Stories and Sh*t

Sunday, December 30, 2018

Namanya adalah... (9)


CHAPTER 9. EPILOG

Hai. Namaku Rio, penulis cerita ini. Aku adalah seorang lelaki yang ber-profesi sebagai nelayan di salah satu bibir pantai Provinsi Aceh. Aku tinggal disebuah rumah yang tak akan pernah selesai proses pembangunannya. Mungkin puluhan tahun lagi. Walaupun aku menyukai sebagian kisah hidupku yang lurus-lurus saja, tidak dapat dipungkiri, akhirnya petualangan itu datang juga.

Seorang gadis muncul di hadapanku membawa segelintir kisah hidupnya di masa lalu. Mengajakku pergi menuju masa depan tanpa kepastian. Dia adalah seorang yatim piatu yang sedari kecil dilatih untuk menjadi mata-mata oleh organisasi kriminal asal Jepang. Pada usia 16 tahun ia menjalankan tugas besarnya dari Jakarta menuju Palembang untuk proses ekspansi bisnis narkotika yang lebih besar.

Selama disana ia ditampung oleh dua orang bayaran yang memalsukan identitasnya menjadi anak mereka. Memulai hidup barunya menjadi anak SMA. Ia memberikan informasi apapun kepada organisasi kriminal tersebut untuk membantu melancarkan jalan bisnis mereka di kota itu. Semua berjalan lancar saja… hingga akhirnya masa tugasnya hampir usai.

Gadis muda itu merasakan juga yang namanya cinta, walau ia tak terlalu mengerti. Namun saat membayangkan dirinya akan kembali pulang ke Jakarta setelah tamat SMA, hatinya sakit. Ia tak akan pernah bertemu lagi dengan guru favoritnya. Yang walaupun selama ini hanya mengisi waktu bercakap ringan, tak pernah memberikan pandangan penghakiman. Kata-katanya selalu santai dan memberikan jalan keluar. Aku pun tak sadar, apa aku benar begitu? Tapi aku tak perduli, karna aku juga menyukainya.

Maka ia merencanakan malam itu, malam dimana ia harusnya mengantarkan “upah keamanan” berupa berlian besar bersinar berwarna merah muda, pada dua orang oknum polisi yang juga sudah ia kenal sebelumnya. Bima, yang menjadi pelindungnya di kalangan remaja saat itu ikut serta, karna rupanya, anak kecil itu juga menjadi salah satu pengedar di area sekolahnya.

Ia merencanakan semua. Kematian tiga orang itu, termasuk keputusanku untuk mengajaknya melarikan diripun sudah dia perkirakan. Sebegitu kenal dia padaku hingga mampu memprediksi keputusanku. Sebaliknya, aku tak mengenalnya sama sekali.

Setahun setelah rencananya sukses. Ternyata organisasi itu cukup besar dan mampu mencari kami hingga ke wilayah terpencil sekalipun. Semuanya akan menjadi fatal jika saja Tuhan tidak berbaik hati mempertemukan kami dengan dua orang yang baru saja aku kenal.

Adalah Ismail dan Aera, yang satu berbadan kecil dan super lincah serta mahir dengan pisaunya. Satu lagi berbadan besar dan amat kuat. Ismail berasal dar kota Jakarta, dan Aera adalah orang Korea. Bukan, bukan korea yang punya banyak produksi film drama itu.

Bagaimana mereka  bertemu dan apa yang terjadi pada mereka, itu akan menjadi kisah tersendiri. Namun yang pasti mereka memang sudah mengincar organisasi yang sama yang sedang mengejar kami saat ini. betapa sebuah kebetulan yang terencanakan oleh tangan Tuhan ketika mereka mengikuti tiga orang yang mengejar kami hingga ke pelosok hutan. Mereka menunggu hingga Akihiro, salah satu orang yang cukup berpengaruh menampakkan batang hidungnya, dan mendadak memberikan serangan mematikan. Menyelamatkan nyawaku yang sudah tiga kali hampir melayang jauh, malam itu.

Aku bebaring terlentang menatap langit-langit rumah kami yang tak memiliki pelafon. Rangka bangunan terlihat jelas hingga ke bagian atap yang terbuat dari nyiur. Kupegang, kemudian ku pandangi berlian sebesar ibu jari di tanganku. Indah.. kamudian kuletakkan di meja samping ranjang. Namun tidak seindah gadisku yang sedang terbaring menyamping melihat ke arahku, di ranjang dengan kasur busa yang sama.

Aku pun ikut berbaring menyamping menghadap padanya. Ku ulurkan tanganku pelan mengusap pipinya. Ibu jariku mengusap pelan menuju bibirnya yang merah. Wajahnya terlihat cerah dengan senyum manis yang indah. Tidak lagi datar seperti dulu. Perlahan aku mendekat. Lalu memberikan kecupan hangat. Lama sekali.

Namaku Rio, dan nama gadisku adalah Lisa, kami tinggal di salah satu bibir pantai Provinsi Aceh. Setidaknya untuk saat ini. Mungkin esok namaku adalah Abdullah dan namanya Maimunah, kemudian kami tinggal di Tokyo dengan hiruk-pikuk yang menyesakkan. Siapa yang tau.

Kisah ini berakhir disini. Atau setidaknya untuk saat ini. Entahlah… seperti yang kukatakan. Siapa yang tau.

Sampai jumpa.

Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.