Stories and Sh*t

Tuesday, November 26, 2019

The Log

EPISODE 1


Aku berdiri di ujung tebing. Mencari ujung dunia di balik cakrawala. Melihat di kejauhan tempat mentari mulai terbenam. Di bawah tebing sudah mulai dirayapi gelap. Perlahan namun pasti gelap itu merayap dan menggapai ke arahku juga. Disini, di atas tebing.
Share:

Saturday, August 24, 2019

cepat datang


Ada  masa dimana sebuah senyum saja bisa membuat bahagia sepekan penuh
Ada masa dimana rindu menyiksa lebih dari digigit lebah
Ada masa dimana duduk berdua dalam diam lebih nikmat dari gombal termanis
Ada masa dimana cemburu membuat mati rasa hingga ke ulu hari, seakan tak apa mati hari ini
Ada masa ketika cinta datang membawa sedikit rasa, namun mendalam
Tapi bukan saat ini.
Share:

Thursday, April 18, 2019

Ini dan Itu part 1




Semua orang memiliki keraguan. Beberapa menyangkalnya, beberapa terlalu melebihkannya, namun… semua orang punya. Ada yang mengabaikannya, menjaga hatinya pada semua yang pasti. Ada yang menantangnya, memasuki pertempuran dalam sebuah pencarian kepastian. Memastikan ia hilang selamanya, dan menjadikan keyakinan itu lebih kuat dari sebelumnya.

Rio, ragu untuk saat ini. ia sudah berulang kali menahan sore dengan perut keroncongan. Tak tertahan pula bagaimana letihnya perjalanan pulang kampus dengan berjalan kaki. Rumah  kosnya cukup jauh, lokasi kampus sendiri sangat besar sehingga untuk keluar pelatarannya saja memakan waktu 10 hingga 15 menit. Belum lagi berjalan menuju kos dengan jalan berdebu tanpa trotoar, di saat terik.

Ia menggenggam uang receh. Seratus, dua ratus, dan lima ratus-an rupiah. Jumlahnya kira-kira tujuh ribu rupiah. Sudah ia rapikan dengan selotip, dan di atur per seribu rupiah. 3 ribu untuk uang seratusan rupiah, seribu untuk uang dua ratusan rupiah, dan tiga ribu untuk uang lima ratusan rupiah. Pas tujuh ribu. Namun ia ragu.

Share:

Sunday, February 24, 2019

MEI



MEI

Jarak antara kota Palembang dan Jambi adalah 275 km. Namun itu hanya antar perbatasannya saja. Untuk mencapai tujuan masing-masing tempat di dalam kota, setidaknya kita harus menempuh 290 km. Ya, 290 km.

Jika kita melaju dengan kendaraan berkecepatan rata-rata 60 km/ jam, kita setidaknya akan sampai dalam waktu 4,83 jam. Oke bulatkan saja 5 jam. Jika mengambil waktu istirahat sekiranya 1 jam, maka kita akan sampai dalam waktu 6 jam. Belum lagi hal lain.

Hal lain? Ya, hal lain. Seperti jalan yang rusak. Saat ini, jalan rusak pada rute lintas sumatera Palembang-Jambi mungkin sudah mencapai puncaknya. Membuat pengendara harus senantiasa berhati-hati karna nyawa taruhannya. Mau tidak mau, kecepatan rata-rata harus berkurang karena terkadang… bukan, bukan terkadang, namun sering kali kita memelankan laju kendaraan secara tiba-tiba karna lubang besar yang mengerikan. Belum lagi masalah lanjutan yang mengikuti jalan rusak ini. Macet, juga kecelakaan lalu lintas. Oke… kita minimalkan saja, anggaplah bertambah 2 jam karena semerawutnya masalah jalan rusak ini. Kini, waktu tempuh menjadi 8 jam.

