Stories and Sh*t

Sunday, December 30, 2018

Namanya adalah... (8)


CHAPTER 8. DUO

“DOR!” suara tembakan terdengar dari luar tenda. “DOR!” “DOR!” terdengar lagi dua suara tembakan secara beruntun. “aaaaaahhhhh…! Tolooooong!” suara jeritan mengiringi. Kemudian sunyi.

Pria jepang itu melotot pada kedua anak buahnya dan mengisyaratkan mereka untuk keluar memastikan situasi. Sementara ia sudah berpindah posisi ke belakangku dan mengacungkan moncong pistolnya pada kepalaku. Bukan yang pertama kalinya, aku tak terlalu terkejut.

Sebelum dua pengawalnya itu keluar tenda. Seorang wanita dengan postur sangat tinggi lebih dulu memasuki tenda dengan sedikit menundukan kepalanya di bagian pintu. Oh my… akupun terkejut dengan posturnya. Wajahnya putih dengan mata tanpa kelopak ganda, oriental. Rambutnya hitam panjang di ikat ke belakang. Badannya sedikit berotot, cukup berotot untuk ukuran seorang wanita. Dan yang paling membuat takjub, tingginya. Lebih tinggi dari si berewok dan si botak. Kepalanya bahkan menyentuh kain bagian atas tenda. Mungkin sampai dua meter?

Akihilo?” wanita itu berkata dan mendongakkan kepalanya padaku.

Aku melihatnya tanpa ekspresi. Si berewok dan si botak  melihat kebelakang pada pria jepang yang masih berlindung jongkok di belakangku.

the fuck you see dumbass, get rid of that bloody women!”26 katanya menjerit.

Wanita berpostur besar itu sedikit memiringkan kepalanya gantian melihat pria jepang di belakangku. “anta… akihilo?”27 katanya santai tidak memperhatikan si berewok dan si botak yang siaga dengan kuda-kuda tempur mereka.

fuck I don’t have time for this shit!”28 kata pria jepang di belakangku sambil berdiri dan mengalihkan arah pistolnya. Tangannya menjulur kedepan tepat di atas kepalaku mengarahkan pistol pada wanita itu.

“Sretttt..” sebilah pisau kecil menembus tenda dan melaju keluar lagi, memotong pergelangan tangan si pria jepang.“ouch!” Pistol itu terjatuh tepat di depanku. Kakiku cepat menyeretnya kearahku mengamankan dari si berewok dan si botak. Aku menoleh ke atas sedikit ke bagian belakang memastikan apa yang terjadi pada pria jepang itu. Tangan kanannya memegangi pergelangan tangan kiri yang berlumur darah.

“aaaaaaarrrrrhhh” dia menjerit hebat seolah baru merasakan kesakitan yang tertunda.

Sementara wanita besar itu sudah mencekik si berewok sampai kakinya terangkat dari tanah. Persis seperti yang dilakukan si berewok itu padaku sebelumnya. Si botak mencoba menendang kaki wanita itu. Tidak ada hasil. Kemudian ia berbalik mengambil kursi lipat yang tadi menjadi tempat duduk pria jepang yang kini masih mengerang kesakitan.

Diayunkan kursi itu sekuat tenaga oleh si botak. Namun wanita itu bergerak cepat dan menangkap ayunan kursi. Kini gantian wanita itu yang mengayunkannya… si pria botak tadi ikut terayun dan terhempas keluar tenda.

Belum sempat berdiri, seorang pria dengan postur kecil dan gerakan lincah melompat menaiki si botak dan menancapkan sebilah pisau ke bagian samping kepalanya. Begitu cepat dan kuat tekanan pisaunya hingga mampu menembus tengkorak si botak. Ditariknya lagi kemudian di tancapkan ke lehernya. Kemudian ia melompat turun. Meninggalkan si botak yang yang masih kejang-kejang berjalan golang-galing bagai ayam yang baru saja disembelih. Pria berpostur kecil itu ikut masuk ke dalam tenda.

Si berewok terjatuh saat wanita tadi selesai mencekik dan melepaskan cengkraman di lehernya. Mati. Lehernya membiru dan sekujur mukanya sangat merah. Lidahnya terjulur dan matanya melotot melihat ke atas. Pemandangan yang sangat mengejutkan. Tinggallah aku dengan pria Jepang ini. yang mencoba mendekat padaku untuk mengambil pistolnya kembali.

“swussh” “crout” sebilah pisau kecil melayang dan menancap tepat di paha pria jepang itu. Didikuti jeritan dan makiannya yang keras sekali…”kuso!”29 katanya. Ia terjatuh dan terduduk dengan kaki menjulur kedepan “Anta wa  dare!”30 lanjutnya masih sambil memegangi pergelangan tangan kirinya yang belum berhenti berdarah.

Pria kecil itu mendekat padanya dan menancapkan pisau kecil lain pada paha satunya lagi… “aaaarrrrrrhhhhhh” pria jepang itu kembali menjerit keras.

“pake bahasa Indonesia aja makanya bangsat! Gua ga ngerti!” kata pria kecil itu.

