok dengan tangan kirinya masih mencengkeram kerah bajuku, tangan kanannya melayangkan tinju ke arah wajahku, aku berusaha menepis dengan tangan kiri. Bukan tertepis, tangan kiriku kalah kuat dan ikut menghantam membuat wajahku bonyok. Pelipis kiri di atas mataku sudah berlinang darah segar. Tanganku lemas di kanan maupun di kiri. Mata kiriku bengkak tak dapat melihat dengan jelas. Penglihatanku mulai kabur.. aku hampir jatuh pingsan.

Namun sekali lagi hantaman kepal tinjunya yang besar menerpa wajahku, tanpa perlindungan apapun. Tersentak ke belakang. Hidungku remuk. Darah mengalir keluar dari balik kulit hidungku. Ditariknya lagi kerah bajuku ke depan, di tinjunya lagi. dan sekali lagi..

Aku terkulai lemas menghadap tanah. Tangan kiri lelaki berjenggot tebal itu masih menahanku agar tidak jatuh ke tanah. Meremas daguku dan menatapku yang sudah hampir hilang kesadaran.
now what?”20 katanya. Sekali lagi tinjunya menghantam. Kali ini perutku, lebih keras dari tendangannya yang tadi. Aku bisa merasa bagai isi perutku ingin keluar semua. Darah segar muncrat dari mulutku.

Aku terkulai lemah. Tak mampu lagi melihat ke arah mereka. Terlungkup di tanah lembab dan daun-daun kering. Wajahku mengarah ke samping. Pandanganku samar melihat dedaunan yang kering… beberapa semut kecil melintas di hadapanku. Cahaya kunang mulai memudar seperti melihat cahaya di tempat jauh. Pandanganku perlahan menjadi gelap.

Aku masih bisa merasakan nyeri pada perut, tangan, punggung, mata, dan hidungku. Saat udara masuk melalui lubang hidungpun membuat nyerinya terasa. Bau rerumputan dan daun kering perlahan memenuhi hidung, merasuk ke otakku. Lembabnya tanah dan dinginya malam menjalar lewat kulitku. Semilir angin menerpa rambutku. Perlahan… bunyi jangkrik terdengar kembali memenuhi malam. Aneh… dalam keadaan yang sudah setengah sadar. Aku bisa mendengar suara-suara nun jauh di sana. Tupai yang baru pulang ke rumah pohonnya. Burung Hantu yang baru membuka matanya. Kadal yang berlari seliweran melintas kesana-kemari. Ular yang melata pelan tapi pasti, melintas pohon melalui dahan, ranting demi ranting. Kemudian suara itu. Suara derap kaki yang walaupun lelah dan membengkak, tetap berlari, berlari sejauh mungkin menerpa dedaunan dan duri-duri, menerpa dinginnya malam. Berkilo meter dari sini. Pergilah jauh… larilah sejauh mungkin. Gadisku.

***

Saat aku merasa nyawaku sudah di ujung tenggorokan.

“pyarrr” aku terbangun!

Sakit dan nyeri di hidung serta mata kiriku tearasa lagi. makin nyeri diterpa air dingin di malam hari. Aku bernafas tersengal. Terbatuk-batuk. Sesaat lalu aku berpikir telah mati. Darah segar di hidungku yang mengering mulai keluar lagi. Bau anyir menjalar diterpa angin. Anyir darahku sendiri. Aku merasakan perutku yang masih sakit, juga sekujur tubuhku yang lain.

Lengan kananku sudah menunjukkan gejala bengkak dan membiru. Kedua tanganku diikat seuntai tali dan dilingkarkan pada tiang kecil yang menjadi penyanggah tenda tempat aku berada sekarang.

Dihadapanku, terdapat seorang pria berkisar 40-an, yang duduk dikursi lipat dan sedikit membungkuk ke arahku. Matanya sipit, tapi bukan cina, karna kulitnya sawo matang sepertiku. Lebih seperti orang jepang. Rambutnya cepak dan sudah beruban sebagian di daerah samping, atau entah itu hanya sebagai style saja.

“hey.. hey..” katanya menjentikkan jarinya di hadapanku. Aku memandangnya dengan bingung.

boy.. oh boy… apa yang sudah kau lakukan anak muda. Kau pikir kau seorang pahlawan?” katanya lagi berkata santai sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dekat sekali hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya.

Aku mundur sedikit bersiap kalau-kalau dia akan melayangkan pukulan seperti yang barusaja kurasakan sebelum pingsan.

Kemudian dia mundur lagi dengan posisi duduk normal.

“oke, kita langsung saja. Dimana perempuan jalang itu” katanya mendekat lagi. kali ini tangannya menjambak rambutku. Dijambakknya ke belakang sehingga memposisikan aku yang mendongak ke atas. Diterpa silaunya lampu emergency berbaterai yang di gantungkan di bagian atas tenda. Aku mengatur nafasku dan sedikit menyipitkan mata.

look man21, apapun yang kau cari dari si Bima itu. Kami tak mengambilnya.” Kataku lirih. Tidak, aku tidak selemas itu. Tapi aku harus mengirit tenaga yang ku pakai seminimal mungkin. Kalau-kalau saja tuhan bebaik hati mengirimkan salah satu malaikatnya padaku malam ini. aku masih bisa lolos dari situasi terburuk yang pernah ku alami seumur hidupku.

“he?” katanya heran. Wajahnya menunjukkan mimik bingung dan menoleh ke belakang. Melihat kepada dua orang yang hampir menghabisi nyawaku tadi, si berewok dan si botak. Mereka juga mengangkat bahunya dan menggelengkan kepala. Pertanda mereka tak mengerti.