Apakah ada hal lain lagi? ya… cuaca. Terkadang cerah memang… namun kasusnya dalam cerita ini begitu berbeda. Lebih dari 200 km harus ditempuh dengan hujan lebat, gemuruh, angin, dan petir menyambar. Jarak pandang berkurang… terkadang hanya 10 meter ke depan walau sudah menggunakan lampu tembak. Jalan yang tergenangpun membuat sulit menerka dimana letak lubang besar itu? sesekali roda harus tergoyah sedikit… termasuk kedalam lubang. kini dengan sangat terpaksa harus memelankan laju kendaraan lagi lebih dari sebelumnya, begitu pelan hingga tak sampai 40 km/ jam. Sepanjang perjalanan hanya Tuhan dan kata-kata baik yang kita ingat. Waktu tempuh? Sudah tak tau lagi. tidak usah dihitung… yang penting sampai tujuan dengan selamat, nanti dulu yang lain-lain.

Lalu, ada apa dengan Mei? Yang menjadi judul pada tulisan satu ini. Yang mengaku bahwa dirinya adalah sebuah “cerpen romansa”. Ya… ini adalah cerpen romansa, jika kau bisa melihat isinya. Jika tidak, ya sudahlah… biar aku terangkan saja.

Begini, ini adalah Februari, sudah di penghujungnya. Dan ini, adalah cerita tentangnya. Tentang dia yang bergerak menuju Mei. Mei… adalah tujuannya. Jauh memang, ada jarak antara mereka. Bukan hanya jarak karena bumi ini memiliki batasannya dalam satuan matematis, namun juga jarak-jarak lainnya.

Ada juga waktu yang mengekang untuk sampai dengan harus, dan benar-benar harus… tidak dapat dipungkiri, dihindari, atau dikecualikan, harus melewati Maret dan April. Bukan main… bukan satu atau dua, tapi 61 hari. Dengan waktu dalam hitungan jam yang bisa kau hitung sendiri. Kau pikir itu singkat? Sebentar? Maka kau belum mengerti romansa. Karena dalam cerita tentang cinta, satu detik… bisa selamanya.

Ada juga rintangan diantaranya, diantara jarak dan waktu… ada jalan berlobang, ada macet yang menghadang dan kecelakaan yang semoga saja bukan kita korbannya. Belum lagi panas atau hujan yang dua-duanya bisa sama-sama menorehkan keterlambatan, dan penundaan. Membuat kita yang lambat terkadang menyerah untuk bertanding. Ambil jalan pintas saja… naik pesawat kan bisa? Mahal… dan tanpa perjuangan. Hanya mengadu pada nasib, jika di ridhoi Tuhan maka sampailah. Jika tidak, maka sampai juga, tapi ke alam baka. Dan tidak, itu tidak akan menyelesaikan masalah… karna hanya memangkas jarak, bukan waktu. Hanya jarak bentuk fisik pula, bukan jarak-jarak lainnya yang mungkin lebih penting.

Apalah daya Februari, yang bahkan tak pernah kenal hari ke 30. Apa daya?

Namun begitu, seberapapun jarak yang harus ditempuh… Seberapapun lama waktu yang dibutuhkan… dan seberat apapun rintangan yang ada diantara keduanya. Toh… pada akhirnya, Februari akan sampai pada Mei juga.

Share:

Monday, January 14, 2019

APA IYA?


APA IYA?



Saya tinggal terpisah dari keluarga saya sudah sejak waktu yang lama dan untuk banyak alasan tertentu. Tahun 2013, keluarga saya pindah ke tempat dimana jangankan sinyal internet, sinyal untuk telfon saja harus mencari spot yang bagus supaya bisa bicara dengan nyaman dan tanpa terputus-putus. Lebaran tahun 2013 adalah pertama kalinya saya mudik kesana, dan saya benar-benar stress memikirkan bagaimana saya harus menjauh dari internet untuk sementara waktu. Apa yang harus saya lakukan disana nanti dan bagaimana saya bisa menghabiskan kebosanan jika hanya ada televisi dan… suara-suara nyamang (sejenis monyet).

Saya benar-benar stress dan mulai mencari bagaimana cara membuat hotspot portable dengan sebatang modem murah dan baskom plastik bekas. Iya. dan itu ada.

Padahal, saat saya stress dan memikirkan hal itu, saya masih menggenggam hp, berhadapan dengan laptop, dan memiliki koneksi internet. Kok ya saya sempet-sempetnya stress ya, buat apa? Apa iya hidup tanpa internet sementara waktu akan membuat saya stress? Lebih stress dari saat ini? saat saya memikirkan bahwa saya akan stress? Lucu.
 