“tolong… siapapun kalian. Akan kuberikan apapun… jangan bunuh aku. Tolong…” kata pria Jepang itu memohon. Dua pisau masih tertancap di pahanya. Sedikit saja bergerak pasti akan terasa nyeri sekali, belum lagi tangannya yang masih mengeluarkan darah segar. Mukanya berubah drastis dibandingkan saat ia mengintrogasiku beberapa saat lalu. Kini, usianya terlihat bagai 60 tahun.

“kau, akihiro bukan?” kata pria kecil itu menanyai si jepang. Pria kecil itu mengecek  kantong blazer yang di kenakan oleh si pria jepang, kemudian mengambil sebuah handphone dari sana. “iya bukan?” tanyanya sekali lagi.
“ya. Iya..” kata pria jepang itu. “siapapun kalian. Mungkin aku pernah melakukan hal buruk pada kalian. Tapi aku hanya menjalankan perintah. Aku hanya bawahan. Tolong… tolong ampuni nyawaku.” Katanya masih memelas.

“aku tau.” kata pria kecil itu santai sambil mengantongi hp yang diambilnya dari si pria jepang. Ia kemudian berdiri dan mendekatiku. Tanganku yang masih terikat pada tiang tenda mengambil pistol yang ada di bawah kakiku dan mengarahkan padanya.

“jangan mendekat!” kataku.

“santai bro.” kata pria kecil itu. Ia mengeluarkan sebatang rokok dan kemulian menyulutnya. Menghisapnya sebentar… kemudian dia berjongkok di hadapanku tanpa memperhatikan aku yang masih mengacungkan pistol padanya. Ia mengeluarkan sebilah pisau kecil lain dari banyak kantong pisau di pinggangnya. Kemudian melepaskan ikatan pada tanganku. “kau Rio kan?” katanya.

“bagaimana kau tau namaku?” tanyaku.

“ntar aja cerinya, ada mobil van di jalan setapak yang jaraknya setengah jam perjalanan dari sini” kemudian ia membantuku berdiri dan mengambil pistol yang ada di tanganku. Aku yang sudah lemas pun hanya melepaskannya saja. “masih kuat jalan ?” katanya lagi. aku hanya mengangguk.

Ia kembali menoleh ke arah pria jepang tadi. Wajah pria jepang itu masih memohon untuk nyawanya. Ketakutan.

“pak tua.. kau tau kan, aku tak mungkin membiarkanmu hidup. Pilihanmu hanya dua, mati memalukan atau mati terhormat.” Kata si pria kecil sambil melemparkan sebilah pisau yang agak besar kali ini.

Pria jepang itu tertegun dan melihat ke arah pisau yang di ada di hadapannya. Kemudian ia menangis perlahan.. “nooo..” “noooo…31 katanya. Namun ia masih mengambil pisau itu dan terus memandanginya. Memegangnya dengan kedua tangannya.

Tak berapa saat, pria jepang itu menjerit “Die bitch!”32 dan malah melemparkan pisaunya ke arah si pria kecil, namun pria kecil ini terlalu sigap dan lincah. Ia menangkapnya dengan satu tangan.  Rokok di mulutnya bahkan tidak terjatuh.

Ia mengambil rokok dari mulutnya dengan tangan yang lain. “ kau ingin membunuhku dengan pisauku sendiri? Hahaha” kata pria kecil itu tertawa. “lo pikir lo siapa, bangsat!” Ia kemudian berjalan keluar tenda sambil memberiku isyarat untuk mengikutinya.

Tak berapa lama setelah itu, kami mulai berjalan menyusuri pinggiran hutan menuju mobil van mereka, dua orang penyelamatku yang bahkan belum aku tau namanya. Meninggalkan sebuah tenda yang terbakar dengan dua mayat dan satu orang calon mayat di dalamnya.

Hari hampir pagi saat kami sampai di depan mobil van yang ternyata cukup besar. Gurat-gurat sinar matahari sudah muncul di kaki langit bagian timur. Gemuruh kokok ayam kate menggema mendominasi mengalahkan cuitan burung-burung dan suara jangkrik mulai menghilang. Embun pagi terasa menyegarkan menyentuh kulitku yang sudah hampir mati rasa.

Aku membuka pintu geser bagian samping van tersebut, disitu kulihat seorang gadis tergeletak menyamping terkulai lemas. Bajunya masih sama dengan banyak bercak darah di sana sini. Rambutnya terurai kumal dan tangannya memiliki banyak goresan kecil. Kakinya benar-benar membengkak dan penuh luka di bagian telapaknya.

Ia tersadar dan menoleh ke arahku. Matanya nanar, ber-air. Bibirnya yang merah bagai ingin mengucapkan banyak hal namun tak mampu.  Kemudian ia dengan payah mendorong tubuhnya untuk bangkit dan mendekat ke arahku.. lalu memelukku erat. Menangis. Tanpa mengatakan apapun.

Untuk pertama kalinya aku melihat gadis di pelukanku ini menangis. Empat tahun sejak aku pertama bertemu gadis ini, setahun penuh aku hidup berdua dengannya. dan aku masih belum mengetahui apa-apa.


Bersambung...
Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.