Stories and Sh*t

Thursday, April 18, 2019

Ini dan Itu part 1




Semua orang memiliki keraguan. Beberapa menyangkalnya, beberapa terlalu melebihkannya, namun… semua orang punya. Ada yang mengabaikannya, menjaga hatinya pada semua yang pasti. Ada yang menantangnya, memasuki pertempuran dalam sebuah pencarian kepastian. Memastikan ia hilang selamanya, dan menjadikan keyakinan itu lebih kuat dari sebelumnya.

Rio, ragu untuk saat ini. ia sudah berulang kali menahan sore dengan perut keroncongan. Tak tertahan pula bagaimana letihnya perjalanan pulang kampus dengan berjalan kaki. Rumah  kosnya cukup jauh, lokasi kampus sendiri sangat besar sehingga untuk keluar pelatarannya saja memakan waktu 10 hingga 15 menit. Belum lagi berjalan menuju kos dengan jalan berdebu tanpa trotoar, di saat terik.

Ia menggenggam uang receh. Seratus, dua ratus, dan lima ratus-an rupiah. Jumlahnya kira-kira tujuh ribu rupiah. Sudah ia rapikan dengan selotip, dan di atur per seribu rupiah. 3 ribu untuk uang seratusan rupiah, seribu untuk uang dua ratusan rupiah, dan tiga ribu untuk uang lima ratusan rupiah. Pas tujuh ribu. Namun ia ragu.

Rio bingung akan di apakan uang itu, karna itulah satu-satunya uang yang tersisa padanya saat ini. beasiswa bidikmisinya masih harus menunggu sebulan lagi, perutnya keroncongan, dan sebuah flashdisk berisi tugas harus di print saat itu juga. Nilainya sudah di ambang batas semester lalu, hampir saja menghapuskan beasiswanya. Jika tidak mengerjakan tugas ini, ia yakin akan mendapat nilai buruk, paling tidak pada satu mata kuliah ini saja.

Tapi sumber utama nilai buruk semester lalu adalah kesehatannya. Ia mengalami sakit kuning tepat pada akhir perkuliahan. Sialnya, Rio bahkan tak mampu pergi ke dokter untuk memeriksakan diri lebih lanjut. Ia hanya pergi ke puskesmas dan hanya mampu mengusahakan surat sakit selama tiga hari, dan di perpanjang satu minggu atas pengertian para dosen yang sudah cukup mengerti kondisinya. Tapi tak semua orang mengerti, dan ia memang tak menaruh harapan pada pengertian orang lain.

Rio sadar ia tak akan mampu menyelamatkan semua nilainya semester lalu maka ia cukup memaksimalkan yang mampu ia maksimalkan, dan benar-benar meninggalkan semua yang lain dari harapannya, toh… ujung-ujungnya akan diulang. Benar saja, rentetan nilai yang ia dapat untuk tujuh mata kuliah semester lalu adalah… A, A, C, C, D, E, dan E. Biarlah… katanya dalam hati. Dua C akan ia lahap saja, cukup mengulang D, E, E, pada semester genap berikutnya.

Kembali pada kebingungannya saat ini, atau tidak lagi. Ia sudah memutuskan untuk membeli sebungkus nasi padang saja, dan memang Rio sudah berdiri di salah satu warung nasi padang di dekat kosnya. Masalahnya, ada terlalu banyak orang. Ia masih punya rasa malu yang besar untuk membeli makanan dengan bentuk uang yang seperti itu. Ada banyak mahasiswa lain, dan beberapa diantara mereka adalah adik tingkatnya.
Rio tidak mengetahui tempat lain yang menjual nasi perkedel. Mungkin nasi telur dan itupun harganya mencapai delapan ribu rupiah. Uangnya kurang. Warung nasi padang di hadapannya adalah satu-satunya tempat yang ia tau, yang dapat menolongnya saat ini. Rio bisa menunggu  hingga orang-orang yang dikenalnya cabut dari warung itu, tapi perutnya tak dapat menunggu lagi.

Rio berpikir cepat. Ia memalingkan langkahnya menuju minimarket terdekat untuk menukarkan uang recehnya menjadi pecahan uang kertas. Namun lagi, sialnya a mengintip minimarket itu terlalu ramai, kali ini bukan karena malu, tapi ia akan mengantri cukup lama untuk menukarkan uangnya. Sungguh… perutnya tak dapat menunggu lagi.

Nyeri mulai terasa di perutnya saat Rio kembali memalingkan arah kakinya dari minimarket itu. Ia pernah terkena radang lambung sejak kecil karna terlalu banyak makan mi instan. Kini, ia tak boleh terlalu lapar, atau terlalu kenyang. Dan ia lapar sekali.

Di persimpangan antara jalan besar dan lorong kosnya, Rio menghampiri seorang ibu-ibu yang menjual gorengan, ia memberikan semua uang receh yang di genggamnya. Entah bakal dapat berapa. Namun penjual itu menolak uang receh seratusan dan dua ratusan miliknya, sempat terperanga memang, tapi akhirnya Rio hanya tersenyum dan menerima uangnya kembali. Biarlah…

Lima buah tahu isi dengan ukuran yang… lumayan.  Itulah yang didapatkan dari uang tiga ribu rupiah miliknya. Rio memakannya dengan lahap sembari berjalan menuju kosnya. Ada kursi santai yang entah sudah ada sejak kapan di teras kos itu, sesampainya di sana Rio langsung duduk santai di atasnya sambil memakan sisa tiga buah lagi tahu isi, dua buah sudah ia makan di perjalanan.

Sambil makan, rio menatap langit yang cerah dari pelataran kos. Angin semilir mengguyur wajahnya. Air mukanya nampak bahagia sekali, namun entah mengapa tanpa ia sadari, sesuatu mengalir di pipinya. Matanya perlahan melihat langit yang mulai terbias air mata. Ahh… tahu isi di mulutnya terasa enak sekali. Setidaknya, Rio tak meragukan rasanya.

Ia rindu Ibu di rumah.

Share:

0 comments:

Post a Comment

at least, tell me your name to respond your coments, thanks.

Powered by Blogger.

Contributors