You know what? Kalo Anda sudah terbiasa bermain medsos setiap hari dan mendapat begitu banyak informasi, lalu Anda beralih ke tempat jangankan untuk bermain media sosial, bermain tetris di hp pun tidak, maka Anda akan dilanda kebosanan yang luar biasa. Itu pasti. Saya juga demikian. Setidaknya untuk beberapa waktu.

Tapi poin pentingnya, saya tidak stress. It suck. Jelas. Bosan… jelas. Rindu kota? Iya. Tapi apakah saya stress? Tidak.

Ternyata hanya dengan mengakui bahwa sesuatu tidak menyenangkan dan tidak kita sukai, kita tidak akan dilanda pikiran yang macam-macam. Apa lagi stress. Dengan begini saya sedikitnya mengerti, bahwa bukan kesulitan yang banyak membunuh karakter saya atau mungkin juga Anda, tapi kecemasan akan kesulitan tersebut.

Selalu tanyakan pada diri Anda, apa iya?

Seorang pelajar mendatangi guru BK kesayangannya dan mengadu tentang bagaimana orang tuanya memiliki ambisi yang besar padanya, padahal dia sendiri tidak yakin pada dirinya. Pelajar itu, memiliki pandangan yang berbeda tentang masa depannya. Ia ingin menjadi ini dan itu, banyak sekali ceritanya, selayaknya remaja usia 17-an.

Kisah keluh kesahnya berlanjut hingga berminggu-minggu lamanya. Tentang ia yang merasa tertekan akan sikap orang tuanya, tentang teman-temannya yang sudah mulai mengejar mimpi mereka masing-masing, dan tentang dia yang masih terbelenggu belajar untuk sesuatu yang menurutnya tidak disukainya sama sekali.

Kemudian guru BK itu bertanya, dia ingin jadi apa?
Dia menjawab, ingin menjadi artis. Minimal, youtuber.

I know right?hmmmmmm…

Yang jadi masalah disini bukan cita-cita si pelajar, tapi bagaimana dia memandang keinginannya tersebut. Apa iya dia ingin jadi youtuber? Atau dia ingin jadi seperti seseorang yang sering ia tonton di youtube? Karna faktanya, sebenarnya nilai pelajar tersebut sangat baik dalam biang akademis. Akan sangat wajar jika orang tuanya berharap padanya. Sungguh. Dia bisa terbilang jenius.

Selidik punya selidik, ternyata sebenarnya si pelajar bukan ingin jadi youtuber atau yang lainnya. Ia hanya takut gagal. Setelah semua keberhasilan selama ini, ia takut jika suatu saat ada nilai jelek, atau ia tak masuk perguruan tinggi favorite, atau ia tak lulus Ujian Nasional dengan nilai memuaskan, ia takut melihat reaksi orang-orang di sekitarnya. Dia cemas.

Padahal dengan semua kemampuan dan pengetahuannya selama ini, jikapun dia gagal, kegagalan itu tidak akan melemahkan dia. Justru akan memperkuat. Bayangkan… jika seorang hanya memiliki sedikit kelemahan di bidang tertentu dan akhirnya dia mengetahui kelemahan itu dan memperbaikinya. Maka ia akan makin kuat dan sukses di bidang tersebut.

Tidak terbayangkan jika kecemasan itu semakin mengambil alih kesadaran dan membunuh karakternya. Ia bahkan sampai lupa, bahwa sebenarnya ia suka belajar. Suka mencari tau hal baru, suka menyelesaikan masalah. Kemudian ia mulai mendapat nilai jelek secara sengaja, hanya agar orang terbiasa melihat ia memiliki nilai jelek, dan suatu saat jika ia gagal, orang-orang tidak akan kaget lagi. padahal dia bisa sukses.

Harusnya, ia terima saja apapun yang akan ia dapat kelak. Pertama, ia harus mengakui bahwa memang benar ia suka belajar dan memang benar dia suka berkerja keras kemudian mendapatkan nilai yang baik. Kedua, jangan pikirkan tentang hasil. Toh… sebenarnya dari awal dia memang suka mengerjakan soal matematika atau fisika yang njelimet, kerjakan saja. Ketiga, jangan lakukan untuk orang lain. Jika memang suka akui, jika tidak, katakan saja… tidak akan apa-apa.