“gadis itu…” lanjutku lagi “hanya berada di tempat dan waktu yang salah. Aku tak tau apa yang kalian cari… dan apa hubungan kalian dengan Bima dan dua orang polisi yang mati itu, tapi dia tidak berada disana untuk ikut campur. Dia hanya korban.” Kataku meyakinkan mereka.

Pria itu melihat ke arahku dengan tatapan curiga kemudian berkata… “oke, lanjutkan.” Katanya.

“dia di culik oleh Bima, mereka memang cukup dekat. Dia tidak tau bahwa Bima memiliki urusan dengan polisi di sana. Yang dia lakukan hanyalah melarikan diri, dan saat dia melarikan diri, dia tanpa sengaja membunuh Bima. Oh ya, dan dua orang polisi itu… Bima yang membunuh mereka, dia tak melakukan apapun. Dia bahkan tak mengetahui soal transaksi apapun yang sebenarnya kalian lakukan. Dia hanya seorang gadis yang ketakutan dan melarikan diri.” Kataku sambil terengah-engah.

Aku tak mengharapkan mereka percaya dan begitusaja melepaskanku. Walau bagaimanapun, tampaknya nyawaku sudah tekunci mati di tenda ini. atau di luar sekitar tenda ini. Namun setidaknya, gadisku bisa terbebas dari kejaran mereka. Karna yang kukatakan memang benar adanya.

Pria itu kemudian berdiri sebentar dan memakai sarung tangan hitam. Lalu mengambil sebilah pistol dari bagian belakang celananya. Kemudian duduk lagi, sambil menggarukkan moncong pistol itu di area sekitar hidungnya. Dia, bersiap menembakku.

say boy…” katanya ringan. “who’s that girl’s name?” 22

“eh?” Aku menoleh bingung…

that girl you protect with your life.23 Katanya mendekat lagi padaku. “what. Is. Her. Name?”24

Aku makin bingung dan berkata lirih.. “Li…”

“kau pikir namanya Lisa?” katanya. “hahahahaha” dia tertawa terbahak-bahak “kalau begini jelas kau tak berhuga buat kami”. Kemudian menoleh ke arah si berewok dan si botak. Mereka juga ikut tertawa. Meninggalkan aku yang kebingungan sendiri di antara mereka.

“aku kasihan padamu nak. Kau tau… paling tidak kau akan mengetahui kebenaran sebelum kau mati.” Dia menyilangkan kakinya dan membuat pose duduk santai. Meletakkan dua tangannya yang masih memegang pistol di pangkuan. Dan mulai bercerita.

“gadis yang kau lindungi itu, namanya bukan Lisa. Bukan juga Afifah… nama yang kalian buat untuk dia gunakan setahun terakhir bukan?” dia tersenyum tipis.”kami tak kenal siapa itu Bima. Kami tak punya urusan dengannya. Entah apa yang di ceritakan jalang itu kepadamu. cuiihhhh” Katanya merasa sangat tidak senang dan membuang liurnya dengan keras.

“dia… adalah bagian dari kami. Dia adalah salah satu anggota organisasi kami yang aktif beroperasi sejak dia masuk SMA tempatmu mengajar dulu. Ku beri tahu, orang tuanya yang mati itu… bahkan bukan orang tua aslinya. Mereka hanya orang bayaran yang tidak akur. Hahahaha…” dia membuang nafas sebentar. “tapi akhirnya kami membunuh mereka karna mereka selalu membuat kebisingan dan membuat kami riskan untuk di perhatikan.”

“dalam kasus si Bumi atau siapalah anak yang kau sebutkan tadi… kau tau, harusnya dua polisi itu menemui dia disana. Bukan anak yang mati itu, tapi menemui gadis jalang itu disana untuk mengambil barang yang sudah kami titipkan padanya. Sesuatu yang sangat berharga, untuk melancarkan bisnis kami di Palembang. Tapi tebak apa… mereka semua mati.

“hahahaha… menggelikan sekali, saat kau bilang dia hanya korban yang berada di empat dan waktu yang salah. Lihatlah keadaanmu saat ini… aku rasa deskripsi itu lebih tepat untukmu. Hahahaha” dia masih tertawa lantang.

Namun aku sudah tidak memperhatikan. Bodohnya aku. Sejak awal aku mengenalnya di perpustakaan waktu itu, aku sudah menyadari dia tampak jauh lebih dewasa untuk ukuran gadis seusianya. Bukan… aku tak meragukan usianya. Tapi ketenangannya, cara dia bertingkah… dia jelas seseorang yang memiliki pengalaman hidup jauh di atas mereka yang biasanya seusia itu.

Aku terlalu acuh… aku juga terlalu senang saat kisahnya bercampur dengan kisahku. Merasakan petualangan yang mendebarkan. Memberikan kesan yang tak pernah bisa aku lupakan, aku tidak memikirkan sedetikpun… kamungkinan bahwa mungkin semua itu hanya sebuah kisah buatan. Suatu kebohongan yang di karang olehnya, dan menjadi fantasi nyata untukku.

Bahkan nama aslinyapun aku tak tau. kosong… aku benar-benar tak mengetahui apapun.

Pria itu berdiri dan mengarahkan senjatanya kepadaku. Mengokangnya sekali dan bersiap menarik pelatuk. Ia memandang kasihan kepadaku.

say… old man.”25 Kataku dengan tampang nanar. “what is her name?”

Dia tersenyum tipis sambil meletakkan mocong pistolnya di jidatku.

“Namanya adalah…”

“DOR!”


Bersambung...
Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.

Contributors

Blog Archive