Nah… untuk kasus si pelajar di atas, ini masalah kecemasan yang membuat ia teralihkan. Ia mulai fokus pada hal lain selain hal yang ia sukai. Ia fokus tentang bagaimana penilaian orang lain terhadapnya. Kemudian ia mencari pelarian, suatu alasan yang membuat ia menghindari resiko jika saja ia gagal suatu hari nanti. Kalau ada yang bertanya, “kok tumben nilaimu kecil?” . maka ia sudah menyiapkan jawaban… “iya karna sebenarnya bukan passion aku disitu.” Dengan seluruh upaya repotnya tadi. Padahal sebenarnya ia bisa bilang… “sekali-sekali gapapalah.” Atau saat ia tak lulus PTN favorite, ia masih bisa mencoba tahun depan. Atau masuk lewat jalur lainnya, atau masuk PTS favorite, atau masuk sekolah kedinasan, untuk otaknya… ada banyak opsi. Dan itu tidak apa-apa. Namun ia takut kegagalan itu… padahal sebenarnya, ia menyukai jika saja memang sukses di jalan tersebut. Jangan takut! lakukan saja... Jika gagal, terima dan move on.

Pernah dengar kisah katak tuli yang sukses mendaki? Kalau belum bacalah… di era kekejaman netizen seperti sekarang ini, kalian wajib membaca dongeng itu.

Tapi bagaimana jika ia benar bercita-cita menjadi youtuber?

Tentu itu tidak apa-apa. Ia harus mengatakanya. Tapi ingat sekali lagi, jika Anda berada pada posisi pelajar tersebut, selalu tanyakan pada diri Anda… Apa iya?

Karena semua jalan memiliki resikonya masing-masing. Jangan melihat hasil dan jangan menjadi orang lain. Jika memang ingin jadi youtuber, sudah siapkah jika Anda gagal di jalan tersebut? Membuat konten dengan budget jutaan rupiah dan hanya di tonton puluhan orang (misalnya). Jika Anda kembali memikirkan tentang bagaimana nanti pendapat orang lain jika saya tidak memiliki banyak view dan kapan saya bisa terkenal seperti bla… bla… bla… maka Anda perlu berhenti sejenak dan berfikir ulang tentang goal anda sebenarnya, apa iya ini jalan yang Anda inginkan? Atau hanya sekedar pelarian? Atau hanya ingin seperti si anu?

Gary Vay-Ner-Chuk, seorang entrepreneur, investor, dan salah satu influencer dengan jutaan follower pernah mengatakan yang artinya kurang-lebih begini… “sukses pada suatu hal berarti gagal jutaan kali dalam hal tersebut”. Artinya… kesuksesan itu bukan sebuah akhir, namun perjalanan panjang dari kegagalan satu ke kegagalan lainnya. Jika Anda takut gagal, cemas akan hal tersebut, itu sama saja Anda takut sukses.

Bukan berarti menerima kegagalan itu mudah… saya juga sama seperti Anda, dan si pelajar tadi. Malahan saya menulis ini karna saya memiliki keresahan pada suatu hal yang sama, bagaimana jika saya gagal?

Tapi toh… pada akhirnya kita harus belajar menyongsong kegagalan bersama-sama. Semakin sering kita menghindar dan mengindahkan rasa cemas tersebut secara berlebihan, semakin jauh kita dari tujuan dan keinginan kita semula. Kita akan semakin tersesat tentang cita-cita dan mulai bingung, sebenarnya apa yang kita sukai, apa yang kita ingin lakukan. Padahal jawabannya ada di depan mata, kita hanya tinggal belajar menerima, jika saja suatu saat kegagalan menghampiri.

Rasa cemas itu pasti akan selalu ada, tapi tidak akan apa-apa, jalani saja. Ayo… kita bersama-sama gagal, ayo kita bersama-sama mengakuinya dan tetap Semangaaattttt!!!!

Widiwww…..

Share:
Powered by Blogger.

Contributors